Tim Red Velvet, Antara Angka dan Bisnis
Enam mahasiswi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia yang tergabung dalam tim Red Velvet meraih predikat Most Innovative Team pada Institute of Chartered Accountants in England and Wales Greater China and South-East Asia Virtual Business Challenge 2021. Dalam kompetisi regional itu, mereka menganalisis kasus perhotelan Thailand dan merumuskan strategi operasional selama pandemi, termasuk integrasi layanan hotel dengan sistem kesehatan dan penggunaan health tracker. Berlatih intensif sebelum lomba, tim ini mengasah kemampuan problem solving, manajemen waktu, dan presentasi. Mereka belajar bahwa akuntansi tak sekadar angka, tetapi kunci pengambilan keputusan strategis bisnis.
*****
Berjibaku dengan angka sambil menganalisis bisnis dan mempersiapkan presentasi tidak mudah dikerjakan dalam waktu singkat. Namun, enam mahasiswi berhasil melakukannya. Di bawah nama tim Red Velvet, mereka mengharumkan nama Indonesia dalam sebuah kompetisi akuntansi tingkat regional.
Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) menggelar ICAEW Greater China and South-East Asia Virtual Business Challenge (GCSEABC) 2021 pada 22 Mei 2021. ICAEW adalah organisasi akuntan profesional dan siswa yang dibentuk di Britania Raya sejak tahun 1880.
Dalam kompetisi itu, 11 tim bersaing untuk merebut Regional Grand Championship, yakni 10 tim dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam, dan China serta satu tim all-star alias tim dengan anggota dari perwakilan lima negara itu. Singapura menjadi pemenang pertama, sedangkan tim Red Velvet dari Indonesia berhasil menjadi pemenang kedua atau tim paling inovatif (Most Innovative Team).
Tim Red Velvet terdiri dari Ainun Nisa Fitri (21), Ariel Andhamari (20), Catherine Kurniawan (21), Maria Elvira (20), Michelle Candra (20), dan Ruth Brenda Paulina (21). Mereka adalah mahasiswi Program Sarjana Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Sebelum melaju ke GCSEABC, tim Red Velvet telah menjadi pemenang kedua dalam ICAEW Indonesia Business Challenge (IBC) 2021, April lalu.
Saat berkompetisi di GCSEABC, setiap tim diberi waktu selama 90 menit untuk meneliti, menganalisis kasus bisnis, dan memberikan rekomendasi. Mereka kemudian harus melakukan presentasi kepada panel juri yang merupakan eksekutif senior serta pemimpin bisnis di bidang akuntansi, bisnis, dan profesi keuangan.
”Kami saat itu mendapat kasus tentang sektor perhotelan di Thailand. Masalah yang dihadapi itu real time, yaitu bagaimana kami harus menyusun strategi agar (kegiatan) operasional hotel bisa maksimal dan pemasukan stabil selama pandemi,” kata Ariel dalam wawancara virtual dari Jakarta, Kamis (24/6/2021).
Tim Red Velvet menawarkan beberapa solusi untuk mengatasi kasus itu. Dari sisi peningkatan turis, misalnya, mereka mengusulkan inovasi dalam sistem sehingga mengintegrasikan layanan hotel dengan medis. Kesehatan turis bisa terjamin sejak tiba di bandara sampai hotel.
Mereka juga mengusulkan inovasi lain, seperti penggunaan semacam health tracker agar hotel dan pemerintah setempat bisa mendeteksi turis yang sakit. ”Kami berusaha agar kami memberi ide tidak tanpa konteks sehingga bisa diimplementasikan dan hotel mendapat keuntungan,” ujar Ariel.
Partisipasi tim Red Velvet dalam kompetisi ICAEW dimulai saat Ariel, Catherine, dan Maria ingin menjajal lebih jauh kemampuan di dunia akuntansi sejak awal tahun. Ainun, Ruth, dan Michelle tak lama bergabung. Ainun akhirnya menjadi ketua tim yang namanya terinspirasi dari grup K-pop Red Velvet ini.
Untuk mempersiapkan tantangan yang akan dihadapi, tim Red Velvet berlatih secara konsisten dengan mengerjakan kasus sebelum mulai berkompetisi. ”Itu bisa sepuluh kali latihan karena kami ingin memantapkan keahlian problem solving dan membuat jalan pikiran anggota yang berbeda menjadi bersinergi,” kata Michelle.
Kebiasaaan itu berlanjut sampai ketika mereka melaju ke kompetisi ICAEW tingkat regional. Dibantu dosen dan lainnya, hasil latihan itu terlihat saat kompetisi berlangsung. Tim ini dengan mudah membagi-bagi tugas dan waktu tanpa merasa panik atas keterbatasan waktu.
Belajar banyak
Berkompetisi di tingkat regional memberi tim Red Velvet pelajaran tentang manajemen waktu, inovasi, berpikir solutif dan out of the box, serta analisis berdasarkan fakta di bawah tekanan. Mereka juga belajar bahwa akuntansi tidak hanya angka, tetapi bagian penting dari bisnis secara keseluruhan.
”Selama ini, kami biasanya mengerjakan business case dalam waktu mingguan atau bulanan. Kali ini kami bisa langsung merekomendasikan solusi menarik berdasarkan analisis makro, industri, dan detail perusahaan dari segi finansial kepada petinggi C-Level,” ujar Michelle.
Ainun mengatakan, kompetisi ini mempertajam keterampilan berpikir strategis, bekerja dalam tim, dan keterampilan presentasi. Mereka juga bisa mendapatkan wawasan dari pengalaman para juri yang merupakan ahli di bidangnya.
ICAEW Greater China and South-East Asia Virtual Business Challenge (GCSEABC) bertujuan untuk memberikan gambaran sekilas tentang dunia bisnis dan keuangan kepada para mahasiswa. Dalam siaran pers, Managing Director International ICAEW Mark Billington menyatakan, semua juri terkesan dengan kemampuan para mahasiswa dalam menyampaikan rekomendasi bisnis yang menarik.
”Kami senang kompetisi ini dapat menjadi platform penting yang membantu mahasiswa mengasah ketajaman bisnis mereka, melatih pemikiran kritis, keterampilan analisis, dan juga menunjukkan kepemimpinan mereka. Saya percaya kita telah menyaksikan generasi pemimpin bisnis berikutnya hari ini,” tutur Billington.
Sumber: Kompas edisi 27 Juni 2021 di halaman 6 dengan judul “Tim Red Velvet, Antara Angka dan Bisnis “.
Leave a Reply