Wawan, Kepala Sekolah Luar Biasa

Wawan (46) telah mengabdikan diri selama 22 tahun di dunia pendidikan anak berkebutuhan khusus sebagai terapis, guru, hingga kepala sekolah. Saat pandemi Covid-19, ia menghadapi tantangan besar pembelajaran daring bagi siswa difabel netra di SLB Negeri A Pajajaran, Bandung. Bersama guru dan siswa, Wawan memilih aplikasi TeamTalk yang berbasis audio agar lebih adaptif. Upaya ini terbukti efektif dan digunakan mayoritas siswa. Ketertarikan Wawan pada pendidikan luar biasa berawal sejak SMA dan berlanjut hingga merintis SLB serta mengadvokasi pendidikan inklusif. Ia gigih menentang stigma terhadap disabilitas dan memperjuangkan akses setara hingga perguruan tinggi, membuktikan bahwa siswa berkebutuhan khusus mampu berprestasi seperti siswa lainnya.

*****

Sudah 22 tahun Wawan (46) mengabdikan diri bagi pendidikan anak berkebutuhan khusus, mulai dari sebagai  fasilitator terapi, guru, hingga kepala sekolah. Ia tidak lelah mengedukasi difabel untuk menebas stigma. Hingga kini, ia masih setia melakukannya.

Suasana Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri A Pajajaran, Kota Bandung, Jawa Barat, sepi, Rabu (27/1/2021) siang. Tak ada kegiatan belajar-mengajar di sana. Namun, bukan berarti siswa disabilitas netra di sekolah itu libur.

Mereka belajar di ruang daring melalui aplikasi konferensi TeamTalk. Di ruang kepala sekolah, Wawan memantau kegiatan belajar siswa melalui ponsel cerdasnya. ”Ibaratnya, aplikasi ini menjadi kelas maya untuk kegiatan belajar-mengajar di masa pandemi Covid-19,” ujarnya.

Hari itu adalah waktu terakhirnya menjadi pelaksana tugas kepala sekolah di sana. Jabatan itu diembannya sejak Juli 2020, beberapa hari setelah dimutasi sebagai Kepala SLB Cicendo, Kota Bandung, sehingga membuatnya merangkap jabatan.

Pembelajaran daring di tengah pandemi menjadi salah satu tantangan terberat Wawan selama bergelut di dunia pendidikan disabilitas. Ia harus memeras otak mencari metode belajar yang adaptif bagi anak didiknya.

Berbagai aplikasi dicoba. Ada Zoom, Cisco Webex, dan Google Meet hingga aplikasi pesan lintas platform, seperti Whatsapp, untuk mendukung pembelajaran jarak jauh. Namun, hasilnya kurang optimal. Aplikasi tersebut memang tidak dirancang khusus bagi anak atau siswa berkebutuhan khusus, terutama difabel netra.

Beragam kendala tak membuat Wawan menyerah. ”Bagaimanapun, anak-anak tidak boleh kehilangan kesempatan belajar selama pandemi,” ujarnya.

Pertengahan April 2020, ia mendiskusikan masalah itu bersama sejumlah guru dan Dwi Cito Laksono (17), siswa kelas XI teknik informatika dan komputer di sekolah itu. Dari situ, mereka memutuskan menggunakan aplikasi TeamTalk untuk pembelajaran daring. ”Audio di TeamTalk jernih. Ini cocok untuk siswa difabel netra yang lebih mengandalkan pendengaran,” ujarnya.

Wawan menuturkan, pihaknya menggunakan server khusus dalam aplikasi itu agar tidak bercampur dengan pengguna dari negara lain. Selain itu, dibuat sejumlah folder yang dinamai sesuai dengan gedung dan ruangan di sekolah tersebut.

”Siswa tinggal mengikuti jadwal pelajaran di sekolah seperti biasa. Jadi, tidak perlu bingung atau khawatir salah masuk kelas saat belajar memakai ponsel cerdas,” ucapnya.

Sembilan bulan berjalan, pembelajaran jarak jauh menggunakan aplikasi TeamTalk tetap lancar. Bagi Wawan, hal itu membuktikan bahwa siswa disabilitas juga dapat beradaptasi belajar secara daring seperti siswa di sekolah umum.

”Selain penglihatan, mereka bisa melakukan semua yang dilakukan siswa umum. Namun, karena mempunyai keterbatasan fisik, diperlukan metode pembelajaran yang adaptif,” ujarnya.

Sekitar 70 persen dari 78 siswa di sekolah itu telah menggunakan aplikasi TeamTalk. Sementara sisanya, terutama siswa dengan disabilitas ganda atau multiple disabilities with visual impairment (MDVI), belajar melalui kunjungan guru ke rumah dan aplikasi Whatsapp dengan bantuan orangtua.

Beragam peran 

Ketertarikan Wawan pada pendidikan luar biasa dimulai sejak SMA. Saat itu, ia kagum melihat seorang perempuan disabilitas rungu yang bekerja sebagai koki di perusahaan makanan cepat saji.

Hal itu membuatnya penasaran. Ia pun mempelajarinya dan diterima di Jurusan Pendidikan Luar Biasa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung (kini Universitas Pendidikan Indonesia/UPI) pada 1993.

Saat menjalani mata kuliah Ortopedagogik, Wawan berkesempatan mengunjungi sejumlah SLB. Di sana, ia bertemu anak dengan keterbatasan fisik beragam, seperti difabel rungu-wicara, netra, daksa, dan grahita.

Karena keterbatasan fisiknya, mereka sering mendapat stigma. Kemampuan mereka sering dianggap di bawah anak-anak lain. Wawan tergerak untuk membuktikan bahwa stigma itu salah. ”Setiap anak punya bakat tersendiri, tidak terkecuali anak berkebutuhan khusus. Hanya cara menggali bakat itu mungkin tidak selalu sama,” ujarnya.

Setelah lulus kuliah pada 1999, ia menjalani beragam peran mengedukasi anak berkebutuhan khusus. Kiprahnya diawali dengan menjadi fasilitator stimulasi sensor motorik anak. Metodenya melalui berbagai terapi sensorik. Anak disabilitas terlebih dahulu diajak bermain untuk membuat mereka nyaman.

”Terapi ini biasanya diberikan kepada anak-anak autisme dan hiperaktif. Jika tidak diterapi akan berdampak pada perilaku yang tidak adaptif,” katanya.

Pendampingannya berlanjut tahun 2003. Dia bersama beberapa rekannya merintis SLB Pelita Hafizh di Kota Bandung. Sekolah ini berdiri berkat dukungan orangtua dari anak disabilitas yang pernah ia terapi sebelumnya.

Ia tetap ditugaskan menjadi guru di SLB Pelita Hafizh untuk mendukung pendidikan inklusi di provinsi itu meski lima tahun berselang diterima menjadi PNS Dinas Pendidikan Jabar. ”Tugas lainnya, mengadvokasi anak berkebutuhan khusus di sekolah umum. Kami berbagi metode pembelajaran kepada guru untuk mengajar siswa dengan keterbatasan fisik,” ucapnya.

Ayah tiga anak itu kemudian ditugaskan sebagai guru SLB A Pajajaran pada 2013 dan diangkat menjadi kepala sekolah defenitif pada 2018-2020. Namun, tujuh tahun bertugas di sana, ia masih saja gelisah karena kebutuhan pendidikan dan pelatihan anak disabilitas semakin kompleks. Siswa dengan disabilitas ganda, misalnya, membutuhkan pendekatan edukasi yang berbeda. Salah satunya menggunakan metode orientasi mobilitas sosial komunikasi.

”Saat itu ada anak dengan disabilitas netra sekaligus keterbelakangan mental. Untuk berjalan sekitar 300 meter dari asrama menuju kelas harus didampingi siswa lainnya. Di kelas pun tidak banyak bergerak,” lanjutnya.

Wawan menyiapkan program latihan khusus untuk siswa tersebut. Caranya, dengan berjalan sambil mengenali tanda-tanda permanen dari asrama menuju kelas, ruang guru, ruang musik, dan tempat ibadah.

”Menyusuri dinding atau berpatokan pada handrail. Selain itu, mengingat kondisi jalan, seperti menurun, untuk menandai tempat tertentu. Setelah berlatih intens selama dua tahun, siswa tersebut bisa berpindah-pindah secara mandiri,” ujarnya.

Wawan tidak ingin SLB hanya sekadar menjadi formalitas bagi anak disabilitas untuk mengenyam pendidikan. Ia berupaya agar mereka juga mempunyai kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Oleh sebab itu, pada 2017, ia menyurati sejumlah perguruan tinggi negeri di Bandung untuk beraudiensi. Tujuannya, agar sistem seleksi calon mahasiswa mengakomodasi siswa berkebutuhan khusus.

Dalam ujian tulis berbasis komputer, misalnya, dibutuhkan fasilitas untuk menerapkan metode screen reader agar setiap soal dapat disajikan berbentuk audio. Dengan begitu, difabel netra memahami soal melalui suara.

Wawan menuturkan, UPI menjadi salah satu perguruan tinggi yang menerapkan metode screen reader. Sejak 2018, sedikitnya tujuh alumnus SLBN A Pajajaran diterima di universitas itu.

”Hal ini membuktikan, siswa berkebutuhan khusus mampu bersaing dengan lulusan dari sekolah umum. Jadi, jangan lagi meremehkan mereka,” katanya.

Meskipun memiliki keterbatasan, penyandang disabilitas juga mempunyai bakat istimewa. Mereka tidak menuntut diistimewakan, tetapi ingin mendapatkan kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan dan menyiapkan masa depan.

Sumber: Kompas edisi 04 Februari 2021 di halaman 16 dengan judul “Wawan, Kepala Sekolah Luar Biasa”.

Author photo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *