Ustadz Ahong, Menyemai Tafsir Damai di Jagat Virtual

Ibnu Kharish atau Ustadz Ahong menerima Maarif Award 2020 atas kiprahnya menyebarkan dakwah Islam damai dan inklusif di ruang digital. Selama lima tahun, ia aktif mengelola konten Bincang Syariah dan kanal YouTube Ustadz Ahong untuk menghadirkan tafsir keagamaan moderat, terutama bagi Muslim perkotaan dan anak muda. Berbekal latar pesantren dan studi hadis, Ibnu kerap mengulas isu sensitif dengan pendekatan ilmiah tanpa menyerang pihak lain. Ia bahkan sempat melakukan riset langsung ke kelompok ultrakonservatif. Upayanya dinilai berhasil melawan ekstremisme dengan gagasan dan memperkuat nilai kebhinekaan.

*****

Lima tahun terakhir, Ibnu Kharish alias Ustadz Ahong aktif “bertempur” di jagat virtual nan riuh demi menyebarkan narasi keagamaan yang damai dan inklusif. Ia dinilai  berhasil menerabas sekat-sekat golongan dan mazhab sehingga diganjar penghargaan Maarif Award 2020.

Maarif Award diberikan oleh Maarif Institute setiap dua tahun sekali kepada individu atau lembaga yang memperjuangkan nilai-nilai kebhinekaan, antikekerasan, dan antidiskriminasi. Tahun ini, Ibnu Kharish dipilih sebagai penerima penghargaan karena dakwahnya di jagat virtual  membantu masyarakat Muslim perkotaan untuk mengakses tafsir keagamaan yang moderat, damai, dan mendukung keberagaman.

“Ibnu Kharish berhasil menerabas sekat golongan-madzhab dan langsung ke pokok utama yaitu bincang syariah. Inilah yang banyak dicari oleh kelompok-kelompok muda yang tumbuh di masa keberlimpahan informasi.  Narasinya berbeda dan bisa memenuhi kebutuhan para pencari informasi khususnya anak muda,” ujar Nezar Patria, salah satu Dewan Juri Maarif Award 2020 seperti dikutip dari rilis resmi Maarif Institute.

Ibnu sendiri mengaku tak menyangka bisa mendapat penghargaan bergengsi ini. “Terus terang saya kaget. Saya bersyukur  karena penghargaan ini jadi simbol dukungan atas upaya keras menyebarkan paham keagamaan yang damai dan inklusif di tengah munculnya paham-paham keagamaan yang ultrakonservatif dan politis,” ujarnya, Sabtu (5/12/2020) di sebuah kantor sederhana yang menjadi markas dakwah Ibnu dan kawan-kawan.

Kantor itu berupa rumah dengan beberapa ruangan. Salah satu ruangan dipakai untuk studio mini yang memproduksi konten-konten untuk kanal Bincang Syariah dan Ustaz Ahong yang mereka kelola. Di studio mini itulah, Ibnu setiap pekan menjelma menjadi Ustadz Ahong yang membahas mulai tata cara ibadah, akidah, isu sehari-hari, hingga tafsir fiqih atas wacana-wacana “panas”.

Dalam salah satu episode, misalnya, ia membahas peristiwa teror di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Ia mengupas sejumlah kekeliruan tafsir yang digunakan kelompok teroris sebagai landasan aksi kekerasan mereka. Setelah itu, ia menyodorkan tafsir keagamaan yang damai dan inklusif lengkap dengan literatur fiqih dan konteks historisnya.

Di ujung dakwahnya, ia mengingatkan misi Islam sebagai agama pembawa perdamaian dan rahmat bagi semesta. Karena itu, para ulama dan masyarakat sudah sepatutnya menyebarkan pemahaman agama yang damai, jauh dari caci maki dan provokasi. “Mari kita memperkuat persatuan sesama masyarakat Indonesia apapun latar belakang agama atau suku kita,” tambahnya.

Ibnu menjelaskan, pihaknya sengaja masuk ke isu atau wacana yang dikembangkan kelompok ultrakonservatif dan islam politik. “Tapi kami memberikan tafsir yang berbeda. Kami lawan gagasan dengan gagasan. Mereka pakai teks, kami pakai teks. Yang jelas kami tidak menyerang orangnya.”

Untuk mengetahui wacana yang dikembangkan kelompok ekstrem keras, Ibnu melakukan riset “dari dalam” selama dua tahun. Ia secara diam-diam masuk ke kelompok ultrakonservatif pada 2015-2017. Ia mengikuti pengajian-pengajian ekslusif mereka. “Dari situ saya tahu wacana-wacana keagaman yang mereka kembangkan dan peta (kelompok) mereka,” ujarnya.

Salah satunya terkait pandangan bahwa pemerintahan yang tidak mendasarkan diri pada ajaran Islam seperti penafsiran mereka sebagai pemerintahan kafir sehingga harus dilawan dan diperangi. Mereka juga mengembangkan wacana keagamaan yang membolehkan membunuh siapapun yang mereka anggap musuh. “Pemahaman ini berbahaya sekali apalagi banyak orang awam yang menelannya begitu saja,” tegas Ibnu.

Belakangan “penyusupan” Ibnu terbongkar di sebuah pengajian. Ibnu yang masuk lewat sebuah sel di daerah A, ternyata “nyasar” ikut pengajian dari sel di daerah B. “Saya dicecar dengan aneka pertanyaan. Sebelum dihakimi, saya ngeloyor keluar ha ha ha,” kenangnya.

Anak pesantren

Ibnu menjalani sekitar separuh hidupnya di pesantren. Setelah lulus sekolah dasar, ia mondok di Pesantren Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat selama 10 tahun. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan bahasa dan sastra Arab di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.  Selama kuliah, ia juga mondok di Pesantren Darussunnah, Ciputat, pimpinan KH Ali Mustafa Ya\’qub. Di pesantren ini, ia secara khusus belajar hadis dan ilmu hadis.

Pada 2014, ia bertemu  teman-teman sesama Muslim moderat yang resah dengan merebaknya situs-situs keislaman yang berpaham ultrakonservarif dan politis. Sementara, situs-situs keislaman berpaham moderat bisa dihitung jari. Mereka juga resah lantaran terjadi polarisasi yang tajam di tengah masyarakat sebagai ekses kontestasi Pilpres 2014.

Dari situ, kenang Ibnu, ada kesadaran di kalangan kaum Islam moderat untuk mengisi ruang-ruang virtual dengan tafsir keagamanan yang damai dan inklusif. Ibnu sendiri ikut terlibat dalam misi tersebut dengan  mengelola situs Bincangsyariah.com  yang berada di bawah El-Bukhari Institute pada 2015. El-Bukhari Institute didirikan oleh tiga teman Ibnu sesama santri di Darussunnah yakni Hengki Verdiansyah, Abdul Karim Munthe, dan Khoirul Huda.

Mereka bekerja keras mengisi ruang-ruang virtual dengan paham moderat. “Kami secara sadar berusaha merebut pengaruh agar pandangan Islam moderat jadi arus utama di tengah masyarakat,” kata Ibnu.

Pada 2018, mereka menyadari pentingnya hadir di kanal Youtube yang digandrungi anak muda. Sayangnya, tidak banyak santri moderat yang mau tampil. Akhirnya, Ibnu  bersedia tampil di kanal Youtube untuk dakwah yakni Bincang Syariah dan Ustadz Ahong.

Ibnu berdakwah di dunia virtual dengan nama Ustadz Ahong. “Itu nama panggilan saya sejak sekolah. Dipanggil Ahong karena mata saya sipit ha ha ha. Saya pikir nama itu punya daya tarik buat anak-anak muda,” katanya.

“Kami memang menyasar masyarakat urban karena mereka paling inten menggunakan internet. Banyak orang hijrah karena ngaji di internet, tapi akhirnya jadi ekslusif,” tambahnya.

Selain membuat konten dakwah inklusif, tim Bincang Syariah berjejaring dengan komunitas lintas agama yang mempromosikan kebhinekaan, keberagaman, dan antikekerasan. Mereka juga merangkul para pesohor untuk terlibat dalam gerakan ini.

“Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya santri sekarang mesti berebut ruang dakwah di dunia digital. Tapi ini memang harus dilakukan agar paham keagamaan yang damai menjadi arus utama,” katanya.

Sumber: Kompas edisi 07 Desember 2020 di halaman 16 dengan judul “Ibnu Kharish, Menyemai Tafsir Damai”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *