Janice dan Benita, Perjalanan Leluhur

Label Maquinn Couture asal Surabaya menampilkan koleksi adibusana bertajuk Pilgrimage di Milan Fashion Week 2020/2021 di Palazzo Visconti, Italia. Direktur kreatif Janice dan Benita Pradipta Setyawan menghadirkan 10 tampilan yang memadukan batik Indonesia dengan gaya Eropa. Terinspirasi napak tilas leluhur, koleksi ini menonjolkan batik Pekalongan dan Cirebon dengan teknik lukis, sulam, dan beading pada bahan sutra, tinta emas, dan kulit. Mereka ingin menunjukkan batik mampu berbaur lintas budaya tanpa kehilangan identitas. Usai peragaan, keduanya akan memperdalam studi mode di Milan selama delapan bulan.

*****

Label Maquinn Couture dari Surabaya menampilkan kekayaan tradisi Nusantara di panggung Milan Fashion Week atau MFW 2020/2021 di Palazzo Visconti, Italia. Direktur kreatif Maquinn Couture, Janice Pradipta Setyawan dan Benita Pradipta Setyawan, menghadirkan 10 tampilan adibusana dalam koleksi bertajuk ”Pilgrimage”.

Selain dari Indonesia, MFW juga menghadirkan desainer dari negara lain, seperti OTKUTYR Fashion House (Arab Saudi), COSEL Fashion (Polandia), Uriel Saenz (Amerika), dan Maya Seyferth (Swiss). Seusai pergelaran busana, Janice dan Benita asal Surabaya ini juga akan tinggal di Milan dan memperdalam mode di Istituto Di Moda Burgo Milan selama sekitar 8 bulan.

”Kami mendapat undangan langsung dan diberi dukungan dan sponsor dari mereka. Ke depan, ingin berkolaborasi dengan lebih banyak budaya lain,” kata Janice pada jumpa pers lewat Zoom, pekan lalu.

Pilgrimage diartikan sebagai napak tilas perjalanan leluhur dalam wujud busana batik Indonesia yang kemudian didesain bergaya Eropa. Koleksi mereka kali ini berusaha menyelaraskan budaya berbeda dari dua benua dengan tidak meninggalkan keaslian masing-masing.

”Agar tercipta busana yang indah, kekayaan batik Indonesia harus seirama dengan kekuatan fashion Eropa,” tambah Janice.

Peragaan busana karya Janice dan Benita ini terdaftar dan dapat diakses melalui laman fashionweekonline.comTampilan busana berbahan kain tenun sutra, tinta emas, dan kulit asli ini dominan unsur floral yang mengadaptasi corak batik, seperti batik Pekalongan dan Cirebon. Selain teknik lukis, batik juga dikombinasikan dengan teknik embroidery (sulam) dan beading.

”Kami pun ingin menunjukkan bahwa meskipun sarat akan tradisional Indonesia, nyatanya batik mampu melebur dengan beragam budaya tanpa kehilangan jati dirinya,” tutur Benita yang bersama Janice mulai melahirkan Label Maquinn Couture sejak 2014.

Sumber; Kompas.id, Janice dan Benita Perjalanan Leluhur, 07 Okt 2020 05:10 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *