
Malik Fadjar, Tokoh Inklusif Berpulang
Papermoon, teater boneka yang didirikan Ria Effendi dan Iwan Effendi, lahir dari perpaduan seni rupa, pertunjukan, dan kolaborasi keluarga serta anggota tim lainnya. Berawal sebagai sanggar anak-anak di Yogyakarta, Papermoon berkembang menjadi teater boneka profesional dengan ciri khas wajah melamun yang ekspresif. Kedua pendiri menekankan pentingnya sinergi kreator, karya, dan penonton, serta membangun hubungan personal dalam berkarya. Meski pandemi Covid-19 membatalkan tur internasional, Papermoon beradaptasi dengan pertunjukan virtual dan sistem barter tiket, menjaga interaksi dan keintiman dengan penonton. Dengan pengalaman 14 tahun, mereka terus berinovasi dan menekankan kebahagiaan dalam berkarya, melihat medium boneka sebagai pusat perhatian, bukan penciptanya.
*****
Menteri Pendidikan Nasional 2001-2004 Abdul Malik Fadjar meninggal dunia, Senin (7/9/2020) pukul 19.00 di Jakarta. Tokoh Muhammadiyah tersebut dikenal dengan filosofi hidupnya yang khas, yaitu luwes dan luas.
Malik Fadjar berpulang setelah sempat dirawat beberapa waktu karena sakit dan faktor usia.“Iya benar, saya dikabari oleh putri beliau pukul 19.00 tadi,” ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Senin malam.
Selama hidupnya, almarhum kerap berpesan tentang filosofi hidup luwes dan luas. Menurut Haedar, makna dari hidup luwes dan luas itu sangat mendalam. Itu menunjukkan sikap Malik yang inklusif terhadap siapa saja, tidak pernah membedakan ras, golongan, suku dan agama.
““Hal yang sering beliau tekankan adalah sungguh-sungguh bekerja, ber-Islam secara luas dan luwes,” tambah Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti.
Haedar menambahkan, PP Muhammadiyah sangat kehilangan sosok Malik Fadjar. Bagi Haedar, Malik adalah sosok guru bangsa yang mewariskan jiwa pendidik kepada generasi penerus. Ini tak lain karena pengalamannya yang kaya di bidang pendidikan.
Bersama Buya Syafii Maarif, Malik pernah mengajar di SD Taliwang, Nusa Tenggara Barat. Selain itu, semasa hidupnya, Malik juga banyak berkiprah di bidang pendidikan. Malik pernah menjadi rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Kiprahnya di pendidikan, mencapai puncaknya saat dia menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional Kabinet Gotong Royong (2001-2004). Malik juga pernah menjabat sebagai Menteri Agama Kabinet Reformasi Pembangunan pada 1998-1999. Terakhir, Malik menjadi Dewan Pertimbangan Presiden (2014-2019) di kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla.
“Beliau adalah sosok bersahaja, gigih, yang berorientasi membangun pusat kebudayaan. Beliau memiliki pikiran intelektual maju yang melintasi zaman. Saya banyak belajar bagaimana berhikmat untuk Muhammadiyah dan bangsa dari beliau,” tutur Haedar.
Malik Fajar memang mewakafkan hidupnya untuk pendidikan. Sebab, dia percaya bahwa yang dapat mengubah nasib bangsa adalah pendidikan. Pendidikan yang dia yakini, adalah pendidikan karakter dan akal budi, bukan sekadar pendidikan instrumental. Perhatian mendalam juga kerap ditunjukkan Malik terhadap guru. Baginya, guru bukan hanya sekadar pengajar tetapi juga tergambar dalam kehidupan kebangsaan. Dia selalu menekankan bahwa guru harus bisa mendidik dengan ketulusan, tanpa mengeluh dan ribut.
Membuat gebrakan
Sementara itu, Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra mengenang Malik Fadjar sebagai sosok reformis pendidikan nasional. Almarhum dinilai berhasil mengarusutamakan pendidikan tinggi Islam serta tegas menolak penyeragaman perguruan tinggi.”Gebrakan yang tak kalah penting adalah memberikan ruang kepada perguruan tinggi swasta. Jadi, perguruan tinggi swasta tak lagi dipandang sebelah mata,” ujar Azra.
Malik juga pernah menjabat sebagai Menteri Agama pada 1998-1999 dan Dewan Pertimbangan Presiden 2014-2019 di kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Sumber: Kompas.id, Malik Fadjar Tokoh Inklusif Berpulang, 07 Sep 2020 23:40 WIB
Leave a Reply