Silir Pujiwati, Obat Pikiran

Sinden Silir Pujiwati memilih dekat dengan alam untuk menyegarkan pikiran selama pandemi Covid-19. Meski hanya berjalan-jalan di sawah atau desa sekitar rumahnya di Yogyakarta, kegiatan itu membantu menghilangkan kejenuhan dan memberi ide baru. Ia berencana berkemah di Waduk Sermo bersama keluarga, namun batal karena pandemi. Silir juga tetap produktif berkarya: bersama suaminya ia membuat singel baru, “Ngemong Roso”, yang pengambilan video klipnya akan mengambil latar alam untuk menekankan cinta pada alam, manusia, dan Tuhan.

*****

Alam menyajikan ”obat” bagi pikiran yang keruh akibat pandemi. Dua bulan benar-benar mengurung diri di rumah secara mandiri, sinden Silir Pujiwati memberanikan diri melangkah ke alam untuk mereguk kesegaran.

Tak berani jauh-jauh dari rumah, ia memilih sekadar melihat kehijauan sawah atau berjalan-jalan ke tempat sepi di seputaran rumahnya. ”Di rumah pasti mentok idenya, semakin boring. Di sore hari, saya memilih keluar, ke sawah atau desa sambil memotret lanskap. Pikiran bisa fresh, lalu muncul ide lagi. Korona bikin semua kacau. Dengan keluar sebentar, lumayan isi ulang energi. Hatinya mau ke pantai, tetapi belum begitu berani (untuk keluar) jauh,” kata Silir saat dihubungi pada Rabu (5/8/2020).

Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta, Silir memang relatif mudah mendekat ke alam. Ia berencana berkemah di kawasan Waduk Sermo, Kabupaten Kulon Progo, bersama keluarga, tetapi niatnya itu batal karena pandemi. ”Hanya jalan di seputaran Bangunjiwo, Goa Selarong, ke sana. Tetap bisa nyawang hijaunya sawah. Sejuk banget. Benar-benar mewah menurut saya,” tambahnya.

Oleh karena lebih banyak tinggal di rumah, vokalis KUA Etnika ini justru mengaku lebih produktif dalam berkarya. Ditemani suami, Silir melahirkan singel baru, ”Ngemong Roso”, yang baru kelar rekaman dan menuju pembuatan klip video.

Untuk video yang akan dirilis di kanal Youtube, Silir memilih latar alam. ”Rencananya pengin ke Kulon Progo atau pantai. Karena harus buka masker,

cari tempat yang sepi. Rasa dalam ’Ngemong Roso’ ini adalah rasa dengan alam. Mencintai alam, mencintai manusia, mencintai Tuhan,” kata Silir.

Sumber: Kompas edisi 09 Agustus 2020 di halaman 6 dengan judul “Obat Pikiran “.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *