
Mesty Ariotedjo, Berkah Pandemi
Pandemi Covid-19 membawa sisi positif bagi Mesty Ariotedjo—model, pemusik harpa, dan dokter anak lulusan FKUI. Saat hamil tujuh bulan, ia dicutikan dari tugas klinis, sementara suaminya WFH sehingga tanggung jawab rumah dan pengasuhan dapat dibagi. Saat melahirkan, aturan tanpa pengunjung membuatnya bisa beristirahat penuh. Lewat jajak pendapat di Instagram, mayoritas ibu merasa WFH membantu keberhasilan menyusui, meski ada kekhawatiran terkait risiko infeksi dan stres soal kualitas ASI. Mesty sendiri bersyukur mampu memberi ASI eksklusif, bahkan ketika menjalani karantina untuk ujian spesialis dengan dukungan kuat keluarga dan rekan sejawat.
*****
Pandemi Covid-19 tidak selalu memicu situasi kelabu. Bagi model iklan, pemusik harpa, yang juga seorang dokter anak lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Mesty Ariotedjo, pandemi juga membawa berkah. Hal itu dituturkan dalam simposium daring dalam rangka menyambut Pekan Menyusui Dunia 2020, Rabu (5/8/2020).
Saat Covid-19 mulai melanda Indonesia, Mesty yang kehamilannya menginjak tujuh bulan dicutikan dari tugasnya sebagai dokter anak. Bersamaan dengan itu, suaminya mulai bekerja dari rumah (WFH) sehingga ia bisa berbagi urusan rumah dan pengasuhan anak pertama mereka. Saat melahirkan anak keduanya, rumah bersalin tidak mengizinkan ada pengunjung sehingga ia bisa beristirahat total.
Mesty pun membuat polling sederhana lewat Instagram pribadinya mengenai pengalaman para ibu yang hamil dan menyusui di masa pandemi. Dari 252 ibu, 78 persen merasa bersyukur karena WFH ataupun suami WFH memungkinkan para ibu bisa menyusui anak dengan baik. Namun, para ibu juga berbagi keresahan. Hal itu, antara lain, mereka yang masih bekerja di kantor khawatir terinfeksi virus penyebab Covid-19 dan menularkan ke bayi. Ada pula ibu yang stres terkait jumlah dan kualitas air susu ibu (ASI).
Mesty bersyukur bisa memberikan ASI eksklusif, bahkan ketika harus menjalani karantina untuk belajar menjelang evaluasi nasional sebagai dokter spesialis beberapa waktu lalu. Saat itu, bayinya baru berusia tiga minggu. Ia harus memerah ASI setiap 3 jam. Ia merasakan dukungan sangat besar dari suami, keluarga, dan teman-teman sejawatnya.
Sumber: Kompas.id, Mesty Ariotedjo Berkah Pandemi, 09 Agt 2020 11:59 WIB
Leave a Reply