
Angel Pieters, Lukisan, Batik, dan Musik
Penyanyi Angel Pieters mulai menyukai lukisan, khususnya karya seniman lokal seperti Natisa Jones dan Roby Dwi Antono. Kecintaan terhadap seni muncul sejak kecil berkat orangtuanya: ibu yang gemar batik dan ayah yang mencintai musik, sering membawa suvenir kerajinan dari berbagai daerah. Minat ini membawanya menekuni dunia tarik suara. Selama pandemi, aktivitas menyanyi berhenti, sehingga Angel memanfaatkan waktu untuk membuat cairan penyanitasi tangan. Hasil penjualannya digunakan membeli bahan pokok untuk yang membutuhkan. Pengalaman itu membuatnya lebih bersyukur dan reflektif, serta mendorongnya membantu orang lain dengan kreativitas dan modal yang dimilikinya.
*****
Penyanyi Angel Pieters belum lama ini mulai menyukai lukisan, terutama karya seniman lokal. Dia pun sering mengunjungi pameran lukisan.
”Favorit saya karya Natisa Jones dan Roby Dwi Antono. Waktu itu ingin beli lukisan Roby di pameran, tetapi sudah dibeli orang lain,” ujar Angel, Sabtu (25/7/2020).
Kecintaan Angel terhadap hal-hal yang berkaitan dengan seni muncul sejak kecil berkat orangtuanya yang juga mencintai dunia seni.
”Ibu saya punya passion terhadap batik. Pernah bikin label baju bersama teman-temannya. Ibu sering bawa perajin ke rumah, jadi saya sering lihat (membatik),” tuturnya.
Sang ayah yang mencintai musik sering membawa cakram padat edisi terbatas dari banyak penyanyi, di antaranya Luciano Pavarotti dan Toto. ”Kalau pergi ke daerah lain, kami juga sering membeli benda-benda kerajinan khas daerah setempat untuk suvenir,” ucap Angel.
Berkat kebiasaan-kebiasaan tersebut, Angel menggemari apa pun yang berhubungan dengan dunia seni. Dia lalu menekuni dunia tarik suara.
Semasa pandemi, kegiatan menyanyi Angel berhenti. Kini dia tengah sibuk membuat cairan penyanitasi tangan dan hasil penjualannya dibelikan bahan pokok untuk dibagikan kepada yang membutuhkan.
”Karena saya tidak ke mana-mana, jadi lebih banyak waktu untuk berefleksi tentang diri sendiri. Lalu saya sadar, banyak orang yang kondisinya juga susah. Akhirnya saya tergerak membantu, dengan modal dan kreativitas yang saya punya. Saya jadi lebih bersyukur. Ini momen yang sungguh mengubah hidup,” tuturnya.
Sumber: Kompas edisi 26 Juli 2020 di halaman 6 dengan judul “Lukisan, Batik, dan Musik”.
Leave a Reply