Ismedi, Lukisan Wajah Buddha

Ismedi (44), pelukis yang dikenal dengan nama panggung Easting Medi, mengambil Candi Borobudur sebagai inspirasi utama karya seninya, khususnya kepala atau wajah Buddha. Ia menampilkan arca Buddha yang rusak dalam kondisi sempurna di lukisan atau patungnya untuk menggugah kepedulian orang terhadap pelestarian candi. Lahir di dekat Borobudur, kekaguman pada relief dan arca sejak kecil mendorongnya menekuni seni sejak 2003. Selain berkarya, Ismedi mengajar anak-anak melukis dan membuat keramik secara gratis, menekankan pentingnya menjaga Candi Borobudur. Karyanya telah dipamerkan di Indonesia dan mancanegara, menunjukkan seni sebagai sarana konservasi budaya.

*****

Dalam banyak karya seninya, Ismedi (44) mengambil Candi Borobudur sebagai sumber inspirasi. Lewat karya itu, ia tak sekadar ingin bertutur tentang keindahan, tapi juga pentingnya memelihara candi Buddha itu.

Di kalangan seniman, Ismedi dikenal sebagai pelukis ”spesialis” kepala Buddha. Maklum, selama bertahun-tahun seniman yang dikenal dengan nama panggung ”Easting Medi” itu konsisten melukis bagian kepala atau wajah Buddha.

Ia menggali inspirasinya dari 200-an arca kepala Buddha yang terpasang di Candi Borobudur saat ini. Meski ada ratusan, nyatanya tidak ada satu pun bentuk wajah dan ekspresi setiap arca kepala Buddha itu yang sama. Ada arca dengan fisik dan wajah yang tampak gemuk, ada yang tampak kurus.

Tidak semua arca Buddha itu tampil dalam kondisi sempurna saat ini. Sebagian arca itu ada yang kehilangan telinga atau hidungnya terlihat aus akibat dimakan usia maupun ”dilukai” oleh tangan-tangan usil.

Bentuk wajah dan ekspresi Sang Buddha meski tak lagi sempurna itu menarik hati Ismedi sejak lama. Ia mengabadikan wajah dan ekspresi Sang Buddha ke atas kanvas atau patung. Ia berupaya ”memperbaiki” kondisi arca itu agar tampil sempurna dalam karya seninya.

Jika obyek lukisannya adalah arca Buddha yang kehilangan telinga, maka dalam lukisannya ia menambahkan telinga. Ia ingin Sang Buddha tampil sempurna seperti aslinya meski hanya dalam lukisan atau patung. Dengan cara itu, ia ingin menggugah kepedulian orang untuk menjaga Candi Borobudur agar tidak rusak.

Lukisan wajah Sang Buddha karya Ismedi telah melenggang ke banyak daerah di Nusantara dan mancanegara, seperti Amerika Serikat serta beberapa negara Eropa dan Asia. Sejumlah kolektor dan pelanggan karyanya sering bertanya, kenapa ia sering melukis kepala Buddha dan segala hal tentang Candi Borobudur?

Ismedi hanya menjawab bahwa dirinya bangga melukis Candi Borobudur karena candi itu warisan budaya yang luar biasa, karya nenek moyang bangsa di masa lampau. Setelah itu, giliran dia yang menggugah kesadaran para kolektor dan pembeli karyanya untuk ikut memikirkan kelestarian Candi Borobudur. Ia yakin, lewat jalan kesenian, upaya menggugah kesadaran orang tentang konservasi Borobudur bisa dilakukan.

Romantika Borobudur

Bagi Ismedi, Candi Borobudur menyimpan romantika tersendiri sejak masa kanak-kanak. Ismedi lahir dan tumbuh di Dusun Tingal Wetan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari Candi Borobudur. Ia ingat, pada era ’80-an, warga Dusun Tingal Wetan, termasuk keluarganya, mendapat keistimewaan tidak perlu membayar tiket masuk ke Borobudur pada setiap hari pertama Lebaran.

Warga dusun biasanya bersama-sama memanfaatkan kesempatan itu, termasuk keluarga Ismedi. Ketika teman-temannya terburu-buru naik ke lantai paling atas candi, Ismedi justru berlama-lama mencermati guratan relief dan lorong candi. ”Karena begitu senangnya berada di candi dan mengamati relief, saya sering kali ditinggal teman-teman sehingga terpaksa pulang sendirian,” ujarnya.

Dari kunjungan rutin itu, kekaguman Ismedi terhadap Candi Borobudur muncul. Ia takjub dan penasaran pada relief-relief yang diukir secara detail dan indah. ”Ukiran yang ditorehkan tampak sekali dibuat oleh tangan yang sangat luwes. Ukiran luwes ini biasanya hanya bisa dilakukan di bantalan yang empuk, tetapi ukiran ini sungguh terasa istimewa karena bisa dibuat di batu candi yang keras,” ucapnya.

Di luar masa Lebaran, dia terkadang datang ke Candi Borobudur, duduk di bawah pohon bodhi, dan melihat sejumlah patung Buddha yang ketika itu ada yang diletakkan di luar bangunan candi. Tidak berhenti sekadar mengamati, ia kemudian mulai mempelajari Candi Borobudur dari buku ataupun teman-temannya yang beragama Buddha.

Sejak intens menjadi pelukis pada 2003, ia konsisten mengangkat obyek seputar Borobudur dalam karya-karyanya. Belakangan, ia lebih spesifik melukis wajah atau bagian kepala Buddha dengan aneka ekspresi.

Mengajar anak-anak

Hasratnya untuk ikut menjaga Borobudur lewat seni berupaya ia tularkan kepada anak-anak yang datang kepadanya untuk belajar melukis atau membuat gerabah keramik. Awalnya yang datang hanya satu-dua, lama-lama bertambah karena Ismedi mengajari anak-anak secara gratis.

Kepada anak-anak itu, Ismedi selalu menekankan bahwa Candi Borobudur adalah mahakarya seni luar biasa, sumber inspirasi yang tak lekang waktu, serta tak pernah habis dituangkannya dalam karya lukis, patung, dan keramik. Karena itu, Borobudur harus terus dijaga.

Ia tunjukkan betapa relief di Candi Borobudur menggambarkan flora dan fauna yang sangat detail dan beragam. Tidak hanya itu, dia pun kerap menuturkan cerita yang terukir, berikut makna filosofis dalam relief candi.

”Ada begitu banyak cerita dan gambar. Saya selalu mengatakan bahwa Candi Borobudur itu ibarat cerita bergambar atau komik,” ucap seniman yang tergabung dalam Komunitas Seniman Borobudur itu.

Buat anak-anak yang penasaran dengan ceritanya, Ismedi menyuruh mereka datang ke Candi Borobudur dan membuktikan sendiri seraya mewanti-wanti agar mereka menjaga perilaku saat berkunjung. ”Cukuplah amati relief dengan melihat dan tidak perlu memegang, menempelkan jari atau telapak. Keringat yang ada di tangan kita bisa memicu keausan batu candi,” pesannya.

Selain itu, dia juga berpesan agar mereka menjaga sikap, berfoto dengan gaya yang sopan, tidak membuang sampah sembarangan, tidak menaiki stupa, serta tidak menempelkan atau menggesek-gesekkan badan pada batuan candi.

”Pada intinya, ketika sudah mengetahui dan menyadari tentang keindahannya, saya pun meminta mereka untuk berperilaku baik demi menjaga kelestarian bangunan Candi Borobudur,” ujarnya.

Ismedi yakin, jalan kesenian sedikit banyak bisa dipakai untuk mendukung konservasi Borobudur.

Sumber: Kompas edisi 18 April 2020 di halaman 16 dengan judul “Ismedi, Merawat Candi Borobudur Lewat Lukisan “.

Author photo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *