Anya Dwinov, Lulusan Istimewa

Anya Dwinov mengenang kelulusannya dari SMA Negeri 3 Jakarta pada 2001. Awalnya ibunya tak mengizinkan ia ke sekolah, tetapi setelah teman-temannya memberi jaminan, ia diizinkan. Anya mencorat-coret seragamnya dengan spidol dan sempat ingin ikut konvoi, namun ditinggal teman karena ribut dengan siswa lain. Ia bersimpati kepada lulusan tahun ini yang tak bisa merayakan kelulusan secara meriah akibat pandemi, menekankan bahwa mereka tetap istimewa dan bisa merayakan prom night nanti. Anya juga mengingat pengalaman prom night pertamanya, memilih pasangan sederhana yang lebih tinggi darinya agar cocok dengan sepatu berhaknya.

*****

Anya Dwinov mengenang saat ia lulus dari SMA Negeri 3 Jakarta tahun 2001. Semula, ia tak diizinkan ibunya ke sekolah. ”Saya anak cupu banget. Setelah teman-teman menjamin kita enggak bakal macam-macam, Mama baru bolehin,” katanya di Jakarta, Sabtu (20/6/2020).

Anya ikut mencorat-coret seragamnya dengan spidol. Aktris, pembawa acara, dan penyiar radio itu awalnya juga ingin ikut konvoi. ”Teman yang bawa mobil enggak sabar, jadi saya ditinggal. Untung saya enggak ikut. Katanya, yang ikut konvoi ribut sama anak sekolah lain,” ucapnya.

Anya turut bersimpati kepada alumni mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi yang tak bisa merayakan kelulusannya beramai-ramai tahun ini. ”Kasihan juga. Mungkin sudah membayangkan meriah seperti di film-film, tapi sebenarnya mereka istimewa, lho,” katanya.

Lulusan-lulusan itu menyelesaikan studinya saat momen yang bersejarah. Kelak, mereka akan menyampaikan kisah historis itu kepada anak dan cucunya. ”Enggak hanya level Indonesia, tetapi juga dunia. Kalau tahun-tahun sebelumnya tentu hampir sama,” katanya.

Banyak wisuda diselenggarakan dengan telekonferensi. Anya meminta mereka yang baru menuntaskan pendidikannya untuk tetap semangat. ”Jangan kecil hati dan menyesal. Justru, kalian spesial. Kalau prom night (malam perayaan), gampang. Bisa kapan-kapan kalau sudah aman,” katanya.

Anya lantas mengingat saat menghadiri prom night dengan teman prianya. Pertimbangan Anya memilih pasangan sederhana saja. ”Pokoknya harus lebih tinggi dari saya. Saya, kan, mau pakai sepatu berhak. Mana tadinya Mama enggak bolehin,” katanya sambil tertawa.

Sumber: Kompas edisi 21 Juni 2020 di halaman 6 dengan judul “Lulusan Istimewa”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *