Chef Ragil, Pindah ke Digital

Pandemi Covid-19 mengguncang bisnis restoran, termasuk Nusa Indonesian Gastronomy milik Chef Ragil Imam Wibowo yang kini hanya melayani pesan bungkus dan antar. Ia menilai digitalisasi menjadi langkah paling realistis sambil menunggu situasi pulih. Pebisnis restoran harus mengatur arus dana dan membaca perubahan pasar yang cepat, dari camilan, paket makanan, hingga pesanan lauk menjelang Lebaran. Fine dining ditutup sementara karena tren belum jelas. Ragil memperkirakan hanya 30 persen operasi restoran yang kembali normal. Ia menilai perlu perubahan desain bisnis, termasuk skema sewa bulanan dan pembayaran karyawan per jam agar lebih efisien.

*****

Pandemi Covid-19 mengguncang bisnis restoran. Hal ini juga dirasakan Chef Ragil Imam Wibowo, pemilik restoran Nusa Indonesian Gastronomy. Dari makan di tempat, restorannya kini hanya bisa melayani pesan bungkus dan pesan antar.

”Cara paling memungkinkan untuk menghadapi situasi sekarang adalah go digital. Kita semua masih menunggu kapan semua akan selesai, apakah Juli, September, atau menunggu sampai vaksin ditemukan. Semua masih abu-abu,” kata Ragil saat menjadi pembicara dalam webinar bertajuk @Chef Talk: Selama Pandemi dan Dampaknya pada Bisnis Mereka” yang digelar Indonesian Gastronomy Association, Minggu (10/5/2020) malam.

Selain harus baik-baik mengatur aliran dana segar, pebisnis restoran juga harus pandai-pandai membaca pasar. ”Kami harap pasar lokal bisa menyokong, sembari menanti platform e-dagang khusus makanan yang sedang digodok pemerintah. Fine dining kami tutup dulu karena ke depan belum tahu tren seperti apa,” lanjutnya.

Ragil mengamati, penjualan makanan secara pesan bungkus dan pesan antar, terutama di Jakarta, terus berubah. Pada awal masa pembatasan sosial, banyak orang memesan penganan atau camilan. Setelah tiga pekan berjalan, mulai banyak pesanan paket makanan.

”Nanti dekat-dekat Lebaran, banyak pesanan lauk-pauk. Perubahan dalam jangka waktu cepat ini sangat menantang,” ujar Ragil.

Menurut dia, desain restoran bakal berubah. Kemungkinan hanya 30 persen dari kondisi restoran semula yang kembali seperti normal. Operasional restoran pun kemungkinan berubah.

”Walaupun tidak lazim di sini, perlu dipikirkan untuk membayar sewa tempat secara bulanan, bukan tahunan, bahkan lima tahunan, di muka seperti sekarang. Barangkali juga bisa membayar karyawan secara per jam. Ini bisa lebih efisien,”katanya.

Sumber: Kompas.id, Chef Ragil Pindah ke Digital, 15 Mei 2020 05:00 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *