Riki Putra, Kesederhanaan Bojonegoro
Riki Putra, musisi muda yang memadukan musik modern dengan gamelan, memiliki ikatan kuat dengan Jawa Timur, tanah kelahiran ayahnya di Bojonegoro. Ia mengaku darah Jawa Timur yang mengalir dalam dirinya menanamkan nilai kesederhanaan meski kini menikmati banyak pencapaian. Sejak kecil, Riki sering diajak ke kampung ayahnya dan terinspirasi oleh kehidupan sederhana di desa. Kecintaannya pada gamelan tumbuh alami meski sempat lama tinggal di Balikpapan. Ia menggunakan gamelan kromatik yang bersifat umum, tidak khas Bali atau Jawa, sebagai upaya memajukan musik Indonesia melalui perpaduan tradisi dan modernitas.
*****
Jawa Timur adalah tempat yang punya arti penting bagi musisi pendatang baru Riki Putra. Musisi sekaligus penyanyi yang menggabungkan musik modern dan gamelan ini memiliki ayah yang berasal dari Bojonegoro, Jawa Timur.
Menurut Riki, darah Jawa Timur yang mengalir di tubuhnya mengajarkannya untuk menjadi pribadi yang sederhana.
”Meski sampai sekarang bisa menikmati banyak hal, tetapi tetap orang desa,” ujar Riki ketika ditemui sebelum tampil sebagai penyanyi pembuka sekaligus muse dalam pergelaran busana perdana karya perancang busana Ariy Arkaa bertajuk ”Kemelut” di ajang ”Fashion Rhapsody: Harmoni Bumi”, Jumat (28/2/2020), di Jakarta.
Ketika masih kanak-kanak, Riki teringat sering kali diajak bapaknya mengunjungi Bojonegoro. ”Bapak tinggal di samping sawah. Anak petani. Kesederhanaan itu melekat di mana pun kita berada dan apa pun yang kita lakukan,” ujar Riki yang sempat berkolaborasi dengan Addie MS dan Reza Artamevia dalam konser orkestra rock gamelan pada 2018.
Darah Jawa Timur pula yang antara lain memengaruhi Riki mengolah alat musik gamelan. Meskipun sempat tinggal lama di Balikpapan, kecintaan pada gamelan itu ternyata bisa tumbuh. ”Separuh berdarah Jawa jadi tertarik gamelan. Musik gamelan yang dipakai gamelan kromatik. Bukan gamelan bali, bukan jawa. Lebih general untuk memajukan Indonesia,” ujarnya.
Sumber: Kompas edisi 01 Maret 2020 di halaman 12 dengan judul “Kesederhanaan Bojonegoro”.