Saras Dewi, Sang Hyang Dedari
Saras Dewi, dosen filsafat dan seniman asal Bali, meneliti hilangnya tari sakral Sang Hyang Dedari yang sudah dua tahun tak ditampilkan, khususnya di Nusa Ceningan. Sejak 2015, ia meneliti tarian ini yang terancam punah akibat modernisasi dan kerusakan alam. Menurutnya, tari tradisional Bali tak bisa dipisahkan dari alam dan keyakinan lokal, terutama prinsip Tri Hita Karana. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan manusia, alam, dan Tuhan. Saras berharap tari ini belum benar-benar punah dan mendorong kerja sama antara desa adat dan kampus Universitas Indonesia untuk melestarikan budaya leluhur Bali.
*****
Sebagai orang Bali, Saras Dewi tumbuh sehari-hari lekat dengan seni tradisional. Dia menyayangkan karena perubahan zaman sering kali mengancam seni tradisional, salah satunya tari sakral di Bali.
Pengajar filsafat, penyanyi, dan penulis ini sedang melakukan riset tentang tari sakral Sang Hyang Dedari, yang menghilang lebih dari dua tahun. ”Belakangan ini, aku sedang riset di Nusa Ceningan, sekitar 30 menit naik kapal dari Pantai Sanur. Sebenarnya sudah lama aku riset, dari tahun 2015, dan sudah memublikasikan hasil riset yang dilakukan di Karangasem,” tutur Saras, Jumat (21/2/2020).
Dari warga Nusa Ceningan, Saras mendapat cerita bahwa modernisasi, juga perubahan besar, menyebabkan tari Sang Hyang Dedari menghilang. Warga menunjukkan, yang tersisa dari tari tersebut mahkotanya saja.
Menurut Saras, tari tradisional sebagai ritual terancam karena zaman berubah, khususnya karena tari tersebut bertumpu pada alam. ”Saat ini, aku lihat alam semakin tergerus. Alam, seperti hutan dan lautan, semakin terimpit. Dalam keyakinan orang Bali, para prinsip Tri Hita Karana, unsur Pawongan (manusia) dengan Palemahan (alam) dan Parahyangan (Tuhan), harus dijaga keselarasannya agar mencapai kebahagiaan,” papar Saras.
Dia berharap, kepunahan tari Sang Hyang Dedari hanya sementara. Saras ingin mengajak kerja sama antara desa dan kampus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia untuk lebih erat bersinergi merawat budaya leluhur.
Sumber: Kompas.id, Saras Dewi Sang Hyang Dedari, 23 Feb 2020 05:32 WIB