Syardani M. Syarif, Ban Bekas untuk Tiram

Syardani Muhammad Syarif, warga Aceh Utara, mengembangkan metode budidaya tiram menggunakan ban bekas sebagai solusi atas kerja keras petani tiram tradisional. Terinspirasi dari kondisi petani yang harus menyelam berjam-jam, ia memulai inovasi ini pada 2014 setelah melihat ban bekas dipenuhi tiram di dermaga Ulee Lheu. Metode ini memudahkan panen dan meningkatkan hasil hingga 20 kg per ban. Kini, ribuan ban bekas digunakan di Banda Aceh, dan hasil panen tiram mulai dipasarkan ke Jakarta bahkan dilirik investor Malaysia. Syardani berharap budidaya tiram di Aceh bisa berkembang sebagai sumber ekonomi potensial.

*****

Ketika situasi di Aceh berangsur kondusif, Syardani Muhammad Syarif (42) menyusun pengembangan budidaya tiram menggunakan media ban bekas. Kini metode itu banyak diadopsi petani tiram dengan hasul yang menggembirakan.

Syardani lahir di Desa Meurandeh Paya, Kecamatan Baktiya Barat, Kabupaten Aceh Utara. Usai menamatkan sekolah menengah atas, tahun 1996, dia melanjutkan pendidikan ke Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Dia mengambil Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Sambil pulang dari kampus, Syardani kerap melihat aktivitas petani tiram di kawasan Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Hatinya sedih menyaksikan perjuangan petani mengutip tiram di sungai dengan cara tradisional. Mereka berada dalam sungai berjam-jam untuk mengumpulkan tiram.

“Kebanyakan petani tiram perempuan. Saya bertanya sendiri, apakah tidak ada cara lain yang lebih mudah,” kata Syardani mengenang kembali kisah saat masih kuliah kepada Kompas, beberapa waktu lalu, di Banda Aceh.

Dia suka mengobrol dengan petani tiram, ternyata pendapatan mereka kecil, tetapi berrisiko besar. Cedera tangan dan kaki paling sering diderita petani tiram. Saat itu, hati kecilnya berkata, seandainya dia bisa membuat terobosan pasti petani-petani itu sangat terbantu.

Pada 15 Agustus 2005, GAM dan Pemerintah RI meneken perjanjian damai. Anggota GAM mendapat amnesti, senjata dimusnahkan, dan Aceh mendapatkan dana otonomi khusus. Situasi ini membuat Aceh semakin kondusif dan produktif.

Saat konfliknya bersenjata antara GAM dengan Pemerintah RI, Syardani memutuskan bergabung dengan kombatan dan menelantarkan kuliahnya di Jurusan Kimia FKIP Universitas Syiah Kuala.

Namun setelah damai, Syardani melanjutkan studi, namun kali ini dia mengambil Jurusan Bahasa Inggris FKIP Universitas Syiah Kuala.

Pada 2014, tanpa sengaja Syardani melihat sebuah ban mobil bekas di dermaga Ulee Lheu, Banda Aceh. Permukaan ban bekas itu dipenuhi tiram. Seketika dia teringat apa yang dia pikirkan 18 tahun, yakni tentang perjuangan petani tiram.

“Ini solusinya. Mengapa tidak saya coba pakai ban bekas untuk rumah tiram,” ujar Syardani.

Saat itu, Syardani bekerja di Lembaga Peningkatan Sumberdaya Manusia (LPSDM) Aceh. Lembaga ini bertugas meningkatkan sumber daya melalui pelatihan, riset, dan penyaluran beasiswa. Saat ini, dia juga merupakan salah satu anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) di Banda Aceh.

Budidaya

Syardani mengajukan program budidaya tiram untuk petani tiram di pesisir Banda Aceh menggunakan media ban bekas dan keramba. Awalnya program itu ditolak oleh pengambil kebijakan di LPSDM Aceh. Syardani melobi keras, menurut dia petani tiram juga warga yang harus diberdayakan.

Ia mengajak akademisi di Universitas Syiah Kuala untuk menjadi mitra pelaksana program itu. Mereka mengumpulkan sebanyak 30 petani tiram untuk dididik cara budidaya tiram pakai ban bekas. Di Banda Aceh terdapat 500 orang petani tiram.

“Banyak orang yang nyinyir program ini akan berakhir sia-sia, tetapi saya yakin akan berhasil,” tekad Syardani.

Saat itu metode ban bekas diterapkan di tiga lokasi yakni di Desa Tibang, Alue Naga, dan Lam Manyang. Lokasi berada di sungai menuju kuala, sebab budidaya tiram harus di air payau.

Syardaini membuat bagan dari pipa paralon dengan luas bagan 2,5 meter x 2 meter. Dalam pipa itu dituangkan semen agar lebih kokoh. Pada sekeliling bagan itu diikat ban bekas sekitar 100 buah. Ban dibiarkan saja sampai benih tiram menempel dan tumbuh besar. Butuh waktu enam bulan sejak ban bekas itu dibenamkan ke dalam air baru bisa panen.

Sambil menunggu masa panen, petani masih bisa mencari tiram dengan cara tradisional. Syardani mengatakan sekali panen pada setiap ban bekas terdapat 20 kilogram tiram.

Bukan hanya hasil yang melimpah, dengan cara itu, proses panen lebih mudah. Jika dulu petani harus mencongkel pada batu dan kayu di dasar sungai, kini panen bisa dilakukan di daratan. Setelah dipanen, ban itu kembali dibenamkan ke air.

Kini, banyak petani mengadopsi metode itu. Syardani mengatakan saat ini dia memperkirakan ada 1.000 buah ban bekas yang dibenamkan ke waduk dan Sungai Tibang sebagai rumah tiram.

Ia sendiri kerap menampung tiram hasil panen petani untuk dijual kembali ke Jakarta. Di Banda Aceh harga tiram tanpa cangkang mencapai Rp 25.000 per kilogram.

Syardani menuturkan pemerintah belum menganggap tiram sebagai sumber ekonomi yang menjanjikan bagi warganya sehingga tidak ada pengelolaan dengan baik. “Padahal di restoran elit di kota-kota besar, menu tiram harganya mahal sekali,” kata Syardani.

Budidaya tiram menggunakan media ban bekas dan bagan kini dilirik oleh investor dari Malaysia. Ada wacana tiram dari Banda Aceh dipasarkan ke Malaysia.

“Potensi budidaya tiram sangat besar di Aceh, sebab hampir semua kabupaten/kota memiliki laut, namun tidak dikelola,” kata Syardani.

Dia meyakini jika metode itu diterapkan di banyak wilayah di Aceh, produksi tiram meningkat sehingga bisa dijual ke luar negeri.

Sumber: Kompas edisi 11 Januari 2020 di halaman 12 dengan judul “Syardani M Syarif Ban Bekas untuk Tiram”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *