
Try Utomo Rubiyanto, Mengabdi untuk Kopi Ciremai
Try Utomo Rubiyanto, anak nelayan asal Indramayu, mendedikasikan diri untuk mengangkat kopi lokal Gunung Ciremai. Ia mendampingi petani, memperjuangkan panen petik merah, dan membuka akses pasar ke berbagai kedai. Melalui Koperasi Kopi Nusantara, Try memutus rantai tengkulak, meningkatkan harga jual kopi, dan memperkuat kualitas produksi petani. Meski awalnya diragukan, ia menolak pekerjaan bergaji tinggi demi membina petani kopi. Kedai yang ia rintis bersama istrinya kini berkembang. Ia juga aktif mencetak barista lokal dan menyuplai kopi Ciremai ke banyak daerah. Tekad dan perjuangannya membuatnya layak disebut “pengabdi kopi Ciremai.”
*****
Anak nelayan ini keliling mendampingi petani kopi sekaligus mempertemukannya dengan pasar, pemilik kedai. Inilah kisah pengabdi kopi Ciremai. Kopi robusta asal Cibeureum dan Cibunar serta kopi arabika dari Darma terpajang di etalase dapur Loko Café, Kota Cirebon, Jabar, Rabu (1/1/2020). Kopi yang tumbuh di sekitar Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, itu bersanding kopi Nusantara lainnya, seperti Toraja, Bajawa, hingga Gayo yang telah mendunia.
Kafenya pun bukan sembarang kafe. Loko Café dikelola oleh PT Reska Multi usaha, anak perusaan PT Kereta Api Indonesia (Persero). Perusahaan inilah yang memasok makanan dan minuman di perjalanan kereta. Selain di Cirebon, Loko juga hadir di kota besar, seperti Surabaya, Semarang, dan Purwokerto. Namun, untuk saat ini, kopi lokal Ciremai hanya ada di Cirebon.
Adalah Try, pegiat kopi, yang “mengintervensi” menu kafe bergaya kereta api itu dengan kopi lokal. Kopi tersebut diambil langsung dari tangan petani di Ciremai, gunung tertinggi di Jabar yang mencapai 3.078 meter di atas permukaan laut.
Try juga turut melibatkan empat anak muda setempat sebagai barista di kafe itu. Mereka memajang buku bacaan gratis, seperti Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer serta buku P Swantoro, Masa Lalu Selalu Aktual.
Setiap pekan, kafe yang beroperasi sejak November lalu itu membutuhkan sedikitnya 5 kilogram biji beras kopi (green bean) lokal Ciremai. “Permintaan lebih banyak dari itu. Tetapi, kami harus membagi pasokan kopi kepada belasan kedai di Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Bandung, Karawang, Tangerang (Banten), danYogyakarta,” katanya.
Setiap tahun, Try bersama teman-temannya yang tergabung dalam Koperasi Kopi Nusantara mengumpulkan 10 sampai 12 kuintal kopi khas Ciremai yang dipetik merah. Kopi itu berasal dari petani di Cibeureum, Cibunar, Bungurberes, Salajambe, Darma, serta Bantarujeg, Majalengka. Umumnya, kopi jenis robusta yang tumbuh di di bawah 700 mdpl.
Kopi lokal Ciremai yang menambah varian menu kedai di berbagai daerah itu tidak datang seketika. Apalagi, satu dekade lalu, kopi itu nyaris tidak dinikmati di kedai mana pun. Seperti kopi, perjalanan Try memanggungkan Ciremai penuh dengan rasa pahit, asam, dan kadang manis seperti es kopi susu gula aren.
Secara geografis, Try tidak berkaitan dengan Ciremai. Ia lahir dari keluarga nelayan di daerah pesisir Eretan Wetan, Indramayu, lebih dari 100 kilometer dari Ciremai.
Dibuang
“Waktu kecil saya ‘dibuang’,” ucap Ponga, sapaannya. Ponga merupakan akronim dari ompong tengah karena saat kecil giginya kosong di tengah. Ia tak berkenan dipanggil pongah (plus H) karena bermakna angkuh.
“Waktu saya lahir, ibu membaringkan saya di atas tampah lalu dikeluarkan ke jendela. Uwa (kakak perempuan bapak) saya kemudian mengambilnya. Selanjutnya, dia yang mengasuh saya,” katanya menjelaskan makna kata ‘dibuang’ saat lahir.
Hal itu harus dilakukan karena dua kakaknya sebelumnya meninggal saat bayi. Agar ia, anak ketiga, selamat, pengasuhnya jangan orangtua langsung. Hingga tamat sekolah dasar, Ponga, yang tak lagi ompong di tengah, lebih banyak berinteraksi dengan uwa ketimbang ibunya.
Selanjutnya, ia sekolah di MTs Darussalam Ciamis, jauh dari orangtua. Di sana, ia lebih banyak berinteraksi dengan petani. Saat kuliah di Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon, ia pun memilih Fakultas Pertanian.
Hubungannya dengan tanaman kopi terajut pada 2015, ketika tersentak petani kopi teralienasi. Mereka belum pernah menikmati kopinya. Kopi petani sudah dibeli oleh tengkulak sebelum panen dengan sistem ijon. “Bahkan, petani pemilik pohon kopi di Desa Cibuntu itu tidak bisa lagi mengakses kebunnya setelah ijon,” kenangnya.
Jangankan menentukan harga kopi, petani sebagai produsen harus tunduk dengan mata rantai niaga kopi. Dari tangan petani, kopi itu melalui sedikitnya tiga rantai pengepul sebelum sampai ke perusahaan pembuat kopi. Petani yang panen sekali setahun pun harus puas dengan harga rendah, sekitar Rp 14.000 per kilogram biji beras kopi.
Puluhan tahun pula, petani dibiarkan hanya memetik buah kopi asalan, bukan berwarna merah yang menandakan kematangan buah. Try lalu menjadikan kopi sebagai bahan skripsinya. “Ini juga alasan kepada orangtua untuk mendapatkan dana talangan orangtua,” ucapnya diiringi tawa.
Desa Cibeureum merupakan lokasi penelitiannya. Namun, ia “tenggelam” dalam dunia perkopian. Selama sebulan, Try menginap di rumah petani kopi untuk merasakan keseharian petani. Ia pun mulai mengerti alasan petik asalan karena lebih murah dibandingkan petik merah serta penjemuran kopi di tanah yang menurunkan kualitasnya.
Pada saat bersamaan, ia menimba ilmu dari pegiat kopi Cirebon tentang kopi berkualitas. Bahkan, pembelajarannya sampai ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember. Pengetahuan itu coba ditularkan ke petani meskipun tidak mudah. “Saya diejek. Katanya, mahasiswa cuma bisa teori” ucapnya menirukan ungkapan petani.
Keliling kebun
Komala, petani kopi setempat, menantangnya. Jika Try mampu mencari pasar yang mau membeli, petani bersedia panen petik merah. Ini tidak ringan karena para pengepul selama ini menyerap buah kopi asalan berapa pun banyaknya.
Try pun berkeliling mendatangi sejumlah kedai kopi di Cirebon untuk mengajak membeli hasil panen petani. Bersama teman sekampus, Arif, Sumadi, dan Taufik, ia juga mendirikan kedai Kampus Kopi. Modal awalnya, Rp 12 juta untuk membeli mesin giling dan gerobak. Mereka patungan duit hingga ada yang menjual vespa.
Kampus Kopi bersama sejumlah kedai di Cirebon pun mulai menyerap panen kopi petik merah petani. Blind Bottle termasuk kedai kopi yang awal-awal membeli kopi Cibeureum sekitar 50 kg green bean. Harga jual di petani pun melonjak, Rp 40.000 – Rp 60.000 per kg.
Seiring berjalannya waktu, kedai kopi di Cirebon turut menjual kopi lokal yang rasanya campur, asam, manis, cengkeh, bahkan durian. Permintaan pun melonjak. Try memutuskan berkeliling untuk menginventarisasi kopi Ciremai.
“Ada 33 sampel kopi Ciremai yang berhasil dikumpulkan. Kami bawa ke Bandung untuk scoring (penilaian). Ternyata, sejumlah kedai di Bandung juga tertarik,” ungkapya. Pada 2017, Ia turut menginisiasi Koperasi Kopi Nusantara yang menggabungkan petani, pemilik kedai, juga penikmat kopi.
Koperasi ini memudahkan petani memasarkan hasil panennya. Sebaliknya, para pemilik kedai turut membantu petani meningkatkan kualitas kopinya, seperti memberikan tempat penjemuran dan kredit murah alat penggilingan kopi.
Bahkan, mulai tahun ini, koperasi tersebut menyewakan lahan kopi 80 bata (1.120 meter persegi) dengan 230 pohon kopi arabika. “Awalnya, petani mau menjual kebunnya. Tapi, kami tidak mau petani kehilangan tanah. Jadi, kami sewa saja untuk disewakan lagi,” kata Try yang mengakui koperasinya belum optimal, termasuk belum terdaftar di kementerian terkait.
Meski demikian, Try dan beberapa temannya cukup sukses ‘mencetak’ petani kopi petik merah di sekitar Ciremai. Sebaliknya, Try punya modal jaringan petani untuk menghabiskan waktu lebih dari tiga tahun menulis skripsi. Kuliah lebih dari tujuh tahun tidak sia-sia.
“Try yang pertama merintis kopi Cibeureum sampai ke kedai kopi. Dia sudah saya anggap anak sendiri,” ujar Komala, Ketua Kelompok Tani Kopi Ratu Asih Desa Cibeureum. Kini, daerah itu dijadikan desa wisata kopi oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon.
Tekadnya mengembangkan kopi Ciremai membuatnya menolak tawaran kerjaan di perekebunan sawit di Kepulauan Riau oleh keluarganya. Padahal, gaji bersihnya lebih dari Rp 5 juta. Dua kali lipat di atas upah minimum Kabupaten Indramayu. “Gara-gara kebakaran kebun sawit, iklim jadi terganggu. Makanya, rumah kita selalu kena rob,” ucapnya kepada orangtuanya.
Sebelum menikah, mertuanya juga sempat meragukan masa depan Try sebagai pemilik kedai kopi. Apalagi, kedai yang ia buka bersama sang istri, Ririn Rinanti, di dekat Pasar Jatibarang sepi peminat. Kopi lokal pun dijual Rp 5.000 per gelas, seperti kopi saset.
“Bulan pertama, kami nombok. Enggak apa-apa, rasanya senang lihat orang ngopi pakai kopi lokal. Sekarang, empat hari saja, omzet bisa Rp 2 juta,” katanya diiringi senyum. Rasanya tidak berlebihan kalau Try dipanggil pengabdi kopi Ciremai.
Sumber: Kompas edisi 07 Januari 2020 di halaman 12 dengan judul “Try Utomo Rubiyanto, Pengabdi Kopi Ciremai “.
Leave a Reply