
DIEGO YANUAR, Menembus Batas di Sahara
Oleh Fabio Maria Lopes Costa, Cornelius Helmy
Muhammad Diego Yanuar (38) berhasil menuntaskan lomba lari Marathon des Sables (MdS) Legendary 2025 sejauh 250 kilometer di Gurun Sahara, Maroko. Diego menempuh rute sejauh 250 kilometer, di salah satu lokasi terliar di dunia itu, dengan menggunakan sandal.
”Itu adalah MdS pertama saya. Untuk pertama kalinya juga saya ada di Afrika. Baru kala itu saya juga berlari di Gurun Sahara. Namun, saya siap. Selain percaya proses latihan, keluarga mendukung penuh saya untuk berlari di sana,” ujar Diego kepada Kompas, akhir pekan lalu.
Akan tetapi, tidak seperti 900 peserta MdS lainnya, Diego melakukan perjalanan panjang selama 6-12 hari itu dengan cara berbeda.
Diego berlari tanpa sepatu. Baginya, sandal bukan sekadar gaya. Dia kerap melakukan lari jarak jauh dengan sandal. Selama itu, ia merasakan fisik dan mentalnya lebih menyatu dengan semua yang dia pijak saat berlari menggunakan sandal.
”Saya melakukannya bukan tanpa persiapan. Sebelum ini, sudah bertahun-tahun saya berlatih dan membiasakan diri berlari dengan sandal yang dirancang untuk berlari jarak jauh,” katanya.
Persiapan dan latihan itu juga yang membawanya berhasil menempuh enam etape di MdS. Setiap etape ditempuh 30 km hingga 82 km.
”Perjalanan ini tidak mudah, tetapi menorehkan banyak pelajaran dalam hidup. Semua mengajarkan pentingnya kekuatan mental, fisik, dan dukungan orang terdekat,” kata Diego yang kini tinggal di Arnhem, Belanda.
Diego tidak asal bicara. Gurun Sahara mengajarkan banyak hal. Selama sepekan, ia bertahan hidup hanya dengan tas ransel berkapasitas 20 liter dengan berat mencapai 11 kilogram.
Kedua kakinya yang hanya dibalut sandal juga membantunya terus berlari di tengah berbagai rintangan. Padahal, entah berapa banyak duri padang pasir melukainya. Dia juga tidak ingat lagi berapa banyak semut gurun yang menggigiti kakinya.
”Suhu saat siang di Gurun Sahara yang mencapai 50 derajat celsius dan malam menyentuh 10 derajat celsius benar-benar menantang batas diri ini,” kata Diego.
Akan tetapi, tidak hanya hal perih yang ia ingat. Hingga kini, Diego masih benar-benar terkesan dengan keteguhan dan kebaikan teman-teman sesama pelari. Mereka saling memberi semangat, baik saat berlari maupun beristirahat di tenda.
”Tidak ada secuil pun niat menunjukkan sesuatu kepada siapa pun. Saya hanya ingin jadi diri sendiri sembari menembus batas kemampuan diri,” harap Diego yang berlari selama 40 jam 44 menit saat menjelajahi jalur maut MdS.
Diego mulai berlari sejak masih tinggal di Indonesia tahun 2013. Ia memulainya dari kompleks rumahnya di Depok sejak tahun 2013. Saat itu, Diego melakukannya sebagai persiapan mendaki Gunung Gede.
Akan tetapi, setelah Gunung Gede didaki, ia mulai ketagihan berlari. Sedikit demi sedikit, ia mulai menaikkan jarak tempuh. Lebih jauh dan lebih sulit. Dari jalan depan rumahnya, ia mulai melatih mental dan fisiknya lewat berbagai lomba lari.
”Beberapa lomba mulai saya ikuti, 10-42 K,” ungkap Diego yang kini berprofesi sebagai fotografer dan videografer.
Saat maraton di jalan raya berjarak 42 km belum cukup, Diego menjajal hal lain. Dua tahun setelah belajar berlari, ia ikut serta dalam Bromo Tengger Semeru Ultra Trail Run di Jawa Timur. Ia menjajal satu per satu nomor yang diselenggarakan, mulai dari 70 K, 102 K, hingga 170 K. Seperti namanya, ia menjelajahi Gunung Bromo saat berlari.
”Saya membutuhkan tujuh kali kesempatan baru menuntaskan semua nomor di sana. Pertama ikut 2015, saya baru di tahun 2024 menyelesaikan kategori 170 K,” kata Diego.
Akan tetapi, Diego tidak hanya berlari. Tahun 2018-2019, ia juga bersepeda jarak jauh dari Nijmegen di Belanda menuju Jakarta di Indonesia.
Tidak tanggung-tanggung, selama itu dia menyinggahi 23 negara di Eropa dan Asia selama 11 bulan 15 hari. Saat itu, bersama mantan istrinya, Marlies Fennema, warga Belanda, Diego mengampanyekan pentingnya makna kehidupan bagi semua makhluk hidup.
”Salah satu pengalaman yang membuat kami terkesan adalah ketulusan hati warga di perdesaan Iran, Tajikistan, hingga Turki, dan lainnya. Kami tidak saling kenal. Namun, saat datang dengan sepeda dan beban masing-masing bisa mencapai 25 kilogram di punggung, secara spontan mereka memberi makanan dan minuman. Bahkan, meminta kami singgah ke rumahnya,” tuturnya.
Tidak ingin dinikmati sendiri, keduanya mendokumentasikan perjalanan itu lewat berbagai karya. Di media sosial, mereka membagikan kisahnya lewat akun @everythinginbetween.journal.
Ada juga film berjudul The Bikes’s Journal. Film tersebut dikemas secara ringan dalam durasi 55 menit dan bisa dilihat di Youtube. Marlies juga sudah menerbitkan buku cerita anak dalam bahasa Indonesia dan Belanda. Kisahnya berlatar belakang perjalanan panjang keduanya.
Perjalanan ini juga menggugah hati para donatur. Hasilnya luar biasa. Total sumbangan yang mereka raih mencapai 22.000 euro atau dikonversikan sebesar Rp 410 juta dengan nilai tukar saat ini.
Semuanya disumbangkan ke Yayasan Lestari Sayang Anak, Kebun Kumara, Jakarta Animal Aid Network. ”Sebelumnya kami hanya menargetkan sumbangan 15.000 euro. Ternyata, kampanye kami mendapatkan simpati besar dari banyak masyarakat,” ucapnya.
Ke depan, Diego belum ingin berhenti. Dia mengatakan, Sahara sungguh ajaib. Namun, ia yakin petualangan masih belum berakhir.
Masih ada berbagai perjalanan yang ingin ia tempuh, baik bersepeda maupun berlari. Dia belum tahu apa dan bagaimana perjalanannya kelak. Namun, Diego mengatakan akan menerima semuanya dengan hati terbuka dan tidak takut menjadi diri sendiri.***
BIODATA
Lahir: Jakarta, 4 Januari 1987
Pendidikan terakhir: S-1 Ekonomi Prasetiya Mulya.
Sumber: Kliping Kompas edisi Selasa 6 Mei 2025.