Hetty Kus Endang, Semangat Pemberdayaan dari Sehelai Kain

Hetty Kus Endang (35) tak sekadar berkontribusi pada pelestarian kain pantang di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Melalui Galeri Kain Pantang serta Yayasan Rumah Belajar yang dia dirikan, Hetty mengejawantahkan visi pemberdayaan perempuan serta kelestarian lingkungan.

Oleh: Emanuel Edi Saputra

Koleksi kain pantang (tenun ikat Dayak) Galeri Kain Pantang milik Hetty dapat disaksikan tatkala mengunjungi pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta, Rabu (23/4/2025). Puluhan kain pantang itu merupakan karya para artisan penenun dari masyarakat Dayak Desa di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Dalam bahasa setempat, pantang atau mematang artinya menenun. Ada beragam motif di setiap helai kain pantang. Salah satu motifnya adalah ruit besai, yang bermakna kepemimpinan dan mengayomi. Ada pula motif tiang kebuk, terinspirasi dari tiang di rumah panjang (rumah khas masyarakat Dayak), simbol keteguhan dan kekuatan.

Hetty lahir dan tinggal di Kabupaten Sintang. Rabu siang itu, dia tengah mampir ke Jakarta sepulang menghadiri diskusi terkait wastra Nusantara di Salatiga, Jawa Tengah.

Kain pantang merupakan salah satu kekayaan budaya di Kabupaten Sintang. Kain pantang dikerjakan oleh perempuan, baik yang tinggal di rumah panjang maupun di rumah-rumah tunggal. Hetty sudah akrab dengan kain pantang sejak kecil.

Pada 2014, Hetty melihat banyak artisan kesulitan memasarkan kain pantang. Karya-karya yang menawan itu hanya disimpan di lemari, dipajang di rumah, atau dijadikan gorden. Padahal, sehelai kain pantang merupakan warisan yang sangat bernilai karena dibuat secara manual. “Artisan juga banyak yang sudah berusia lebih dari 40 tahun,” katanya.

Hetty pun terdorong untuk berkontribusi menyelamatkan warisan budaya itu. Hal itu dia mulai dengan menggunakan kain pantang dalam berbagai kesempatan.

“Saya juga mulai mempromosikan kain pantang kepada teman-teman dari mulut ke mulut hingga melalui media sosial pribadi. Itu cikal bakalnya,” katanya.

Namun, upaya itu tidak mudah karena tidak semua orang menyukai kain tenun. Bagi sebagian orang, harganya juga dipandang mahal. Ini karena dikerjakan secara manual dan memakan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan sehelai kain.

Hetty pun berupaya membantu para artisan membuka akses pasar. Tujuannya, para artisan terus semangat menenun karena melihat karya yang mereka produksi memiliki nilai ekonomi.

Perlahan, keluarga terdekat dan sejumlah artisan di daerahnya meminta bantuan Hetty untuk memasarkan produk mereka. Biasanya, untuk memasarkan kain pantang, mereka memerlukan perjalanan dari kampung dengan jarak tempuh sekitar dua jam menuju Kota Sintang, ibu kota Kabupaten Sintang. “Itu pun belum tentu laku,” katanya.

Pada 2015, Hetty menggunakan media sosial pribadinya untuk membantu pemasaran. Pasarnya saat itu masih di Jakarta dan Bali. Hetty juga akhirnya memberdayakan para artisan yang berjumlah sekitar 130 orang, berasal dari empat desa di empat kecamatan di Kabupaten Sintang.

Seiring waktu, Hetty mendirikan Galeri Kain Pantang di Kota Sintang, di rumah pribadinya yang disulap menjadi galeri karena keterbatasan. Namun, hal itu tidak menjadi kendala bagi Hetty untuk terus berjuang bersama para artisan.

Hetty pun memberdayakan para artisan untuk menenun. Tenun hasil produksi mereka dipasarkan melalui Galeri Kain Pantang. Ia mengadopsi dari artisan. Para pencinta wastra lebih akrab menggunakan kain tenun karena dalam sehelai wastra terdapat roh, cinta, makna, dan harapan di setiap motifnya.

Kepercayaan dari para artisan membuat Galeri Kain Pantang bertumbuh. Sejak awal mereka memberikan kepercayaan kepada Hetty dengan menitipkan kain-kain mereka di rumah Hetty agar dikelola dengan baik untuk mencari akses pasar.

Dari keuntungan galeri, Hetty terkadang menyisihkan sebagian untuk modal bagi para artisan membeli benang. Jika ada petenun memerlukan uang karena keperluan mendesak, misalnya untuk pendidikan anak, Hetty pun meminjamkan sejumlah uang terlebih dahulu. Setelah itu, petenun bisa barter dengan kain pantang.

“Tenun menjadi penghasilan utama untuk membiayai anak-anak mereka sekolah,” katanya.

Pemberdayaan

Menurut Hetty, kain pantang tidak hanya sebatas produk. Di dalamnya juga terdapat pemberdayaan perempuan, upaya menjaga tradisi, sekaligus berkontribusi pada kemanusiaan karena bisa membantu banyak orang. Selain itu, terdapat juga visi kelestarian lingkungan.

“Visi lingkungan itu dilihat dari penggunaan pewarna alami dari beragam tumbuhan di hutan. Mereka pun bisa menanamnya kembali. Bahkan, pewarna pun bisa ditanam di sekitar rumah, misalnya kunyit, jambu biji, dan mangga,” katanya.

Selain mendirikan galeri sebagai wadah karya para artisan, Hetty juga mendirikan Yayasan Rumah Belajar Kain Pantang di Kota Sintang pada 2024. Rumah Belajar menjadi sarana belajar, meliputi pengenalan bagi generasi muda dan siapa saja yang ingin melihat prosesnya, mulai dari menenun hingga pewarnaan alami.

Rumah Belajar itu juga sering kali dikunjungi siswa sekolah, mahasiswa, wisatawan, dan pihak lainnya untuk mengenal tenun. Harapannya dapat memunculkan keinginan belajar lebih lanjut. Saat ada kunjungan, biasanya para petenun berkumpul di Rumah Belajar.

Rumah Belajar juga menjadi tempat transfer ilmu dari para petenun kepada generasi muda. Saat ini, terdapat 15-20 anak sudah mau belajar menenun sepulang dari sekolah. Mereka belajar mengikat, mewarnai, serta membuat motif ringan untuk membantu orangtua mereka.

Di Rumah Belajar itu pula Hetty memberikan pendampingan kepada petenun agar tetap menjaga kualitas produk mereka. Termasuk menyesuaikan dengan selera pasar, baik dari sisi pemasaran, ukuran, maupun pewarnaan agar produk mereka diterima.

Galeri Kain Pantang pun kian sering diundang dalam berbagai pameran. Hetty juga kerap menjadi pembicara dalam berbagai diskusi tentang wastra. Dari situ juga, tenun koleksi Galeri Kain Pantang karya para artisan kian dikenal.
Bahkan, tenun-tenun itu kerap ditampilkan dalam peragaan busana. Dalam ajang Karya Kreatif Indonesia pada 2023, misalnya, kain pantang lolos kurasi untuk fashion show di Jakarta.

”Dari situ pula produk kain pantang dilirik, misalnya oleh manajemen pusat perbelanjaan Sarinah. Setelah melalui berbagai proses kurasi, produk galeri dinilai layak untuk dipasarkan di Sarinah pada 2024,” kata perempuan kelahiran 1990 itu.

Koleksi Galeri Kain Pantang milik Hetty juga menjadi busana sejumlah delegasi very very important person (VVIP) pada Forum Air Sedunia (World Water Forum) Ke-10, di Bali, Mei 2024. Ada sekitar 30 set yang dipesan setelah melalui serangkaian proses kurasi.
”Awalnya saya sempat galau, apakah mampu memenuhinya. Namun, akhirnya peluang itu tidak kami sia-siakan. Saya kumpulkan para artisan untuk mengerjakan pesanan itu,” kata Hetty.

Motif yang digunakan saat itu disesuaikan dengan karakter delegasi, misalnya ruit besai yang berisi pesan tentang kepemimpinan, mengayomi, dan kerja sama. Motif-motif itu di daerah asalnya biasanya hanya digunakan para tetua adat.

Hetty menyadari, untuk melestarikan warisan budaya, memberdayakan petenun, serta meregenerasi petenun, diperlukan upaya terus-menerus. Dengan kecintaan pada warisan budaya leluhurya, Hetty ingin terus belajar dan melakukan sesuatu yang bisa berdampak bagi banyak orang. ***

Artikel ini bersumber dari Kliping Kompas edisi Jumat 25 April 2025 halaman 16.