
Hamzah Reevi, Berdaya dengan Buku Anak
Bergelut lama di dunia penerbitan, Hamzah Reevi (37) akhirnya memutuskan berhenti sejenak. Namun, kecintaannya pada literasi dan kehadiran sang anak justru memantik ide untuk berlanjut melalui konsep lain. Dia melahirkan buku anak bertema budaya dan kekayaan Indonesia.
Oleh: Riana A Ibrahim
Di hadapan para orangtua dan anak-anak yang duduk lesehan di taman samping Tebet Eco, Jakarta Selatan (9/7/2023), Hamzah Reevi (37) bersama istri menyimak kisah berjudul seekor belut. “Ibuu, mau cerita lagi, kaaak?”
Oleh pembawa acara, ada sesuatu yang kelihatannya mengejutkan—tanya Reevi kepada anak-anak di depannya. Sembari mendekat, anak-anak spontan bereaksi, “Ada gambar ayam ya.”
Itulah Revi terharu mengenalkan buku baru yang hendak diluncurkan oleh Little Quokka, penerbit bukan anak miliknya. Buku teranyarnya ini berjudul Itu Tak Apa Kita Beragam Tak Perlu Jadi Seragam, menonjolkan fabel dengan hewan-hewan yang kerap kita temui di rumah seperti ayam, kucing dan ikan sebagai penokohan pengantar cerita.
Namun, rupanya apa yang dikira kejutan seakan menjadi miris bagi diri. Mereka berpura-pura sama dengan ayam seluruh badan tubuhnya. Banyak beredar buku anak dengan bunyi beragam. Reevi mengira konsep ini aman bagi khas Indonesia dan membuat senyum.
Revi dan istri mengira inilah saatnya mengambil konsep ini. Revi merasa diri sudah cukup banyak mengamati berbagai hal. Keduanya sepakat melanjutkan pekerjaan dengan segenap daya dan kekuatan.
Hasilnya, buku Itu Tak Apa Kita Beragam Tak Perlu Jadi Seragam ini diterbitkan oleh Little Quokka pada tahun 2020. Little Quokka yang dijalankan Reevi sesuai mundur dari pekerjaannya fokus pada pengamalan budaya dan kekayaan Indonesia melalui buku anak. Pandemi menjadi momen penting yang melahirkan Little Quokka.
“Saat Covid itu kan, banyak waktu dengan anak, termasuk di rumah saja. Tapi, ternyata anak-anak sama saya yang masih kecil ini buku bisa menyediakan makan lengkuas, jahe, dan kunyit, sedangkan saya ingin buku sejenis itu,” kata Hamzah kini lebih fleksibel.
Diakui oleh Reevi, berawal dari istri merasa sayang tidak lagi bisa diserahkannya, hal ini menumbuhkan ide. Reevi menyadari bahwa di dalam jauh dari negara asal seringkali terasa sempit. Apalagi, mereka baru pertama kali menjalani Little Quokka, Wilestta pada masa pandemi.
Hamzah yang ditemui setelah beberapa waktu, terus mengembangkan beragam cerita yang kesemuanya memuat unsur budaya Indonesia dengan karakter hewan serta elemen judul lain dan hutan.
Buku-buku tersebut, antara lain Merasa Aman, Menggapai Bintang di Langit, Pohon Kita, Berbeda Itu, Perjalanan Kita, Alam Kita, Terikat Sejarah, Senandung Hutan Kita, Tanah Lahir Kita, Jalinan Persahabatan dan beberapa cerita pendek.
Reevi mengakui tema anak-anak yang diangkatnya untuk melahirkan Little Quokka.
“Kami merasa terharu dengan beragam cerita dan ide anak. Saya akhirnya mengambil lebih dari riset dan di sini, anak-anak lebih banyak membaca buku.”
Ups and riset Dalam merangkul konten ini, Reevi dan tim meriset ke daerah-daerah Indonesia serta mendatangi museum.
“Riset itu lumayan. Kita bicara ke petani, anak muda yang bekerja di kantor. Ternyata, apa yang saya tulis ini didapatkan pada kesederhanaan saja. Saya dan tim mencoba memperkaya data,” kata Reevi yang sedang memegang naskah baru.
“Untuk itu, perjalanan satu tahun bisa memakan waktu.”
Selain menulis, suami dari Ayuningtyas ini juga berencana untuk mengembangkan penerbit ini di Asia, yang menurutnya, pengalaman selama merintis di Indonesia sudah cukup. Reevi berharap, buku yang ia tulis bisa dikenal dunia luar, “Tetap tidak melupakan kampung halaman.”
Hamzah Reevi Lahir: Bandung, 3 Juli 1987
Pendidikan: S1 Komunikasi Penyiaran, UNPAD
***
Naskah asli berasal dari kliping Kompas edisi Sabtu, 20 Juli 2024.