Laksmi Pamuntjak, Kembali Raih Penghargaan

Laksmi Pamuntjak menuturkan bahwa menjadi penulis sukses di tingkat internasional membutuhkan karya berkualitas serta kemampuan memahami bahasa dan konteks budaya negara lain. Dalam jumpa pers daring, ia menceritakan pengalamannya setelah novel berbahasa Inggrisnya, Fall Baby, meraih Best Literary Work-Singapore Book Awards 2020. Tinggal di Jerman, Laksmi menghadapi tantangan karena masyarakat di sana sangat privat, tidak suka promosi diri, dan memiliki standar tinggi terhadap pengetahuan sejarah, filosofi, musik, serta sastra. Ia menekankan pentingnya menyesuaikan diri dengan sensitivitas budaya setempat agar dianggap serius sebagai penulis asing.

*****

Menjadi penulis sukses di arena internasional bukan perkara gampang. Untuk mencapai itu, seorang penulis setidaknya harus mampu menghasilkan karya-karya berkualitas. Selain itu, juga punya kemampuan menulis atau menerjemahkan karyanya ke dalam bahasa asing, dengan memperhatikan benar rincian latar belakang sejarah, filosofi, sosial, dan budaya negara bersangkutan.

Hal itu disampaikan novelis, penyair, esais, yang juga penulis kuliner dwibahasa, Laksmi Pamuntjak, saat menceritakan pengalamannya dalam jumpa pers daring, Selasa (18/8/2020).

Novel Laksmi, Fall Baby, baru saja meraih penghargaan Best Literary Work-Singapore Book Awards 2020, yang diumumkan secara daring, Kamis (13/8/2020). Novel Fall Baby adalah karya Laksmi dalam bahasa Inggris, yang diterbitkan Penguin Random House SEA tahun 2019 dan menjadi bestseller di kawasan Asia Tenggara.

Novel tersebut lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Kekasih Musim Gugur, yang resmi dirilis Gramedia Pustaka Utama pada 3 Agustus lalu.

”Ada banyak hal unik saya alami saat hidup sebagai seorang penulis di Jerman. Saya pernah hidup di Inggris. Berbeda dengan Inggris dan Amerika Serikat, masyarakat Jerman sangat privat dan tak terlalu suka media sosial. Mereka tak terlalu suka ide mempromosikan diri lewat media sosial. Orang yang terlalu kencang begitu dianggap enggak serius,” ujar Laksmi yang kini tinggal di Berlin, Jerman.

Laksmi mengaku berupaya selalu menyesuaikan diri dengan sensitivitas di sana. Selain itu, agar juga dianggap serius dan diperhitungkan di Jerman, seorang penulis diharapkan punya kemampuan dan pemahaman tentang banyak hal terkait Jerman. Termasuk juga soal filosofi dan latar belakang sejarah negeri itu.

”Intinya orang Jerman sangat menghargai orang yang berbudaya, tahu soal musik, dan banyak membaca karya sastra. Semua itu tantangan tersendiri karena saat kita menulis (terkait Jerman) ekspektasinya akan sangat tinggi. Sebagai orang luar, kita akan dinilai oleh orang-orang, yang mengerti sejarah mereka sendiri. Hal itu bukanlah main-main,” ujar Laksmi.

Sumber: Kompas.id, Laksmi Pamuntjak Kembali Raih Penghargaan, 28 Agt 2020 05:00 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *