Dewi Lestari, Harapan Terus Produktif

Dewi Lestari berharap dapat terus produktif dan berkarya seperti Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad yang dikaguminya. Dalam bincang daring ”Inspirasi di Tengah Pandemi” (18/5/2020), Dee menyoroti dedikasi dan semangat berkarya para sastrawan senior itu. Ia membagikan tips menulis, salah satunya membuat jurnal harian untuk refleksi diri dan melatih komunikasi yang sistematis. Menurutnya, membaca dan menulis harus berjalan seiring. Selama pandemi, Dee membuka kelas menulis daring bertajuk #kaizenwritingworkshop yang sudah dua gelombang digelar dan selalu penuh. Ia berencana mengadakan gelombang ketiga pada Agustus.

*****

Berkecimpung di dunia seni dan sastra memang tidak ada batas waktu. Penulis Dewi Lestari (44) yang akrab disapa Dee pun berharap dapat terus produktif, aktif berkarya, dan berguna bagi banyak orang seperti sejumlah sosok sastrawan yang sangat dihargainya. Untuk tokoh sastra Indonesia, Dee mengagumi Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad.

”Kagum dengan dedikasi, komitmen, dan semangat berkreasi. Sapardi Djoko Damono, beliau di usia yang sudah begitu senior, tapi tetap updated dan punya presence di sosial media. Beliau juga masih aktif berkarya, bahkan berinovasi dengan kolaborasi bersama penulis yang masih muda. Ini butuh freshness dan stamina juga. Kalau dikasih umur panjang, saya ingin juga bisa terus produktif,” ungkap Dee saat berbincang daring pada Senin (18/5/2020).

Lewat bincang bertajuk ”Inspirasi di Tengah Pandemi’, Dee memberikan tips bagi orang-orang untuk menulis. Salah satunya adalah dengan menulis jurnal harian. ”Menulis jurnal sangat saya anjurkan. Itu, kan, merefleksikan kehidupan. Sekarang ada juga yang digital, jadi lebih mudah,” ujar Dee.

Menurut dia, menulis juga berfungsi melatih diri untuk dapat berkomunikasi lebih sistematis. Selama ini, orang memiliki hobi membaca, tapi urung menulis. Padahal membaca dan menulis, lanjut dia, seperti orang bernapas. ”Satu mengembus, satu menarik napas. Menulis akan garing kalau enggak punya stimulus. Itu bisa didapat dari membaca. Baca terus, tapi tidak menulis juga sulit. Jadi kalau ada ritual membaca, buat juga ritual menulis. Paling tidak 30 menit atau 1 jam,” saran Dee.

Di tengah pandemi ini, Dee juga memanfaatkan sarana daring untuk membuka kelas menulis bagi publik. Sudah dua kali gelombang pelatihan bertajuk #kaizenwritingworkshop digelar dan terjual habis. Dalam pelatihan ini, Dee tidak sekadar mengajar, tetapi juga menyediakan berbagai modul bagi para pesertanya.

Banyaknya peminat pun membuat Dee berencana kembali menyelenggarakan gelombang ketiga kelas menulis tersebut. ”Mudah-mudahan di Agustus ada lagi,” ungkap Dee.

Sumber: Kompas.id, Dewi Lestari Harapan Terus Produktif, 28 Mei 2020 02:32 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *