Anggun Priambodo, Kekritisan lewat Seni Visual

Jejak berkesenian Anggun Priambodo (47) tak hanya tergurat di banyak negara. Ia juga mengusung kepekaannya hingga menyabet deretan penghargaan. Ia memampangkan pesan-pesan soal mitigasi, langgam tontonan yang repetitif, sampai korban-korban Tragedi Mei 1998.

Oleh Dwi Bayu Radius

Saat ini, Anggun telah siap menyongsong rentetan proyeknya. Ia, misalnya, dijadwalkan menjadi kurator Kids Biennale di Jakarta pada Juli mendatang selama sebulan.

Di sini, peserta berumur 6-17 tahun mengaktualisasikan diri dengan seni rupa. Untuk mereka yang berkebutuhan khusus diperbolehkan hingga usia 22 tahun. ”Ada juga pertunjukan, film, musik, gim, dan animasi. Lalu, sastra berupa baca puisi dan cerpen,” tuturnya di Jakarta, Rabu (23/4/2025).

Anggun ikut mendorong anak-anak dan remaja Aceh hingga Papua untuk berpameran. Pendaftaran sudah dibuka sejak Februari 2025. Setelah tersaring sekitar 100 peserta, mereka akan memamerkan karyanya sekaligus merayakan Hari Anak Nasional di Galeri Nasional Indonesia.

”Digelar pertama kalinya. Pecah telur. Supaya mereka punya ruang berekspresi juga. Diagendakan dua tahun sekali,” kata seniman multidimensi yang juga menggeluti grafis, multimedia, hingga musik ini.

Anggun tengah berancang-ancang untuk menggarap film terbaru meski enggan mengungkapkannya lebih jauh. ”Lagi mengembangkan ide, tapi belum sampai perencanaan produksi. Masih nulis, malah baru meraba-raba. Mungkin, tahun depan baru dirilis,” ujarnya.

Kesadaran bencana

Anggun telah menggondol bermacam prestasi. Ia, umpamanya, menorehkan prestasi dalam festival film paling bergengsi di Tanah Air. Berwahanakan Evakuasi Mama Emola, pemenang Film Pendek Terbaik Festival Film Indonesia 2023 tersebut mengetengahkan sintesis eksternal dan internalitas manusia.

Ia menggedor kesadaran mengenai bencana alam yang sebenarnya dekat dengan keseharian masyarakat. Betapa Indonesia yang dilingkari cincin api sebenarnya sangat lekat dengan gempa, erupsi, dan tsunami. Anggun membumikan plotnya dengan kerisauan Julius yang tengah mendekam di bui.

Ia diizinkan sipir untuk menyelamatkan ibunya yang sudah uzur seusai desanya dilanda gempa dengan potensi tsunami. Anggun menyelipkan kegelisahannya lewat sekuens para oportunis yang ingin mengeruk keuntungan dengan dalih petugas evakuasi.

Anggun juga menampilkan kehidupan di penjara yang kurang terekspos, berikut humanisme seiring merebaknya bencana. Tak sekadar membentangkan keindahan Indonesia timur, tepatnya di Ternate, Maluku Utara, lantaran ia juga mengangkat kekayaan budaya yang jarang ditelusuri.

Ia sungguh tak menyangka Piala Citra akan jatuh dalam genggamannya. Bagi Anggun, jangankan menapaki pentas, menembus nominasi saja sudah sangat menggembirakan. ”Karya bagi saya mewakili emosi, tapi bisa dapat bonus penghargaan. Senang banget diapresiasi festival yang sudah lama digelar,” ucapnya.

Anggun juga merebut Jury Prize for Best Short Film dalam Sundance Film Festival Asia pada tahun 2022. Film berdurasi sekitar 20 menit itu turut dipremierkan dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival dan 52nd International Film Festival Rotterdam di Belanda.

Berkat kekritisannya, Anggun juga memboyong 1st winner lewat video seni Sinema Elektronik dalam Bandung Contemporary Art Awards pada tahun 2010. Ia menjadi pelakon dalam parodi itu untuk memvisualkan keunikan karakter-karakter dalam sinetron.

Anggun menertawakan diri sendiri dengan komedi yang eksesif untuk menyentil stereotipe ragam serial tersebut pada masa jayanya. Ia menyoroti budaya televisi yang bertransisi dari analog mulai dekade 1990-an menuju digitalisasi di ambang abad ke-21.

Baru pertama

Pengakuan paling berkesan diraih penggemar Teguh Karya, Nya’ Abbas Akup, dan Tumpal Tampubolon itu saat menerima MTV Music Award kategori sutradara terbaik pada tahun 2004. Bersama vokalis grup musik elektronik Goodnight Electric, Henry Foundation, mereka berhimpun dengan label The Jadugar.

”Fokusnya, memang bikin video. Produksinya murah sekali dengan semangat independen. Saya melihat TV adalah ruang galeri atau presentasi baru,” tuturnya. The Jadugar yang didampingi produser Nana Suryadi bahkan baru pertama kali membuat klip video.

Meski bukan pula berada di bawah perusahaan besar, dibintangi band indie, dan mengaplikasikan suara-suara alternatif pada masanya, The Jadugar tetap menempati posisi puncak bermediakan klip video ”Train Song” yang dilantunkan band Lain.

Anggun telah mencetak delapan film pendek dan lebih dari 10 video seni. Kompilasi tujuh video seni besutan Anggun selama 12 tahun hingga 2015 bertajuk ”Nakal” dengan durasi sekitar 30 menit juga ditayangkan platform digital lokal, Rangkai.

Boleh jadi, yang tampak hanya gagasan kecil atau remeh-temeh, tetapi Anggun sejatinya berbicara tentang kompleksitas psikologis. Ia mewarnai setiap filmnya dengan pakem yang berbeda-beda. Karya-karya Anggun silih berganti dilaburi absurditas, keabstrakan, komikal, sampai satir.

Anggun sebenarnya realis yang mengabadikan substansi-substansi manusia. Ketua Ikatan Alumni Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta itu telah melanglang ke Yogyakarta, Makassar, Denpasar, Bandung, Padang Panjang, Ambon, Magelang, Bandar Lampung, dan Medan.

Kreasi Anggun pun sungguh universal hingga menembus sekat-sekat kebangsaan dengan ekshibisi di Amerika Serikat, Malaysia, Belanda, Jepang, Yunani, Australia, Ceko, Korea Selatan, Swiss, Thailand, Perancis, Spanyol, Singapura, dan Taiwan.

”Harapan saya, menjangkau audiens yang lebih luas di negara-negara lain. Mereka juga bisa merasakan kreativitas saya,” katanya sambil tersenyum. Ia menampik misi budaya untuk mengistilahkan eksplorasinya, melainkan lebih menyentuh kemanusiaan dan menyuguhkan egalitarisme.

Semula, Anggun menggumuli seni rupa, tetapi persinggungan dengan film pendek membuka dunia baru yang lantas digandrunginya. Video eksperimen berlanjut dengan penyutradaraan film pendek, Di Mana Saya?, tahun 2008. Ia mencurahkan keprihatinannya itu dalam 9808 Antologi 10 Tahun Reformasi.

Lebih dari sekadar hiburan, Anggun memaknai film sebagai perekam zaman. Mulai dari sosial, politik, ekonomi, hingga gaya hidup, sineas memotretnya untuk dipelajari. ”Bisa jadi ajang untuk riset. Bicara tentang manusianya juga menarik,” ujarnya.

Baru-baru ini, Anggun meluncurkan album Aku Takut Cicak & Ketinggian. Berkolaborasi dengan musisi Harlan Boer, vokalis Tanya Ditaputri, dan seniman grafis Syaiful Ardianto, kompilasi delapan lagu itu telah diunggah pada pertengahan April 2025.

”Buat saya, karya-karya ternyata saling berkaitan untuk memperkaya budaya. Inspirasinya nanti menjadi karya lagi,” ucapnya. ***


Anggun Priambodo

Lahir: Trenggalek, Jawa Timur, 16 Mei 1977

Pendidikan:

SD Trisula Perwari, Jakarta

SMP Negeri 216, Jakarta

SMA Negeri 34, Jakarta

S1 Program Studi Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Kesenian Jakarta.

Sumber: Kliping Kompas edisi 25 April 2025