Cantika, Pembuka Jalan Perburuan Medali Olimpiade

Windy Cantika Aisah (19), lifter putri Indonesia, meraih medali perunggu di Olimpiade Tokyo 2020 kelas 49 kg dengan total angkatan 194 kg. Inspirasi datang dari ibunya, Siti Aisah, mantan atlet angkat besi. Cantika mulai berlatih sejak kecil, awalnya meniru gerakan kakak dengan gagang sapu, lalu dibimbing ibunya menggunakan alat dari pipa paralon dan semen. Disiplin dan kegigihan terlihat dari latihan intensifnya hingga 19.00 WIB, serta ketekunan di ajang internasional meski sempat gagal di angkatan snatch. Raihan medali ini menjadi medali pertama Indonesia di Olimpiade Tokyo, membangkitkan kebanggaan, motivasi, dan harapan bagi masyarakat.

*****

Sejak kecil, lifter putri Indonesia, Windy Cantika Aisah (19), telah mewarisi jiwa petarung dan kegigihan dari ibunya yang mantan atlet angkat besi, Siti Aisah. Berawal dari mengangkat gagang sapu, Cantika meraih medali perunggu pada debutnya di Olimpiade, yaitu di Tokyo 2020.

Suasana tegang menyelimuti salah satu rumah di Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (24/7/2021). Pemilik rumah, Siti Aisah (51), menantikan cemas aksi putrinya, Cantika, di laga angkat besi kelas 49 kilogram. Meskipun terpisah sekitar 5.800 kilometer dan terhalang layar kaca, semuanya terasa begitu nyata bagi Aisah.

Ketegangan ini berakhir dengan air mata bahagia saat Cantika mendapatkan posisi ketiga dengan total angkatan 194 kilogram. Dara asal Kabupaten Bandung ini pun menjadi penyumbang medali pertama bagi Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020. Cantika mendapatkan angkatan snatch seberat 84 kg dan clean and jerk 110 kg.

Tiada yang lebih bangga ketimbang ibunya, Aisah. ”Saya melihatnya sambil berurai air mata. Doa kami dari awal mengantar Cantika ke Olimpiade terjawab (lewat raihan) medali,” ujarnya.

Aisah berujar, prestasi itu berasal dari kerja keras dan disiplin anaknya. Padahal, capaian anaknya di Tokyo itu belum pernah dibayangkannya saat masih muda. ”Dulu, boro-boro mikir Olimpiade seperti apa, kejuaraan seperti apa. Yang penting latihan saja. Pelatih minta ikut pertandingan ini atau itu, saya tinggal mengikuti, apalagi pada zaman saya dulu belum ada (nomor) angkat besi putri di Olimpiade,” ujarnya tertawa.

Sebagai mantan lifter, Siti pernah membela Indonesia di sejumlah kejuaraan angkat besi kelas dunia, antara lain Kejuaraan Dunia Angkat Besi di Daytona, Amerika Serikat, pada 1987 dan Kejuaraan Dunia Angkat Besi di Jakarta pada 1988. Minat dan bakatnya itu menurun ke anak-anaknya, termasuk Cantika.

Gagang sapu

Anak-anak Aisah pun ikut dan berlatih semenjak muda, termasuk Cantika. Si bungsu kerap mengamati gerak-gerik kakak-kakaknya saat berlatih. Bahkan, sesekali dia menirukan teknik angkat besi dari kakak-kakaknya menggunakan gagang sapu.

”Kalau tidak salah, kelas IV SD itu dia sering meniru gerakan kakaknya. Setelah itu, bapaknya lalu membuat alat angkat beban dari pipa paralon. Di setiap sisinya dibuat beban dari semen yang dicetak pakai kaleng roti. Saya lalu mengajarkan tekniknya dulu, sesuai dengan porsi umurnya,” tutur Aisah.

Ternyata ketertarikan ini berlanjut menjadi kegigihan dan ketekunan Cantika dalam menggeluti angkat besi. Melihat keseriusan anaknya, Aisah mendukung sepenuhnya asalkan sang anak mau konsisten berlatih dan tidak menyerah di tengah jalan.

”Kalau memang mau jadi atlet, jangan setengah-setengah. Cantika dan dua kakaknya terus saya ingatkan. Ujung dari setiap latihan adalah prestasi. Target ke sana, nanti dapat atau enggak, ada rezekinya,” ujar Aisah.

Tidak hanya berlatih di rumah, Cantika juga mempertajam kemampuannya di pusat pelatihan Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) Kabupaten Bandung. Namun, Aisah mengatakan, tidak pernah memaksakan anak-anaknya untuk berlatih.

Semua disesuaikan dengan porsi dan kemampuan sang anak untuk memunculkan keinginan dari dalam diri. ”Kalau dipaksa, bahaya. Makanya, saya selalu menyerahkan kepada mereka,” ujarnya.

Di tempat pelatihannya, Cantika pun menunjukkan kegigihannya. Dewi Nuranis (36), salah satu pelatih di padepokan latihan yang didirikan oleh Aisah, melihat Cantika sebagai anak yang tidak kenal menyerah.

”Cantika mulai berlatih di sini sekitar umur 11-12 tahun. Dia juga berlatih bersama ibunya, teh Iim (panggilan Aisah). Saya sendiri melihat tekad menjadi atlet dalam diri Cantika. Dia lebih disiplin dibandingkan yang lainnya,” ujarnya.

Tekad ini, lanjut Dewi, terlihat dari latihan yang dia lakukan memiliki porsi yang lebih dibandingkan dengan anak lainnya. Dia tidak akan beristirahat sebelum targetnya tercapai atau mengalami gangguan kesehatan.

”Jadwal latihannya kira-kira dari pukul 16.00-18.30. Akan tetapi, tidak jarang dia menambah waktu latihannya sampai pukul 19.00 kalau ada target yang belum tercapai,” ujarnya.

Kegigihan dan semangat pantang menyerah itu terlihat saat bertanding di Tokyo, Sabtu. Peluangnya meraih medali nyaris melayang setelah hanya sekali berhasil melakukan angkatan dari tiga kesempatan pada angkatan snatch. Dia baru bisa mengangkat beban 84 kg pada kesempatan kedua. Pada kesempatan ketiga, ia lalu tidak mampu menuntaskan angkatan beban 87 kg.

Padahal, saat tampil di Kejuaraan Dunia Yunior 2021, Cantika bisa melakukan angkatan snatch 86 kg. Ia bahkan menggondol tiga medali emas di sana. Namun, di Olimpiade, konsentrasinya sempat buyar di awal-awal pertandingan kelas 49 kg putri.

Kegagalan semacam itu bisa memukul siapa saja, apalagi bagi debutan di ajang terbesar dunia, Olimpiade, seperti Cantika. Namun, tidak demikian dengan atlet muda yang menyabet medali emas SEA Games Filipina 2019 itu.

Cantika memperbaikinya pada angkatan clean and jerk. Dari tiga kesempatan, ia selalu sukses melakukan angkatan, yaitu yang terbaik seberat 110 kg. Angkatan itu melampaui batas hasil latihannya selama pandemi Covid-19, satu setengah tahun terakhir. Tak pelak, ia berteriak girang. Tepuk tangan pun membahana di Tokyo International Forum, arena pertandingan itu.

”Di angkat besi, (pertandingan) tidak selesai hanya dengan snatch. Masih ada clean and jerk. Jadi, harus tetap semangat. Jangan menyerah,” ujar Cantika seperti dilaporkan wartawan Kompas, Agung Setyahadi, dari Tokyo, Jepang.

Ucapan selamat

Tak pelak, atlet yang bergabung di pelatnas angkat besi sejak 2019 itu menuai pujian dari banyak pihak. Presiden Joko Widodo hingga Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengucapkan selamat kepada Cantika melalui akun resmi media sosial mereka masing-masing.

Menurut Jokowi, keberhasilan Cantika meraih medali adalah kabar baik dari Tokyo untuk Indonesia. ”Pertama kali ikut Olimpiade dan langsung mendapat medali. Keren pisan. Selamat, Teh Windy,” ujar Ridwan Kamil melalui akun Instagram-nya.

Menurut Kamil, raihan medali di Olimpiade tidak hanya menjadi kebanggaan Jabar dan Indonesia. Pencapaian itu juga memberikan gairah, harapan, dan semangat baru bagi masyarakat dalam suasana
keprihatinan menghadapi gelombang pandemi Covid-19
.
Di mata Aisah dan orang-orang terdekatnya, pencapaian ini menjadi buah dari kegigihan Cantika dalam menekuni angkat besi. Berawal dari gagang sapu, kerja keras dan kedisiplinan dalam berlatih mengantarkan si bungsu menjadi lifter kelas dunia. Kini, Cantika memburu emas di ajang bergengsi berikutnya, yaitu Asian Games 2022 di Hangzhou, China.
Sumber: Kompas edisi 26 Juli 2021 di halaman 16 dengan judul ” Windy Cantika Aisah, Pembuka Jalan Perburuan Medali”.
Author photo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *