Hendrar Prihadi, Mendadak Borong Dagangan
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, memborong sisa dagangan pedagang kaki lima (PKL) saat PPKM Darurat karena mereka masih buka melewati pukul 20.00 WIB. Saat meninjau Jalan Majapahit, Tlogosari, Pelabuhan Tanjung Emas, dan Jalan Suyudono, Hendi mendapati PKL mengaku dagangannya belum habis. Untuk memastikan pedagang mematuhi aturan sekaligus mencegah kerugian, Hendi membeli dagangan, umumnya gorengan atau nasi kucing, dengan harga Rp 250.000–Rp 300.000 per lapak. Ia menegaskan aksinya untuk menegakkan PPKM, bukan demi popularitas, meski kemudian viral di media sosial.
*****
Upaya Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menegakkan peraturan selama PPKM Darurat, kadang memunculkan langkah spontan. Salah satunya, memborong sisa dagangan pedagang kaki lima (PKL) di Semarang, yang diharuskan sudah tutup pukul 20.00 WIB semasa PPKM Darurat.
“Memang saya bersama Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) rutin meninjau beberapa lokasi di malam hari, sekitar pukul delapan malam. Selama beberapa hari berkeliling, ditemukan ada PKL yang masih buka sampai jam delapan lebih,” tutur Hendi, panggilan akrab Wali Kota Semarang, saat dihubungi pada Minggu (11/7/2021) malam.
Pedagang yang masih berjualan itu, di antaranya di Jalan Majapahit, kawasan Tlogosari, kawasan Pelabuhan Tanjung Emas, dan Jalan Suyudono. “Saya tanya ke mereka, tahu peraturannya, enggak? Katanya tahu, jam delapan malam harus tutup. Saya tanya lagi, kok masih buka? Katanya, sisa dagangan masih banyak, baru sedikit yang laku,” ujar dia lagi.
Mendengar ada banyak dagangan yang belum laku, Hendi spontan memborong dagangan dimaksud. Per lapak PKL, kebanyakan pedagang gorengan atau nasi kucing, Hendi merogoh kocek hingga Rp 250.000 hingga Rp 300.000. Saat disebut aksinya itu viral di media sosial, dia berucap, “Niat utamanya biar PPKM jalan, pedagang juga rela nutup lapaknya. Bukan untuk viral-viralan.”
Leave a Reply