Maya Septha, Jangan Pernah Sepelekan Banjir

Banjir besar Jakarta pada pergantian 2019–2020 merendam rumah aktris Maya Septha dan mengubah pandangannya tentang risiko bencana. Awalnya ia mengira air hanya menggenangi halaman karena mobil sudah dipindahkan ke tempat tinggi. Namun, air justru masuk ke rumah hingga 30 sentimeter. Saat listrik padam, ia mulai panik meski sebelumnya merasa aman tinggal di lantai atas bersama anak-anak. Beruntung sopirnya datang membawa bantuan sehingga keluarganya dievakuasi ke tempat lebih aman. Sejak kejadian itu, Maya dan suami menjadi lebih waspada dan menyadari pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana di Indonesia yang rawan.

*****

Banjir besar di Jakarta pada pergantian tahun 2019 ke 2020 merendam rumah aktris Maya Septha. Sejak saat itu, ia tak lagi meremehkan banjir sekecil apa pun karena dampaknya bisa panjang dan fatal.

Ia menceritakan, hujan turun deras dan nyaris tanpa henti pada akhir 2019. Untuk mengantisipasi banjir, salah satu mobilnya telah dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Ia memperkirakan, kalaupun banjir, air hanya akan merendam halaman rumah. Karena itu, ia bersama keluarga memilih tetap tinggal di dalam rumah. Ternyata air masuk ke dalam rumah setinggi sekitar 30 sentimeter.

”Awalnya walau air sudah masuk rumah, saya dan anak-anak masih tenang saja. Ah, enggak apa, kan, kita masih bisa tinggal dan berkegiatan di (lantai) atas. Masih bisa nonton TV. Eh, enggak tahunya ketika air makin tinggi, aliran listrik mati. Wah, saya mulai panik,” ujar Maya saat berbicara di webinar bertema ”Bersama Keluarga Antisipasi Bencana” yang digelar Wahana Visi Indonesia dan Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DKI Jakarta, pekan lalu,

Sejak peristiwa tersebut, ia dan suaminya selalu waspada untuk menghadapi kemungkinan bencana, termasuk banjir. Bagaimanapun sebagian besar wilayah Indonesia merupakan wilayah rentan bencana.

Beruntung saat itu sopirnya datang ke rumah dan mencari bantuan sehingga regu penolong memindahkan Maya sekeluarga ke tempat lebih aman. ”Waktu itu hanya bisa bawa satu koper berisi baju saja. Tidak kepikiran untuk membawa tas-tas lain dan perhiasan,” tuturnya.

Sumber: Kompas edisi 15 Juni 2021 di halaman 16 dengan judul “Maya Septha, Waspada Bencana”.
Author photo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *