Soleh Solihun, Motor Lawas
Soleh masih setia menggunakan sepeda motor kopling keluaran Jepang yang telah menemaninya sejak 1998, setahun setelah ia mulai kuliah. Motor hitam itu dibawanya dari Bandung ke Jakarta pada 2009 dan telah melewati banyak bengkel sebelum akhirnya ia menemukan montir langganan bernama Mamang Cepot di Pondok Labu pada 2012. Meski kini telah memiliki mobil dan motor skutik, Soleh tetap merawat dan rutin memanaskan motor lamanya karena sarat kenangan. Motor tersebut bahkan “hadir” dalam film Mau Jadi Apa? (2017) yang diadaptasi dari kisah hidupnya semasa mahasiswa, mempertegas ikatan emosional Soleh dengan kendaraan tersebut.
*****
Sepeda motor kopling tersebut bukanlah merek yang bikin takjub. Produk itu berjenama asal Jepang yang lumrah terlihat di jalan-jalan pada tahun 1990-an. “Saya pakai sejak tahun 1998. Setahun setelah mulai kuliah,” katanya di Jakarta, Kamis (11/3/2021).
Seusai menamatkan pendidikannya di Bandung, Jawa Barat, dilanjutkan meniti jenjang karier, ia memboyong sepeda motor itu ke Jakarta pada tahun 2009. “Macam-macam bengkel pernah saya datangi. Di Pasar Minggu, Cipete, dan Cinere. Patokannya, cuma kelihatan meyakinkan,” ujarnya sambil tertawa.
Begitu banyak kenangan dan kebersamaan sehingga lambat laun, Soleh pun enggan melepas sepeda motor berwarna hitam itu. “Setelah wira-wiri tiga tahun, saya akhirnya ketemu montir jagoan di Pondok Labu, tahun 2012. Panggilannya lucu, Mamang Cepot,” katanya.
Hingga kini, Soleh memercayakan sepeda motornya untuk diservis mekanik tersebut. Ia juga sudah punya mobil dan skutik tetapi sepeda motor tuanya tetap digunakan untuk berkeliling. Setidaknya, kendaraan itu dipanaskan hampir setiap hari.
Soleh lantas terkenang saat membintangi Mau Jadi Apa? (2017), film komedi yang mengadaptasi kisah nyatanya semasa mahasiswa. “Sepeda motor itu tampil juga. Bukan punya saya tapi tahun produksinya sama-sama 1995,” katanya seraya tersenyum.
Sumber: Kompas.id, Soleh Solihun Motor Lawas, 20 Mar 2021 05:00 WIB
Leave a Reply