Umbu Landu Paranggi, Dunia Memperingati Nyepi

Umbu Landu Paranggi memandang pandemi Covid-19 sebagai Nyepi sedunia, hari berdiam diri yang mengingatkan manusia pada refleksi diri dan jati diri (sangkan paraning dumadi). Penyair dari Sumba Timur, yang aktif membimbing banyak penyair dan mendirikan Persada Studi Klub di Yogyakarta, menilai situasi pandemi memiliki makna religius dan sosial serupa Nyepi bagi umat Hindu, yakni menyucikan diri dan alam semesta. Dalam pandangan Umbu, pandemi menjadi momentum introspeksi bagi individu maupun bangsa. Pandangan ini disampaikannya saat peluncuran buku puisi dan seni kolaborasi Bali, Gajah Mina, di Gianyar, Bali, 23 Februari 2021.

*****

Wabah penyakit akibat virus korona baru (Covid-19) yang meluas memengaruhi hampir seluruh aktivitas manusia di dunia. Bagi Umbu Landu Paranggi, pandemi Covid-19 merupakan ujian bagi setiap bangsa, tidak terkecuali Indonesia yang disebutnya sebagai bangsa besar.

Seniman yang menjadi pembimbing bagi banyak penyair termasuk di Bali itu juga memandang situasi pandemi Covid-19 sebagai sebentuk peringatan yang bermakna religius. ”Pandemi ini mengingatkan saya pada Nyepi,” kata Umbu, sosok penyair yang dijuluki ”Presiden Malioboro” dan menginisiasi berdirinya komunitas kreatif Persada Studi Klub (PSK) di Yogyakarta sekitar tahun 1968.

Umbu mengungkapkan, selama pandemi berlangsung, dunia seolah-olah sedang menjalani Nyepi, hari berdiam diri. ”Ini Nyepi sedunia,” ujar penyair dari tanah Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, yang berdiam di Bali ini.

Nyepi adalah hari pergantian tahun Saka dan menjadi hari suci bagi umat Hindu. Nyepi dirayakan setiap satu tahun, yakni hari pertama setelah bulan mati pada bulan kesembilan dalam penanggalan Bali (tilem sasih kesanga). Selama merayakan Nyepi, dalam sehari penuh umat Hindu membatasi aktivitas mereka dalam upaya menyucikan diri atau dunia kecil (bhuwana alit), dan juga alam semesta, atau bhuwana agung.

Umbu menambahkan, dirinya mengenang dan memaknai Nyepi sebagai momentum mengingat diri dan kembali pada jati diri, atau sangkan paraning dumadi, dalam upaya menolong diri selama menjalani kehidupan.

”Sesungguhnya kita tidak asing dengan Nyepi,” kata Umbu. ”Tetapi, (pandemi) ini Nyepi sedunia. Sejagat rayamu, semesta kecilku,” tutur Umbu ketika ditemui serangkaian acara peluncuran buku puisi, lukisan, dan sketsa berjudul Gajah Mina karya kolaborasi dua seniman Bali, yakni penyair Dewa Putu Sahadewa dan perupa Made Gunawan, di Komaneka Resort, Blahbatuh, Gianyar, Selasa (23/2/2021).

Sumber: Kompas.id, Umbu Landu Paranggi Dunia Memperingati Nyepi, 04 Mar 2021 03:45 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *