Hansi Flick, Sentuhan Monumental dari Bammental

Hans-Dieter Flick (55) mengangkat Bayern Muenchen dari titik terendah menjadi juara treble musim 2019-2020, memenangkan Liga Jerman, Piala Liga, dan Liga Champions. Flick membawa Bayern menorehkan rekor kemenangan sempurna di Liga Champions dan rasio kemenangan terbaik dalam sejarah klub. Mantan gelandang Bayern ini menempuh karier pelatih dari tingkat amatir hingga menjadi asisten timnas Jerman juara Piala Dunia 2014. Filosofi “Mia san Mia” dan pendekatan empatiknya membuat pemain termotivasi, sementara karakter rendah hati mempermudah komunikasi. Flick menekankan kekompakan, kerja keras, dan dedikasi individu, menjadikannya sosok monumental dan awal era baru kejayaan Bayern Muenchen.

*****

Hans-Deiter Flick alias Hansi Flick (55) menjadi wajah baru keagungan sepak bola Jerman. Pria asal Bammental, kota kecil di barat laut Muenchen, itu mengangkat Bayern Muenchen dari titik terendah ketepurukan ke puncak Eropa dalam sekejap.

Flick mengantarkan klub berjuluk ”Die Roten” itu meraih treble alias tiga gelar semusim, yaitu Liga Jerman, Piala Liga Jerman, dan Liga Champions Eropa. Prestasi itu membuat Flick jauh lebih unggul dari para pendahulunya di Bayern, seperti Pep Guardiola dan Carlo Ancelotti yang tidak mampu membawa Bayern menguasai Eropa.

Selain itu, tidak ada pelatih lainnya pada era modern yang mampu menyapu bersih semua trofi juara itu dalam waktu singkat seperti yang dicapainya. Tiga gelar utama pada musim perdana yang diberikan Flick memang setara prestasi yang dicapai Pep Guardiola dan Luis Enrique pada musim perdananya memimpin Barcelona. Bedanya, Flick meraih treble gelar ketika masuk di tengah musim, yaitu untuk menggantikan pelatih Niko Kovac yang dipecat Bayern, November lalu. Adapun Guardiola dan Enrique mulai memimpin tim sejak awal musim dan berwenang penuh dalam perencanaan ataupun proses transfer pemain.

Tidak hanya menyapu bersih trofi, Bayern di tangan Flick juga menutup musim 2019-2020 dengan sejumlah rekor baru. Flick menjadi pelatih Bayern dengan rasio kemenangan terbaik. Dalam 35 pertandingan di semua kompetisi, Flick mampu membawa Bayern menang pada 32 laga dengan rasio 2,78 poin per laga. Ia mengungguli rata-rata 2,6 poin Bayern pada era Guardiola musim 2013-2014 serta 2,7 poin per laga yang diraih Bayern pada musim 2012-2013 ketika meraih treble gelar pertama bersama Jupp Heynckes.

Kemudian, Bayern menjadi tim pertama di dalam sejarah Liga Champions yang mampu tampil sempurna, yaitu meraih kemenangan di semua pertandingan, mulai dari laga pertama penyisihan grup, fase gugur, hingga final, dalam semusim. Dalam 11 laga, ”Die Roten” selalu mengukir kemenangan dengan catatan rata-rata 3,9 gol per laga.

Menyerap pengalaman

Sentuhan magis Flick di Bayern itu bukanlah sebuah kebetulan. Sejak gantung sepatu tahun 2000, Flick telah menjajaki karier sebagai pelatih dan dimulai dari bawah. Ia memulai karier sebagai pelatih tim amatir di kampung halamannya, Victoria Bammental, yang bermain di kompetisi amatir Jerman. Periode 2000-2005, Flick membantu Hoffenheim merangkak dari divisi kelima hingga berada di divisi ketiga Liga Jerman.

Setelah itu, Flick menerima pinangan klub Austria, Red Bull Salzburg, untuk menjadi asisten bagi pelatih legendaris asal Italia, Giovanni Trapattoni. Pada musim 2005-2006, Flick menjadi bagian tim yang membawa Salzburg meraih gelar Liga Austria. Tidak bisa dimungkiri, meskipun hanya bersama dalam satu musim, Flick belajar banyak dari Trapattoni.

”Trapattoni adalah salah satu pelatih tersukses di dunia. Dia menekankan pentingnya kerja sama dalam bertahan. Saya tidak bisa meniru apa yang telah dilakukan Trapattoni, tetapi saya berusaha mengambil inspirasi dari setiap pelatih yang selama ini berkerja sama dengan saya,” ujar Flick dilansir majalah Jerman, Rund, beberapa waktu lalu.

Setahun di Austria, Flick kembali ke Jerman untuk membantu Joachim Loew yang ditunjuk sebagai pelatih tim nasional Jerman pada 2006. Kerja sama mereka berbuah gelar Piala Dunia 2014 di Brasil. Bersama Loew, Flick mendalami filosofi sepak bola Jerman yang tampil menyerang dan menghibur.

Setelah mundur dari kursi asisten pelatih timnas Jerman pada 2014, Flick selama hampir tiga tahun menjadi Direktur Teknik Federasi Sepak Bola Jerman (DFB). Pada Februari 2018 hingga Juli 2019, Flick lalu menduduki jabatan Direktur Teknik Hoffenheim yang telah berlaga di Bundesliga, kasta tertinggi kompetisi Jerman.

Pada musim panas 2019, Flick bersedia untuk kembali ke Bayern setelah meninggalkan kota Muenchen selama 29 tahun. Bayern bukanlah lingkungan asing bagi Flick. Ketika aktif sebagai pesepak bola, Flick pernah mengenakan seragam ”Die Roten” pada 1985 hingga 1990. Bermain sebagai gelandang, Flick mempersembahkan empat gelar Liga Jerman dan satu trofi Piala Liga Jerman.

Flick kembali ke Bayern sebagai pelatih dengan pengalaman yang cukup untuk membantu klub itu meraih kembali kejayaannya. Berkat Flick, Bayern mampu menghadirkan kembali filosofi dan moto klub, ”Mia san Mia” atau Kita adalah Kita, di atas lapangan. Sebagai mantan pemain Bayern, Flick mengenal betul filosofi yang mulai dipakai Bayern pada era 1980-an itu.

Spirit kebersamaan

Filosofi yang bertumpu pada semangat kebersamaan dan kebanggaan itu menjadi modal Flick mengangkat kembali performa ”Die Roten” yang sempat terpuruk ketika ditangani pendahulunya, Kovac. Ketika itu, Bayern berkali-kali kalah dan sempat terjerembab ke peringkat ketujuh di Liga Jerman.

Mereka bahkan sempat menjadi bulan-bulanan lawannya, antara lain digilas Eintracht Frankfurt, 1-5. Bagi klub sebesar Bayern, yang acap kali menjadi langganan juara di Jerman, kekalahan telak itu adalah sebuah ”aib”.

Flick mengakui, Bayern berada di titik terendah ketika dirinya setuju menggantikan Kovac. Kala itu, ungkap Flick, semua pemberitaan media menunjukkan bahwa Bayern tidak lagi dianggap sebagai tim kuat di Eropa dan Jerman sehingga tidak ada klub yang takut ketika melawan mereka.

Ia lantas mengumpulkan para pemainnya dan berbicara dari hati ke hati, khususnya kepada dua pemain senior, yaitu penyerang Thomas Mueller dan kiper Manuel Neuer, yang sempat mengalami penurunan performa dan lantas diabaikan Kovac. Berbeda dengan pelatih Bayern terdahulu, Flick menempatkan dirinya bukan sebagai ”bos”, melainkan mentor dan sahabat para pemainnya.

Pendekatan empatik dan kemauan mendengar itu langsung berbuah ”ledakan” performa. Bayern menggilas rival terberatnya, Borussia Dortmund, 4-0, pada laga debutnya di Liga Jerman sebagai pelatih interim Bayern. Ketika itu, Bayern tampil berbeda dari sebelum-sebelumnya. Mereka tampil ngotot dan kompak, baik dalam bertahan maupun menyerang. Ia pun lantas diangkat sebagai pelatih tetap.

Kekompakan dan kerja keras, dua nilai yang terkandung dalam moto ”Mia san Mia”, itu terus berlanjut hingga akhir musim, termasuk di final Liga Champions kontra Paris Saint-Germain (PSG), akhir pekan lalu. Bayern menang 1-0 pada laga itu. Istimewanya, kemenangan itu tidak terlepas dari penampilan Neuer, kiper yang sempat terpinggirkan.

Biasa ditunjukkan para pemain. Mereka bekerja keras menekan lawan dan menciptakan peluang untuk menciptakan gol. Mereka juga selalu berlari selama 92 menit untuk merebut kembali bola dari lawan,” ucap Flick seusai kemenangan Bayern atas PSG di final Liga Champions.

Rendah hati

Karakter Flick yang rendah hati membuatnya mudah diterima dan didengar para pemain Bayern. Sedikit berbeda dengan pelatih asal Jerman lainnya, seperti Manajer Liverpool Juergen Klopp atau Pelatih PSG Thomas Tuchel, Flick selalu terlihat kalem dan tenang. Ia tidak mudah terbawa emosi dan ”meledak-ledak” di pinggir lapangan.

Ia bahkan tidak sekali pun tertangkap kamera tengah tersenyum setelah skuadnya mampu menciptakan gol. Flick hanya mengepalkan tangan sebagai isyarat meluapkan emosi ketika timnya mencetak gol. Bahkan, kemenangan 8-2 yang dihasilkan Bayern atas Barcelona di perempat final Liga Champions musim ini tidak lantas membuat Flick lebih dermawan menebar senyum di sesi konferensi pers.

”Semua yang diraih tim ini merupakan hasil kerja keras banyak individu. Saya berterima kasih kepada pemain, staf, dan manajemen yang berhasrat tinggi untuk mengejar impian pada musim ini,” kata Flick dilansir laman resmi klub itu.

Kepribadian Flick dipuji oleh CEO sekaligus legenda Bayern, Karl-Heinz Rummenigge. ”Saya ingin berterima kasih kepada Hansi (Flick). Anda selalu rendah hati dan telah melakukan pekerjaan yang luar biasa,” ujar Rummenigge dalam pidato perayaan treble gelar Bayern, Selasa (25/8/2020) dini hari WIB, di Stadion Allianz Arena.

Perjalanan Flick pada musim ini adalah awal sebuah era baru Bayern. Permainan indah dan raihan trofi berpotensi masih akan terus dipersembahkan Flick untuk memperluas lemari trofi ”Die Roten”.

Sumber: Kompas edisi 26 Agustus 2020 di halaman 16 dengan judul “Hans-Dieter Flick, Sentuhan Monumental dari Bammental”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *