Dewi Kanti, Temukan Sensasi

Dewi Kanti (45), pemain musik tradisional Sunda, menemukan sensasi bermain dari musik gamelan di paseban dan kenangan masa kecilnya bermain layang-layang. Tinggal di Paseban Tri Panca Tunggal, Kuningan, ia kerap menaiki loteng paseban untuk menerbangkan layang-layang, merasakan sensasi menarik benang sambil melihat layangan membubung tinggi. Di tengah pandemi Covid-19, Dewi tetap bermain musik gamelan di rumah. Ia juga menghadapi tantangan sosial, seperti penolakan sebagian warga terhadap makam ayahandanya. Baginya, mempertahankan akar tradisi dan jati diri membutuhkan ketahanan batin, sama seperti sensasi bermain yang menumbuhkan kesabaran dan kebahagiaan.

*****

Dari situasi dan kondisi apa pun, termasuk dalam situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, temukanlah sensasi bermain. Pemain musik tradisional Sunda, Dewi Kanti (45), memiliki resep itu.

”Karena pandemi Covid-19 ini masih takut keluar rumah, saya bermain-main dengan musik gamelan yang ada di paseban,” kata Dewi Kanti, yang tinggal di Paseban Tri Panca Tunggal di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, Kamis (30/7/2020).

Paseban itu tempat tinggal sesepuh penghayat Sunda Wiwitan, Pangeran Djatikusuma. Dewi Kanti merupakan salah satu putri Pangeran Djatikusuma.

”Ketika memasuki peralihan ke musim kemarau seperti sekarang ini, di luar rumah banyak yang bermain layang-layang. Teringat di masa kecil dulu, saya itu tomboi sekali dan suka bermain layang-layang,” ujar Dewi Kanti.

Ketika ingin menerbangkan layang-layang, sampai-sampai Dewi Kanti naik ke lantai dua paseban. Ia menyebutnya loteng paseban. Dewi Kanti merasakan sensasi ketika terus mengulur benang dan layang-layang terus membubung tinggi.

”Di situlah sensasi bermain layang-layang saya temukan dan terkenang sampai sekarang,” ujar Dewi Kanti, yang belakangan disibukkan menerima banyak tamu akibat bangunan bakal makam untuk ayahandanya ditolak sebagian warga dan disegel satuan polisi pamong praja setempat.

”Penolakan itu karena cara pandang yang berbeda. Tetapi, persoalannya lebih jauh dari itu, karena kita mulai kehilangan akar tradisi dan jati diri kita,” ujar Dewi.

Mempertahankan akar tradisi dan jati diri ini mungkin saja seperti sensasi yang ditemukan Dewi Kanti saat bermain. Namun, ia membutuhkan ketahanan batin yang luar biasa untuk menghadapi konflik sosial yang lebih luas dan terbuka.

”Semoga kami terus kuat untuk bertahan,” ujar Dewi Kanti.

Sumber: Kompas edisi 02 Agustus 2020 di halaman 6 dengan judul “Temukan Sensasi “.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *