Maudy Koesnaedi, Kagum dengan Sapardi Djoko Damono

Aktris Maudy Koesnaedi mengenang perjumpaannya dengan sastrawan Sapardi Djoko Damono semasa kuliah di FIB UI pada 1990-an. Maudy merasa dekat dengan karya Sapardi, terutama puisi “Aku Ingin” yang pernah dibawakan dalam musikalisasi oleh Reda Gaudiamo dan Ari Malibu. Awalnya ia memahami karya Sapardi sebagai hubungan antar manusia, namun seiring waktu, pandangannya meluas ke makna yang lebih dalam. Selama di rumah, Maudy mencoba menulis lagi, meski belum berani menampilkan karyanya. Pengalaman ini membuatnya lebih menghargai sastra dan puisi, yang terus mengiringi perjalanan hidupnya serta memberi inspirasi dalam berkarya dan mengekspresikan diri.

*****

Sosok sastrawan Sapardi Djoko Damono memang memukau banyak kalangan, baik tua maupun muda. Begitu pula dengan aktris Maudy Koesnaedi (45) yang pernah berkesempatan berjumpa dan bersinggungan langsung dengan Sapardi semasa mengenyam pendidikan di D3 Sastra Perancis Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia pada era 1990-an.

Lewat diskusi daring yang merupakan bagian dari Festival Hujan Bulan Juni 2020 pada Jumat (19/6/2020), Maudy menceritakan perkenalan pertamanya dengan karya seorang Sapardi yang justru terus mengiringi sejumlah perjalanan hidupnya.

”Sejak saat itu, rasanya jadi dekat dengan karyanya Pak Sapardi. Saya merasa jadi anaknya Pak Sapardi,” ungkap Maudy dalam acara persembahan Iluni FIB UI untuk merayakan puisi dan sastra itu.

Bahkan, karya-karya Sapardi yang digubah oleh Reda Gaudiamo dan Ari Malibu menjadi bentuk musikalisasi pun menyentuh Maudy. ”Di beberapa perjalanan hidupku ada momen yang rasanya sangat dekat dengan karyanya Bapak. Termasuk dalam musikalisasi yang dibawakan Kak Reda dan Mas Ari. Orang-orang belum tahu puisi ’Aku Ingin’, kami sudah kenal dan jadi lagu wajib kami,” ungkap pemeran Zaenab dalam Si Doel Anak Sekolahan ini.

Pemahaman tentang karya Sapardi, lanjutnya, juga berkembang seiring berjalannya waktu. Semula, bagi Maudy, karya Sapardi menggambarkan hubungan cinta antara sesama manusia. Akan tetapi, setelah mulai banyak membaca dan menjalani pendidikan di fakultas sastra, pandangan dan penilaian terhadap karya Sapardi berkembang.

”Ternyata tidak melulu hubungan manusia dengan manusia, tetapi lebih luas,” kata Maudy yang juga membawakan puisi berjudul ”Hujan dalam Komposisi” pada acara itu.

Dalam kesempatan ini, Maudy juga menuturkan, dirinya mencoba menulis lagi selama berada di rumah saja. ”Yang wacana jadi pelan-pelan bisa dilakukan. Nulis, misalnya. Tetapi, memang aku belum berani, sih, untuk memperlihatkan ke orang-orang, ya. Buat aku sendiri dulu saja, ha-ha-ha,” ujar Maudy yang pernah menulis naskah untuk Teater Abang None ini.

Sumber: Kompas.id, Maudy Koesnaedi Kagum dengan Sapardi Djoko Damono, 30 Jun 2020 05:00 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *