Najelaa Shihab, Tentang Relasi yang Tak Terpisahkan

Najelaa Shihab menceritakan pengalaman pribadinya tentang kuatnya hubungan batin ibu dan anak dalam temu wicara virtual “Rindu Keluarga di Masa Pandemi #Maafibudihidupku”. Ia mengakui bahwa saat remaja sering menolak nasihat ibunya karena merasa mampu mengambil keputusan sendiri. Namun, sebuah peristiwa membuatnya sadar bahwa ibunya selalu dapat merasakan kegelisahannya. Ia pun meminta maaf dan memahami bahwa relasi ibu–anak tidak pernah terputus. Dalam acara yang digelar P&G Indonesia itu, Elaa juga menjawab pertanyaan seputar dinamika keluarga selama masa pembatasan sosial dan menjelang Lebaran, ketika orang-orang sulit bertemu secara langsung.

*****

Hubungan batin antara ibu dan anak merupakan relasi yang tak pernah putus dan terpisahkan. Bukan sekadar pernyataan, pegiat pendidikan  Najelaa Shihab merasakan sendiri pengalaman yang ia sebut luar biasa itu. Bahkan, relasi itulah kemudian yang membuka mata hatinya bahwa sikapnya waktu ia remaja yang tak mau mendengar nasihat ibunya adalah keliru.

Najelaa menyampaikan pengalamannya tersebut pada temu wicara secara virtual bertema ”Rindu Keluarga di Masa Pandemi #Maafibudihidupku” yang diadakan P&G Indonesia pada Sabtu (9/5/2020) lalu di Jakarta.

Acara itu diadakan untuk menjawab pertanyaan banyak pihak mengenai cara menjalani hari-hari di masa semua orang di Indonesia harus melakukan pembatasan sosial secara fisik guna menghentikan penularan virus korona. Apalagi, akhir Mei ini, Lebaran tiba. Semua orang ingin saling bertemu untuk bersilaturahmi dan melepas rindu. Sementara keinginan tersebut untuk sementara belum bisa dilakukan.

Selain menjawab pertanyaan seputar masalah dalam keluarga pada saat masa di rumah saja, Najelaa juga membagi kisah kedekatannya dengan ibunda. Menurut ibu tiga anak yang akrab dengan panggilan Elaa itu, saat remaja dirinya pernah memiliki rasa tidak senang ketika mendapat nasihat dari ibunya.

”Waktu itu saya merasa sudah bisa mengambil keputusan sendiri, tetapi kemudian yang terjadi muncul perasaan kayak susah berempati sama mama,” tutur Elaa.

Oleh karena masih remaja, ibunya pernah menasihati dan mengingatkannya. ”Tapi, karena masih usia segitu, saya tetap merasa bahwa saya tidak membutuhkan dukungan mama untuk mengambil sebuah keputusan,” katanya lagi. Beruntung kondisi tersebut tak berlangsung lama.

Ella yang juga psikolog menyatakan ia bersyukur ada cara Allah untuk mengingatkan dirinya. Suatu ketika, ia mengalami sebuah kesulitan yang ternyata sang mama merasakan kegelisahannya.

”Ternyata mama punya firasat dan kejadian itu benar. Saya lalu minta maaf ke mama. Saat itu, saya baru sadar bahwa hubungan ibu-anak tak pernah terpisahkan,” ujar pendiri Sekolah Cikal itu. Pada saat itulah mata hatinya terbuka, betapa seorang ibu akan selalu tahu apa yang sedang dialami dan dirasakan oleh anaknya.

Sumber: Kompas.id, Najelaa Shihab Tentang Relasi yang Tak Terpisahkan, 13 Mei 2020 09:03 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *