Peni Candra Rini, Didambakan

Peni Candra Rini, komposer musik gamelan dan vokalis dari Solo, ingin menghadirkan podcast untuk menyiarkan tembang doa ciptaannya, khususnya sebagai doa melawan virus korona. Sebagai dosen ISI Solo, Peni terbiasa mengekspresikan doa lewat tembang Jawa. Ia juga tampil di program daring #budayasaya di Youtube, membawakan tembang doa dengan iringan gamelan seperti siter, suling, dan gender. Lirik-liriknya memohon cahaya untuk menerangi bumi dan langkah manusia. Meskipun belum familiar dengan podcast, Peni bersemangat memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan karyanya, yang sebelumnya telah dikenal di berbagai negara melalui pertunjukan gamelan dan sinden.

*****

Program podcast lewat internet sangat didambakan Peni Candra Rini, seorang komposer musik gamelan dan vokalis. Terutama podcast untuk menyiarkan lirik-lirik susastra Jawa ciptaannya yang menjadi tembang doa sekarang ini, yakni tembang doa untuk melawan virus korona.

”Ketika kita manusia sudah tidak bisa berbuat apa-apa, semuanya kita serahkan kepada Tuhan. Saya manusia Jawa terbiasa memanjatkan doa lewat tembang,” ujar Peni di rumahnya di Solo, Jawa Tengah, Jumat (17/4/2020), ketika dihubungi lewat telepon.

Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Solo ini juga menjadi salah satu seniman yang ditunjuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengisi pertunjukan daring #budayasaya di kanal Youtube. Di dalam program itu, Peni membawakan tembang doa dua episode pada Kamis pekan lalu dan Kamis pekan ini.

Salah satu petikan tembang doa yang dilantunkan Peni dengan diiringi musik gamelan dari siter, suling, dan gender sebagai berikut: ”obor Mu kang makantar kantar//lir sinraning tresna sang aruna//madhangi jangkah lan jagadku”. Lirik itu bermakna lebih kurang mendambakan sebuah terang untuk menerangi bumi dan langkah manusia. Terlebih dalam konteks sekarang ini, untuk melawan virus korona.

”Selama ini saya belum begitu mengetahui program podcast, tetapi saya ingin sekali menggunakan teknologi tersebut untuk menyiarkan tembang-tembang doa ciptaan saya,” tutur Peni, yang selama ini juga dikenal sebagai sinden atau penyanyi dengan iringan musik gamelan yang sudah melanglang ke beberapa negara ini.

Sumber: Kompas edisi 19 April 2020 di halaman 6 dengan judul “Didambakan “.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *