Firman Hadiansyah, Jawara Literasi dari Banten

Firman Hadiansyah menggabungkan literasi dengan komunitas motor di Banten. Ia mengajak anggota geng motor menjadi kurir buku bagi anak-anak di pelosok. Awalnya sulit, tapi setelah tiga bulan, komunitas motor bergabung membentuk Motor Literasi (Moli). Mereka melakukan touring sambil membagikan buku ke TBM di desa-desa, termasuk kegiatan literasi antikorupsi bekerja sama dengan KPK. Firman menekankan pentingnya budaya membaca sejak kecil, yang ia alami sendiri melalui guru dan komunitas Rumah Dunia. Kini, anak motor tak hanya “jawara motor”, tapi juga “jawara literasi”, menulis pengalaman mereka dan menularkan semangat membaca ke masyarakat luas di Banten.

*****

Di mata Firman Hadiansyah, gerakan literasi dan kegiatan ”geng motor” bisa bersinergi. Meski awalnya tidak mudah, ia berhasil merangkul anggota komunitas motor sebagai kurir buku untuk anak-anak yang tinggal pelosok Banten.

”Tiap malam minggu saya liat banyak anak geng motor nongkrong-nongkrong. Saya pun punya niat untuk bisa melibatkan mereka dalam kegiatan literasi,” ujar Firman, Senin (23/3/2020), di Serang, Banten.

Tanpa berpikir terlalu banyak, ia ambil sepeda motor tua milik ayahnya yang sudah lama tidak dipakai. Lalu, sepeda motor itu ia poles agar gayanya sesuai dengan gaya komunitas motor. Ia menambahkan kotak di bagian belakang sepeda motor untuk membawa buku. Itu terjadi pada 2017.

Firman lantas mendatangi pimpinan komunitas motor dan mengajak ngobrol tentang kemungkinan touring (menjelajah dengan sepeda motor) sambil membawa buku bacaan. Namun, saat itu, gagasan Firman tidak mereka pahami sehingga menguap begitu saja ke udara. Akhirnya, Firman memilih mengeksekusi gagasannya sendiri.

”Saya bawa motor sambil menggelar lapak bacaan di Alun-alun Serang, Banten, dan tempat lain. Saya aktif promosi kegiatan saya di media sosial,” kenang Firman.

Setelah tiga bulan menjalankan kegiatan itu sendiri, pimpinan komunitas motor yang dulu ia dekati mendatanginya. Ia menyatakan tertarik dengan ide touring sambil membagi-bagikan buku. Firman senang bukan main. Ia menjelaskan lagi konsepnya kepada komunitas itu dengan bahasa sederhana, ”Tujuan ente (kamu) tetap touring, bedanya ente touring sambil bawa buku ke desa-desa. Nanti bukunya disimpan di TBM (taman bacaan masyarakat) yang ada di daerah tujuan.”

Apa yang ia impikan akhirnya berjalan lancar dan tersebar luas. Ia tidak menyangka jejaring komunitas motor begitu kuat dan luas. Tidak heran, dalam waktu singkat beberapa komunitas motor, antara lain motor box combo, trail, dan vespa, ikut serta. Mereka kini bergabung dalam wadah komunitas Motor Literasi yang disingkat Moli.

”Segala macam komunitas motor gabung. Kegiatan touring dilakukan sampai ke daerah yang sulit, terutama di Banten Selatan. Saya fokus terus mengumpulkan buku bacaan dan pelan-pelan mengenalkan literasi,” ujar Firman.

Firman terharu dengan kebaikan ”anak-anak” motor di komunitas Moli. ”Geng motor yang sering dianggap negatif, dianggap suka berkelahi, dan buat keributan ternyata tidak seperti itu,” katanya.

Pada 2017, komunitas Moli bersama Forum TBM digandeng Komisi Pemberantasan Korupsi untuk terlibat di kegiatan Literasi Antikorupsi. KPK menyumbang 5.000 buku yang mengisahkan nilai integritas untuk pendidikan antikorupsi. Buku itu didistribusikan ke TBM di desa-desa.

Yang lebih membahagiakan Firman, virus membaca dan menulis menjangkiti anak-anak komunitas motor. Padahal, awalnya mereka jarang membaca buku, apalagi menulis. Kini, Firman menantang anggota Moli untuk menuliskan pengalaman mereka sebagai sukarelawan literasi atau kisah hidup mereka. Tantangan itu disambut beberapa anggota Moli yang mulai menulis kegiatan touring sambil membawa buku bacaan.

Jejak literasi

Firman tertarik pada buku sejak ia duduk di bangku SMP di Rangkasbitung, Banten. Ketika itu, guru Bahasa Inggris-nya, Rosman, sering mengundang siswa ke rumahnya untuk membaca buku koleksinya. Dari situ, ia sulit lepas dari buku.

Saat kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, ia aktif di unit kegiatan mahasiswa Arena Studi Apresiasi Sastra. Ia aktif menulis puisi, cerpen, dan artikel dengan nama pena Firman Venayaksa.

Ketika kembali ke Rangkasbitung sekitar tahun 2003, Firman diajak Gol A Gong, penulis cerita fiksi yang terkenal di kalangan anak muda Indonesia pada era 1980-an dan 1990-an, untuk bergabung di Rumah Dunia. Rumah Dunia merupakan komunitas literasi yang menggelar kelas penulisan dan kegiatan sastra di Kampung Ciloang, Serang, Banten, secara gratis. Komunitas ini juga membantu peserta menerbitkan buku dan menularkan spirit literasi kepada masyarakat luas.

Komitmen Firman dalam gerakan literasi terus terpupuk dari tahun ke tahun. Ia berjejaring dengan beberapa komunitas-komunitas TBM di banyak daerah di Indonesia. Belakangan, Firman ditunjuk sebagai Ketua Forum TBM. Bersama pegiat TBM dari seluruh Indonesia, ia menggagas program Kampung Literasi agar gerakan literasi meluas hingga ke kampung-kampung dalam bentuk pojok baca atau kampanye literasi.

Kampanye literasi digaungkan lewat Gerakan Indonesia Membaca. Ini semacam kampanye untuk menghadirkan buku dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

”Selama urusan literasi masih rendah, ya, selama itu juga saya berjuang. Urusan literasi itu, kan, kultur, kebudayaan. Tidak bisa memaksa dari atas ke bawah harus baca ini itu. Kultur, kan, dari kebiasaan yang harus hadir mulai dari buku ada di masyarakat. Nah, TBM walau kecil jadi solusi untuk mendekatkan buku ke masyarakat,” tambahnya.

Ia senang melihat TBM yang berfungsi sebagai garda terdepan gerakan literasi terus bermunculan di banyak daerah. Namun, ia juga sedih karena kebanyakan TBM situasinya sama, yakni koleksi buku yang ada minim dan kurang menarik. Melihat kenyataan itu, Firman berupaya keras mencarikan donasi buku untuk dibagi-bagikan kepada TBM di pelosok Banten.

Kegiatan itu ternyata bersinergi dengan komunitas anak motor. Kegiatan anak motor yang sebelumnya sekadar touring kini menjadi lebih bermakna karena touring sambil membagikan buku. Mereka kini tidak hanya menjadi ”jawara motor”, tetapi juga ”jawara literasi”.

Sumber: Kompas edisi 02 April 2020 di halaman 16 dengan judul “Firman Hadiansyah, Jawara Literasi Banten”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *