Lizzo, Melawan Diskriminasi lewat Lagu

Lizzo, penyanyi kulit hitam bertubuh besar, melawan diskriminasi dan standar kecantikan lewat musik yang membangkitkan kepercayaan diri. Lagu-lagunya seperti Truth Hurts dan Good As Hell merayakan penerimaan diri dan kekuatan perempuan. Lewat penampilan berani dan lirik penuh perlawanan, ia menginspirasi kaum terpinggirkan. Tahun 2019, Lizzo meraih tiga Grammy Awards dari delapan nominasi. Perjalanan kariernya tak mudah; ia mengalami depresi, krisis percaya diri, dan kehilangan ayah. Namun, ia bangkit dan menyulap rasa sakit menjadi kekuatan. Kini, Lizzo dikenal sebagai ikon musik dan keberanian, yang menyuarakan perubahan melalui seni dan cinta terhadap diri sendiri.

*****

Sekian lama Lizzo bergelut dengan krisis kepercayaan diri karena identitasnya sebagai perempuan kulit hitam bertubuh besar. Setelah ia bisa berdamai dengan dirinya, lewat musik ia mengajak orang di seluruh dunia untuk menerima diri mereka apa adanya, apapun  jender, warna kulit, dan bentuk tubuh mereka.

Ketika menggelar konser di Glastonbury, Inggris, Juli 2019, Lizzo berdiri di depan ribuan penonton dan mengajak mereka bersama-sama berteriak,  “I love you. You\’re beatiful and you can do anything.” Selama beberapa menit, konser itu menjadi ajang di mana ribuan orang bersama-sama merapal “mantra Lizzo” untuk  membangun kepercayaan diri dan membasuh luka-luka batin mereka.

Di tengah dengung suara ribuan orang yang sedang mensugesti diri itu, Lizzo  memulai lagu  “Good As Hell” (2016). Lagu itu berkisah  tentang perempuan yang disia-siakan laki-laki, namun segera bangkit karena memiliki kekuatan tak terlihat dalam dirinya.  Ribuan penonton pun menyanyi bersama seakan lagu itu berkisah tentang diri mereka.

Sekilas lagu-lagu Lizzo bernada galau dan putus asa. Namun, jika kita perhatikan lirik-liriknya, kita segera paham:   dalam kegalauan Lizzo  melawan. Ia antara lain melawan diskriminasi rasial dan  konstruksi sosial  kecantikan yang dirumuskan industri yakni langsing; berkulit putih; dan berambut lurus.  Lizzo tidak memiliki semuanya. Tapi, tak seorang pun yang bisa merenggut apa yang sudah ada di tubuhnya. “Saya tidak bisa menghapusnya, jadi kamu tidak bisa mengambilnya dariku: kulit coklatku,” katanya dalam lagu “My Skin” (2015).

Lizzo mendorong para perempuan yang termarjinalkan oleh diskriminasi rasial dan “standarisasi” kecantikan untuk melawan dengan cara mencintai dan menerima diri mereka apa adanya. Ia mencontohkan perlawanannya dengan mode dan atraksi di atas panggung.  Lizzo yang bertubuh subur kerap tampil dengan baju serba terbuka bahkan  berpotongan bikini. Buatnya tubuh yang besar tidak perlu disamarkan dengan gaun berwarna hitam agar terlihat  langsing.

Ia biasa dikelilingi  para perempuan penari berkulit hitam, berambut keriting, dan bertubuh besar. Itulah cara dia membela perempuan yang selama ini kerap diabaikan oleh industri kecantikan.  “Jadi, kalian mau apa?” tantangnya.

Ia juga menggugat relasi laki-laki dan perempuan yang timpang. Lewat lagu “Truth Hurts” (2016) ia mengejek laki-laki  yang sudah hebat tapi menuntut diakui  kehebatannya.  Ia menegaskan, perempuan bisa dengan cepat mencari solusi ketika berhadapan dengan laki-laki seperti itu, yakni tinggalkan saja. Mulailah hidup baru dengan kekuatan seorang “dewi” yang ada dalam setiap diri perempuan.

Namun, untuk memiliki kekuatan seperti itu, menurut Lizzo, perempuan harus mengubah pandangannya tentang diri dan tubuhnya. “Setelah itu kamu baru bisa mengubah dunia.”

Kini, lagu “Truth Hurts” menjadi jantung dari hampir setiap konsernya. Lagu itu dirayakan tidak hanya  perempuan tapi kaum yang termarjinalisasi karena identitasnya yang berbeda.

Mengguncang industri

Lewat lagu-lagu dan penampilan yang  memberontak, Lizzo tidak hanya mencuri perhatian orang tapi juga memberi dampak pada industri musik yang sejak lama menjadi arena pertarungan aneka kepentingan dan ideologi. “Anda jarang sekali melihat seorang perempuan berkulit hitam dan bertubuh besar pada papan pengumuman penghargaan, memuncaki tangga lagu selama tujuh minggu,” ujar artis Inggris  Mina Lioness.

Dalam setahun terakhir, Lizzo berhasil merengkuh lebih banyak penonton konser di seluruh dunia dibandingkan artis lainnya. Terlepas lagu-lagunya yang memberontak, penampilannya di atas panggung memang unik. Ia menyanyi, nge-rap, dan memainkan flute. Sepertinya baru Lizzo yang menggabungkan tiga kemampuan itu sekaligus di atas panggung.

Tahun 2019 menjadi tahun terbaik bagi Lizzo. Ia begitu gembira  ketika dalam perjalanan tur konser ke Copenhagen, Denmark, managernya mengabarkan bahwa ia mendapat delapan nominasi Grammy Awards 2020, empat di antaranya untuk kategori paling bergengsi (Big Four Categories). Ini adalah nominasi terbanyak yang diterima seorang penyanyi di musim ini.

Dari delapan nominasi, ia merebut satu dari empat  Grammy untuk kategori Big Four, yakni Best Pop Solo Performance lewat lagu “Truth Hurts”. Selain itu, ia merebut Grammy untuk  kategori Urban Contemporary Album dan Traditional R&B Performance. Total ia merebut tiga Grammy dalam pertarungan pertamanya di ajang ini.

“Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada  The Academy,”  katanya dengan mata berkaca-kaca saat menyampaikan pidato di ajang Grammy Awards 2020, Minggu (26/2/2020), di  Los Angeles, Amerika Serikat. Ini adalah awal bagi kita membuat musik yang menggerakkan orang, membuat musik yang baik, yang membebaskan banyak orang

“Saya sadar bahwa ada orang-orang yang terluka saat ini. Kalian menciptakan musik yang bagus. Kalian menciptakan konektivitas, dan saya katakan pada kalian semua di ruangan ini, kita perlu terus memperluas jangkauan. Ini adalah awal bagi kita membuat musik yang menggerakkan orang, membuat musik yang baik, yang membebaskan banyak orang,” tegas Lizzo yang mengampanyekan cara pandang positif pada tubuh.

Masa lalu

Lizzo  lahir dengan nama Melissa Viviane Jefferson di Detroit, AS tahun 1988. Sejak kecil ia telah menekuni musik, namun ia tidak pernah berpikir akan menjadi penyanyi solo. Ia lebih memilih bergabung dengan kelompok paduan suara gereja. Ia merasa kemampuan terbaiknya justru bermain flute. Lizzo kecil yang kutu buku dan senang berfantasi, menganggap dirinya ditakdirkan sebagai pemain flute.

Ketika berusia 14 tahun, ia membentuk grup musik Cornrow Clique bersama temannya dan tampil di beberapa tempat. Saat itulah ia mulai kurang percaya diri dengan tubuhnya. “Saya selalu berpikir dia (teman satu bandnya) lebih spesial karena dia lebih langsing dari saya, dan pacar-pacarnya menyukainya.”

Ketika mesti melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ia memilih  belajar musik di University of Houston agar suatu ketika mimpinya sebagai pemain flute profesional terwujud. Nyatanya, ia drop out saat usianya 20 tahun. Ia pun merasa bersalah  kepada ayahnya yang mendukung dia mati-matian untuk menjadi pemain flute,

Lizzo kemudian bergabung dengan band rock progresif Ellypseas yang menaikkan level kemampuannya bernyanyi. Namun krisis kepercayaan dirinya akibat warna kulit dan tubuhnya yang besar, terus menghantui. Untuk mengatasi rasa percaya diri yang rendah, ia menenggak secawan wiski setiap kali tampil ke atas panggung. Itu  membuat penampilannya energik dan disukai penonton. Tapi ia sendiri tidak suka dan berusaha menyembunyikan bandnya dari teman-temannya.

Setelah ayahnya meninggal pada 2009, setahun kemudian Lizzo  keluar dari Ellyseas dan ikut temannya merantau ke Minneapolis untuk meniti karier bermusik. Di sana ia membentuk band Chalice dan segera menjadi selebriti lokal. Penampilannya juga disukai  Prince sebelum bintang pop itu meninggal.

Belakangan ia mulai menyanyi solo dengan lagu-lagu yang menggugat diskriminasi. Tahun 2018 ketika namanya mulai dikenal dan jadwal turnya padat, Lizzo mengalami depresi dan masalah emosi lantaran tercerabut dari teman-temannya. Ia harus mengikuti terapi untuk mengatasi serangan emosi yang bisa datang tiba-tiba.

Setelah melalui masa-masa krisis kepercayaan diri dan depresi, pada 2019 Lizzo baru mencuat sebagai bintang pop yang terang benderang. Usianya sudah 31 tahun. Ia merilis album Cuz I Love You yang disukai banyak orang. Ia memasukkan lagu lamanya “Truth Hurts” dan  “Good As Hell” untuk album versi deluxe dan super deluxe.

Jika dibandingkan bintang baru lainnya, Lizzo termasuk yang harus bersusah payah untuk mencapai posisi ini. Ia melewati banyak penderitaan, rasa benci pada diri sendiri, masalah emosi, dan patah hati. Semua rasa sakit itu, ujar Lizzo, ia terima sebagai bagian dari pengalaman manusia. “Saya  berusaha menggunakan rasa sakit dengan konstruktif,” ujarnya.

Sumber: Kompas edisi 29 Januari 2020 di halaman 12 dengan judul “Lizzo, Melawan Lewat Lagu”.

Author photo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *