Firda Marsya Kurnia, Suara Perempuan Metal

Dibesarkan di lingkungan yang sangat konservatif, Marsya punya banyak sekali keresahan. Ia ingin didengarkan. Maka, dalam grup musik Voice of Baceprot, suara Marsya melawan dengan cadasnya.

Oleh Moh. Hilmi Faiq

Firda Kurnia (24) alias Marsya adalah vokalis sekaligus pemain gitar dari band metal Voice of Baceprot (VoB). Sudah 11 tahun ini, ia aktif menyuarakan berbagai keresahan dalam ranah sosial dan politiknya melalui band VoB. Itu semua dibalut dalam musik beraliran keras.

Selain Marsya, VoB juga dimotori oleh dua wanita lain, yakni Widi Rahmawati (pemain bas) dan Euis Siti Aisyah (penabuh drum). Trio wanita metal ini sudah mengarungi panggung-panggung internasional, mulai dari Eropa sampai Amerika. Paling anyarnya, mereka telah tampil di festival musik Glastonbury di Somerset, Inggris, tahun 2024.

Lagu-lagu VoB banyak menyuarakan perlawanan terhadap stereotip dan memperjuangkan kesetaraan. Seperti lagu ”God, Allow Me (Please) to Play Music” yang bercerita mengenai sulitnya VoB sebagai grup musik perempuan berhijab untuk memainkan musik metal. Mereka kerap dicap sebagai perempuan yang ”tidak benar”, lantang, dan nakal.

Marsya dibesarkan di sebuah desa kecil di Singajaya, Garut. Ia mengaku musik metal masih sangatlah tabu dan tidak sesuai dengan nilai budaya setempat. Musik mereka dinilai berisik. Kata baceprot dalam nama band juga diambil dari bahasa Sunda yang berarti berisik.

”Dulu, tuh, kami berharap dukungan utama datang dari mereka, dari tanah kelahiran kami, tapi ternyata enggak. Ada rasa kecewa dari situ, tapi sekarang udah enggak,” jelas Marsya saat ditemui pada Jumat (25/4/2025).

Marsya pertama kali mengenal dunia musik saat masih bersekolah di madrasah tsanawiyah. Kala itu, ia dan sejumlah murid lainnya dipaksa untuk mengikuti ekstrakurikuler teater. Mulanya karena terpaksa, tapi lama-lama jadi suka.

Tidak seperti anak lainnya yang lebih tertarik untuk bermain peran, Marsya lebih terkesima dengan bagaimana musik dapat mengubah suasana dalam teater. Menurut dia, musik memiliki kekuatan untuk menggugah hati.

Dari situlah, ia mulai mengulik berbagai jenis musik. Mulanya dari musik-musik pengiring teater, sampai akhirnya pada band-band metal kenamaan dunia. Ia sangat menyukai System of a Down, grup musik heavy metal asal Armenia-Amerika. Kalau di belantika musik lokal, ia mengidolakan Seringai dan Gigi.

Lewati gunung

Perjalanan Marsya dalam bermusik tidak mudah. Selain melawan stigma sosial, ia juga dihadapkan pada keterbatasan akses dan fasilitas. Untuk latihan di studio saja, Marsya harus melewati jalan pegunungan selama dua jam.

Untungnya, perjuangan Marsya tidak sendirian. Selain ditemani Widi dan Euis, Marsya juga memiliki satu figur pengayom yang dipanggilnya Abah Erza. Abah adalah guru konseling Marsya di sekolah. Ia mengajari personel VoB cara bermain gitar, bas, dan drum.

Melalui dana pribadinya, Abah mulai mencicil alat-alat musik bermerek. Ia juga membangun studio kecil di dalam rumahnya, membuat dinding-dinding agar kedap suara. Semua agar VoB dapat bersuara lantang. Terkadang suaranya masih bocor, ada saja tetangga yang komplain.

Selang beberapa waktu, Marsya dan teman-teman memberanikan diri untuk tampil di depan umum. Semua pentas dan perlombaan hanya diadakan di pusat kota. Untuk itu, mereka harus menempuh perjalanan dengan menumpang mobil bak yang lewat. Sesekali harus berjejalan dengan berbagai sayur yang ikut diangkut.

Marsya tidak ingin generasi penerusnya mendapati nasib yang sama. Sejak setahun lalu, ia mendirikan sebuah sanggar seni bernama Ruang Riung Baceprot di kampung halamannya. Marsya membuat ruang agar anak muda dapat bebas berekspresi, mengeksplor kesenian apa pun yang disuka. ”Kami ingin membangun anak-anak muda di sana,” ujarnya.

Suara politik

Di tahun 2025 ini, Marsya dan VoB akan memulai gebrakan baru. Mereka akan lebih banyak membuat lagu yang lebih dekat kaitannya dengan Indonesia, baik dari kondisi sosial maupun politik. Gebrakan ini dimulai dengan rilisan terbaru mereka berjudul ”Put the Gun Down”.

Ide dari lagu ini muncul saat Marsya menerima pesan dari penggemarnya di media sosial. Penggemar itu bercerita, salah seorang keluarganya mendapat tindakan represif saat melakukan aksi unjuk rasa. Kenyataan akan masih banyaknya tindak kekerasan itu memantik kemarahan Marsya.

Lagu ”Put the Gun Down” menjadi pernyataan sikap Marsya akan tingginya tindak kekerasan. Lagu ini dirilis di akhir April 2025 dan akan menjadi bagian dari album kedua VoB. Album itu akan penuh membahas hal-hal berbau politik.

”Kami benar-benar ngerasa kalau hidup itu terdampak banget dengan situasi politik sekarang. Dari situ jadi penuh kesadaran, ini saatnya kita ngomongin yang lebih Indonesia. Kami juga semakin cemas dengan masa depan kita dan generasi setelah kita,” terangnya.

Marsya memastikan album kedua VoB ini akan banyak terpengaruh oleh kesenian musik Sunda. Di sejumlah lagu, misalnya, ia akan menggunakan tangga nada pentatonik sebagai melodi dasar. Ia juga ingin menggunakan berbagai alat musik tradisional Sunda di dalam lagunya.

Marsya menyadari, meski sudah berkeliling dunia, VoB belum pernah menggelar konser tur di Indonesia. Mulai saat ini, ia ingin suaranya dapat lebih berpengaruh dan lantang di negara asalnya. Ia lalu mengajak para Balaceprot (penggemar VoB) untuk bersiap karena VoB akan menggelar tur di Indonesia.

Meski berasal dari lingkungan yang konservatif, Marsya beserta VoB telah membuktikan kebebasannya dalam berkarya. Marsya melawan semua rasa resahnya. Ia melawan dengan kecadasan. ***

Firda Kurnia

Lahir: 27 Juni 2000, Garut, Jawa Barat

Prestasi:

– 100 Wanita Berpengaruh versi BBC tahun 2024

– Tampil di Festival Glastonbury, Inggris, tahun 2024

– RETAS (tur VoB di Amerika tahun 2023)

– Fight Dream Believe (tur VoB di Eropa tahun 2021)

– Mighty Island (tur VoB di Asia-Australia tahun 2024)

Sumber: Kliping Kompas edisi 30 April 2024.