Muhammad Jafar Khoerudin, Mengubah Sampah Organik Bernilai Ekonomi

Muhammad Jafar Khoerudin terinspirasi mengatasi masalah sampah organik di Boyolali sepulang magang dari Jepang pada 2017. Berbekal ilmu pangan dan modal Rp 100 juta, ia membudidayakan larva lalat tentara hitam (maggot) untuk mengolah sampah sayur pasar. Teknologi ini mempercepat pengolahan sampah sekaligus menghasilkan pupuk dan pakan ternak murah. Meski sempat ditolak warga dan minim dukungan pemerintah, usahanya berkembang sejak 2018. Kini, BSF Boyolali memproduksi hingga 100 kg maggot per hari, membantu petani dan peternak menghemat biaya pakan. Jafar bermimpi setiap desa memiliki instalasi maggot untuk mengelola sampah mandiri.

*****

Pulang dari program magang di Jepang pada 2017, Muhammad Jafar Khoerudin (27) terinspirasi untuk menyelesaikan masalah klasik soal sampah di kampung halamannya di Boyolali, Jawa Tengah. Kini, tak hanya masalah sampah teratasi, dia juga membawa dampak ekonomi yang besar bagi sekitarnya.

Jafar yang berlatar belakang S-1 Ilmu dan Teknologi Pangan dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, ini pun mencoba menggali informasi terkait penanggulangan masalah sampah organik. Dari jurnal ilmiah yang ditelusurinya, dia menemukan teknologi konversi sampah organik dengan memanfaatkan lalat tentara hitam (black soldier fly/BSF).

Jafar pun menyadari, dengan membudidayakan larva BSF, atau lebih dikenal sebagai maggot, dia tak hanya akan mengatasi masalah sampah organik.  Masalah pupuk pertanian dan pakan ternak, yang selama ini membebani petani dan peternak,  dapat teratasi dengan budidaya makhluk yang berbentuk mirip belatung ini. Secara otodidak, Jafar mempelajari budidaya magot dan mulai usaha dengan modal Rp 100 juta yang ia dapat dari  hasil magang di Jepang.

”Di Jepang sebenarnya aku belajar tentang mikroba, lebih ke arah jamur. Aku kepikiran tentang Jepang yang tidak ada sampah. Pas mau mencari ide usaha, aku terpikir apa usaha yang bisa menyelesaikan banyak masalah di desaku. Aku ketemu soal sampah organik yang tidak bisa tertangani secara baik,” ujar Jafar yang dihubungi di Semarang, Jumat (5/3/2021).

Saat musim hujan, Jafar mengamati sampah sayur di Pasar Boyolali dan Pasar Sunggingan dekat rumahnya yang  menimbulkan bau tidak sedap. Bau busuk dari sampah sisa sayur panen itu dikeluhkan oleh para pedagang, termasuk orangtua Jafar yang berjualan di pasar. Namun, penanganan sampah organik oleh dinas lingkungan hidup setempat tidak optimal. Ada pembuatan kompos, tetapi makan waktu sekitar sebulan sehingga sampah selalu menggunung.

Jafar menemukan pengolahan sampah jadi kompos dengan maggot lebih cepat. Di sisi lain, sampah organik ini dapat menghasilkan maggot yang jadi sumber protein untuk peternakan unggas dan ikan. Dengan maggot, pengeluaran pakan untuk unggas dan ikan, khususnya lele, bisa dihemat sampai 40 persen.

”Karena banyak persoalan yang bisa selesai dari budidaya maggot, aku semangat sekali.  Saat itu belum banyak yang membudidayakan maggot. Aku belajar sendiri. Aku beli BSF dari hasil riset laboratorium di Jawa Timur,” kata Jafar.

Ia memulai dengan kandang pembudidayaan maggot di lahan 100 meter persegi. Budidaya maggot memanfaatkan sampah sayur dari pasar di sekitar rumahnya untuk makanan maggot. Di tahap budidaya pertama, produksi maggot tak semudah dugaan Jafar. ”Pas produksi pertama tidak lancar, masih bau, dan diprotes warga,” ujarnya sambil tertawa.

Selama proses percobaan, Jafar menelan saja omongan pedas sejumlah warga yang mempertanyakan tindakannya karena dari kandang timbul bau tidak sedap. Namun, dia tetap yakin budidaya maggot yang dijalaninya bisa jadi solusi masalah sampah organik dan masalah pertanian/peternakan yang dihadapi banyak warga Boyolali.

Untuk menjalankan usahanya, Jafar menggandeng 10 sarjana  yang mau merintis sebagai wirausaha muda.  Tak sampai lima bulan, sembilan orang keluar karena usaha belum menghasilkan. Budidaya maggot baru mulai menghasilkan di tahun 2018.

Pada 2018, Jafar mendapat undangan dari Universitas Hokaido, Jepang, untuk memberi presentasi soal mengatasi bencana dunia. Dia melihat kesempatan ini untuk mempresentasikan program maggot-nya. Untuk itulah, dia mulai mendekati pihak birokrasi di kecamatan dan dinas terkait di pemerintah setempat untuk mendapat dukungan agar berangkat ke Jepang. Waktu itu, dia membutuhkan  dukungan dana sekitar Rp 7 juta.

Namun, usahanya sia-sia. ”Waktu itu upaya saya memanfaatkan maggot untuk mengatasi berbagai masalah di Boyolali tidak dianggap. Mungkin, dipikir mereka, kok, gitu aja bisa diundang ke Jepang. Akhirnya, aku membobol tabungan untuk bisa berangkat,” kata Jafar.

Jafar mendapat kesempatan presentasi bersama perwakilan dari 24 negara lain di Universitas Hokaido, Jepang. Tak hanya mendapat perhatian, dia bahkan keluar sebagai salah satu pemenang.

Dia membawa studi kasus dari Indonesia, yakni masyarakat masih suka membuang sampah sembarangan, makanan jarang habis, dan timbunan sampah makin banyak. Jumlah penduduk Indonesia yang makin meningkat  juga berbanding lurus dengan total sampah yang  dihasilkan.  Dia menawarkan solusi dengan budiaya maggot untuk mengatasi bencana sampah.

Mulai dilirik

Sepulang dari Jepang kedua kalinya, Jafar tak ambil pusing lagi untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah setempat. Dia terus berjalan sendiri sampai budidaya maggot-nya berhasil.

Dari skala bisnis, usaha BSF Boyolali terus berkembang, bahkan bisa menghasilkan 100 kilogram maggot per hari dan 2-3 kilogram olahan maggot kering per hari.  Testimoni dari pengguna maggot untuk budidaya lele dan pupuk organik juga bagus.

Peternak lele yang memakai maggot sebagai pakan mengaku panen lebih cepat, dari 3 bulan jadi hanya 2,5 bulan. Dari segi  biaya pakan bisa hemat 30-40 persen. Peternak ayam merasakan manfaat pakan maggot yang membuat daya tahan tubuh ayam meningkat, jarang sakit, serta lebih aktif.

Bagi penggemar burung berkicau semisai murai,  hasil telur bertambah dari 2 bisa jadi 3 butir. Ada juga ikan koi dan arwana yang diakui lebih cepat tumbuh besar dibandingkan saat diberi pakan pelet, dan warna ikan koi lebih cepat keluar.

Akhirnya, ada investor di Boyolali yang mengajak kerja sama untuk mewujudkan pertanian holistik atau integrated farming, pupuk organik dan pakan maggot. ”Akhirnya, banyak permintaan dari petani dan peternak sehingga kami kewalahan.  Ini mulai dilihat investor. Jadi banyak yang datang untuk belajar,” kata Jafar.

Di tahun 2021 ini, Jafar akan meluncurkan aplikasi untuk membuat pelatihan dan potensi maggot semakin dikenal. Indonesia potensial karena  sumber daya pakan maggot, yakni  sampah organik, melimpah dan iklim cocok.

Pemanfaatan maggot juga terus berkembang hingga penerapan pada industri sebagai alternatif senyawa tambahan untuk industri obat-obatan dan bahan pakan ternak.  Namun, untuk ke tahap itu, Indonesia masih mempunyai banyak pekerjaan rumah. Pembudidaya maggot belum solid untuk bisa memenuhi kebutuhan industri yang mulai besar.

”Mimpi saya,  sociopreneur dan pebisnis maggot bisa bersatu, tidak melulu soal bersaing. Saya juga bermimpi tiap desa ada instalasi maggot sehingga sampah dari warga akan dikelola sendiri,” kata Jafar.

Sumber:

Author photo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *