Muhammad Ali, Menjaga Irama Batanghari Sembilan

Muhammad Ali, atau Ali Goik, menciptakan lagu Incang-Incang Berambak (2019) yang menyuarakan pelestarian lingkungan dan irama batanghari sembilan, tradisi tutur Sumatera Selatan. Irama ini awalnya dari bunyi alam, berkembang menjadi musik tradisional, kini bisa dimainkan dengan gitar dan alat modern. Tertarik sejak 2007, Ali mempelajari irama ini agar tak punah, menciptakan lagu-lagu baru bertema sosial, budaya, dan lingkungan. Ia merangkul generasi muda melalui komunitas Rejang Pesirah, menggabungkan musik modern dengan tradisi. Ali juga mengajarkan masyarakat agar budaya ini hidup terus, memastikan irama batanghari sembilan tetap lestari seperti sembilan anak Sungai Musi.

*****

Incang-incang pelanduk  (Incang-incang kancil)

Pelanduk pucuk rebo (kancil di atas rumah)

Malam-malam tak tiduk (malam-malam tidak tidur)

Mikirin purun kito (memikirkan purun kita)

Itu adalah penggalan lirik dari lagu berjudul “Incang-Incang Berambak” yang Muhammad Ali ciptakan pada 2019. Lagu itu menggambarkan upaya masyarakat Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir dalam menjaga kawasan gambut dari ancaman kebakaran dan alih fungsi lahan. Nyanyian itu kian memukau diiringi petikan gitar berirama batanghari sembilan.

Tidak hanya menyisipkan pesan untuk melestarikan lingkungan, Muhammad Ali, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Ali Goik, ini,  memiliki misi untuk melestarikan tradisi tutur Sumatera bagian selatan yakni irama batanghari sembilan.

Sesuai namanya, irama batanghari sembilan berkembang di daerah yang dialiri sembilan anak Sungai Musi yang tersebar di wilayah Sumatera bagian selatan. Untuk di Sumsel, irama ini antara lain berkembang di daerah Besemah  (Pagar Alam, Lahat, Empat Lawang, Muara Enim), Komering, dan di dataran rendah seperti Musi Banyuasin, Banyuasin, bahkan menjalar hingga ke Palembang.

“Tradisi tutur ini berkembang dari hasil kehidupan masyarakatnya bahkan diduga sudah tercipta pada masa prasejarah,” kata Ali. Bedanya, di masa itu pesan yang terkandung lebih mengarah pada tatanan kehidupan dan pesan moral dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketika agama Islam masuk ke daerah tersebut, pesan yang dikandung berubah mengarah ke pujian kepada Tuhan dan nabi. Kini, pesan dalam lagu berirama batanghari sembilan juga  mengarah tentang  bujang-gadis yang sedang dimabuk asmara.

Perubahan juga terjadi dari sisi alat musiknya. Pada masa prasejarah, irama batanghari sembilan muncul dari bunyi hentakan batu dan percikan air sungai. Kemudian berkembang menjadi beragam alat musik tradisional seperti serdam, ginggung, gong, dan gambus.

Kini irama batanghari sembilan juga dimainkan dengan alat musik modern seperti gitar, biola, dan akordeon. “Sekarang banyak seniman memainkan musik ini dengan gitar tunggal dengan penyetelan senar gitar yang berbeda dari biasanya,” ucap Ali.

Alat musik petik ini harus diutak-atik sedemikian rupa agar bisa memunculkan irama yang sesuai. “Tali enam bernada lebih tinggi dari normalnya,” kata Ali sembari mengatur tuner untuk menyesuaikan bunyi senar gitarnya  sebelum melantunkan sebuah lagu.

Kagum dan khawatir

Ketertarikan Ali pada irama batanghari sembilan berawal pada 2007. Ketika itu ia melihat seniman tunanetra Palembang, Sahilin, melantunkan irama serupa dengan sangat indah. Ia kagum sekaligus khawatir dengan irama batanghari sembilan. Pasalnya, jarang sekali ada seniman saat ini yang mampu dan mau memainkan irama itu. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka musik ini suatu saat akan punah.

Hatinya kian gundah ketika menyaksikan Festival Sriwijaya yang malah menampilkan kebudayaan dari daerah luar dibanding budaya asli Sumsel. “Sumsel kaya akan seni, kenapa budaya lain yang ditampilkan,” ucapnya dengan nada kesal.

Sejak itulah, Ali memutuskan untuk mempelajari irama batanghari sembilan dan mengembangkannya. “Saking seriusnya, saya tidak mendengarkan irama jenis lain selama tiga tahun setelahnya,” tutur Ali.

Keseriusannya itu membuat Ali berinovasi dengan menciptakan sembilan lagu sendiri dengan iringan irama batanghari sembilan. Inovasi yang dimaksud adalah menciptakan lirik  yang tidak melulu pantun, namun tetap mempertahankan kekhasan melayu dengan irama mendayu.

Beberapa lagu bertema sosial budaya juga ia ciptakan seperti “Tamtam Duku”, “Lungguh Kojaman”, dan “Kenceran”. Lagu “Tamtam Duku” bercerita tentang tradisi permainan anak yang mulai hilang, “Lungguh Kojaman” bercerita tentang tradisi gotong royong, sedangkan  “Kenceran” berkisah tentang tradisi perlombaan kapal bidar. Lagu-lagu tersebut  ia kemas dalam album berjudul Pesan Damai Simbur Cahaya.

Ali juga menciptakan lagu yang menyisipkan pesan cinta lingkungan seperti “Incang-Incang Berambak” dan “Pasir Hitam Sungai Sembilang”. Inspirasi datang  kala ia bertualang ke sejumlah daerah dan kemudian merasakan keresahan masyarakat.

Selain berkesenian, Ali juga aktif  menjalankan akativitas yang berhubungan dengan lingkungan. Salah satunya adalah mendampingi Suku Anak Dalam yang tersebar di beberapa daerah di Sumsel.

Dalam waktu dekat dia akan merilis sebuah lagu dengan irama batanghari sembilan berjudul “Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II” yang menggambarkan perjuangan sang pahlawan nasional dalam memperjuangkan kemerdekaan. Lagu ini dia dedikasikan untuk memperingati 200 tahun SMB II dalam pengasingan.

Merangkul milenial

Sampai kapan tradisi tutur ini bertahan? Pertanyaan ini muncul di benaknya. Ketika raga kian tua sudah saatnya untuk mewariskan ini kepada yang muda. Ali menyadari banyak anak muda kini menganggap irama batanghari sembilan sudah kuno dan tidak dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Anggapan inilah yang melecut Ali untuk segera merangkul para kaum muda untuk berkarya mempertahankan irama batanghari sembilan. Salah satunya dengan membentuk komunitas Rejang Pesirah, sebuah komunitas seni yang di dalamnya berkumpul para pemuda yang peduli kelestarian tradisi tutur.

Tidak hanya merangkul kaum milenial dengan membentuk komunitas, dia juga menciptakan lagu dengan iringan alat musik modern. “Tujuannya untuk membuktikan pada kaum muda bahwa irama ini cocok dipadukan dengan beragam jenis musik dan alat musik,” kata dia

Sekitar tahun 2018, Ali berkesempatan bertemu dengan gitaris I Wayan Balawan dan berduet dengannya.  Saat itu, Balawan sempat heran mendapati  gitar yang dimainkan Ali berbeda. “Ini merupakan salah satu cara untuk menggaet anak muda agar tertarik memainkan irama ini,” ucapnya.

Dalam perjalanan di beberapa tempat dia juga mengajari kelompok masyarakat untuk melestarikan irama ini dengan mengaitkan dengan kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Ini sudah dilakukan di Sungsang dan Sungai Sembilang. “Sekarang sudah ada beberapa anak muda yang mau memainkan irama ini untuk tembang penyambutan,” ujar Ali.

Misi lainnya adalah memperjuangkan irama batanghari sembilan tidak hanya dimainkan oleh seniman tua tetapi juga dikenalkan kepada generasi muda melalui muatan lokal di semua lembaga pendidikan di Sumatera Selatan.

Seperti sembilan anak Sungai Musi yang terus mengalir memberikan kesuburan bagi daerah yang dialirinya, kiranya alunan irama batanghari sembilan pun tetap mengalir deras di hati sanubari para penikmatnya.

Sumber: Kompas edisi 22 Maret 2021 di halaman 16 dengan judul “Irama Batanghari Sembilan”.

Author photo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *