Safrudin Tonu, Daur Ulang Ekonomi Tenun NTT

Safrudin Tonu menyulap kain tenun NTT yang menumpuk tak terjual menjadi kopiah, topi, tas, dan jas melalui Rumah Kreatif Hulnani di Kupang. Dengan satu mesin jahit, ia mengerjakan semua tahap produksi sendiri. Produk Safrudin diminati pasar lokal dan perantau NTT di seluruh Indonesia. Ia membeli kain tenun lama dari Alor, Sikka, dan Sumba agar pengrajin tetap mendapat penghasilan. Sejak pindah ke Kupang pada 2016, puluhan ribu produk telah terjual. Kopiah dan topi dijual Rp 100.000–150.000, tas Rp 125.000. Usaha ini mempopulerkan kain tenun NTT sekaligus menggerakkan ekonomi pengrajin lokal.

*****

Bermodal satu unit mesin jahit, Safrudin Tonu menyulap  kain tenun berharga mahal  yang  menumpuk tak terjual, menjadi kopiah, topi, dan tas khas Nusa Tenggara Timur. Dengan begitu, roda ekonomi para pengrajin kain tenun  di sekitarnya bisa kembali  bergerak.

Desing suara mesin jahit Safrudin Tonu nyaris tenggelam oleh suara kendaraan yang lalu lalang di Jalan Timor Raya Kota Kupang,    Sabtu (16/1/2021). Siang itu, Safrudin sibuk menjahit aneka macam kopiah, aneka macam  topi,  tas pinggang, dan jas berbahan kain tenun khas NTT di “Rumah Kreatif Hulnani” miliknya yang tampak sederhana.

“Saya harus menyelesaikan pesanan 100 topi dari Maumere dari kain tenun  khas Sikka,” ujarnya. Selain itu, ada pesanan lain dari Alor sebanyak 150 topi, dan Labuan Bajo sebanyak 300 topi dan tas pinggang yang masih menunggu antrean untuk dikerjakan.

Kecepatan Safrudin memenuhi permintaan pasar memang masih terbatas. Betapa tidak, ia hanya memiliki satu mesin jahit yang ia gunakan untuk aneka keperluan mulai menjahit, membordir, sampai mengobras. Selain itu, ia masih mengerjakan semua tahapan produksi seorang diri. Malam ia mempelajari pola, mengukur dan menggunting pola, siang ia menjahit, mengobras, dan membordir.

Topi, kopiah, dan produk berbahan kain tenun buatan Safrudin sedang digemari pasar. Pesanan  datang dari Pemkab Alor,  Kupang, dan Rote Ndao, serta para pedagang cenderamata di Kota Kupang. Bahkan permintaan datang dari perantau  asal NTT yang ada di  Kalimatan, Papua, Sulawesi, Jawa, dan Sumatera.  Pesanan yang datang ratusan, tetapi Safrudin hanya bisa memenuhi puluhan saja.

Safrudin Tonu, tidak menumpuk hasil karyanya di tempat usahanya itu. Barang yang diproduksi adalah hasil pesanan sehingga begitu selesai dikerjakan, langsung dikirim atau diambil segera mungkin.

Untuk meningkatkan produksi, Safrudin berencana  bekerja sama dengan perwakilan desa-desa pengrajin tenun di NTT. Sejauh ini, ia baru menyerap bahan baku berupa kain tenun halus buatan pengrajin yang tidak laku. Dengan begitu, roda perekonomian perajin tenun tidak mandek, terlebih di masa pandemi seperti sekarang.

Nasib kain tenun

Safrudin yang sebelumnya bekerja sebagai guru honorer dan guru tenaga sukarela selama 20 tahun di salah satu SMP di Flores Timur, prihatin melihat nasib kain tenun buatan warga di Desa Hulnani, Kabupaten Alor menumpuk tak terjual. Akibatnya, pengrajin tak mendapat penghasilan. Hal yang sama, menurut Safrudin, juga terjadi di desa-desa lain di NTT.

Kain tenun  buatan warga umumnya dibuat dengan susah payah dalam waktu lama sehingga harganya relatif mahal dan makin tak terjangkau masyarakat kebanyakan. Warga umumnya membeli kain-kain seperti itu untuk keperluan adat dan mas kawin.

Safrudin mencoba mencari jalan keluar agar kain tenun  buatan warga bisa diubah menjadi produk yang cocok untuk keperluan sehari-hari dan harganya lebih murah. Pasalnya satu lembar kain bisa ia buat banyak produk.

“Suatu hari saya memandang kopiah ayah yang terpajang di dinding bambu rumah. Kopiah itu sudah sobek. Muncul pemikiran, mengapa saya tidak membuat kopiah dari tenun ikat saja,” ujarnya.

Ia kemudian “membedah” kopiah usang itu  dan mempelajari polanya. Ia mencari kain tenun bekas dan mulai membuat kopiah. Setelah tiga kali gagal, akhirnya ia berhasil membuat kopiah. Kopiah itu sangat disukai ayahnya, Ali Tonu (74). Sang ayah lalu mendorong Safrudin untuk membuat kopiah lainnya.

Safrudin pun mulai serius membuat kopiah berbahan kain tenun. Dengan modal mesin jahit pinjaman dan dua  dua lembar kain tenun seharga Rp 1 juta yang ia beli dari ayahnya, Safrudin memulai misi menyulap kain tenun jadi aneka produk.

Kopiah, topi, dan aneka produk mode berbahan kain tenun buatan Safrudin diterima pasar terutama sejak ia ikut pameran pembangunan 17 Agustus 2015 di Alor.

Setahun kemudian, Safrudin memilih pindah dari Alor ke Kupang agar usahanya lebih mudah berkembang. Dibantu Dinas Industri dan Perdagangan Provinsi, Safrudin mendapatkan lokasi usaha di sebuah rumah sederhana  di Pohon Duri, Jalan Timor Raya. Ia memberi nama usahanya    “Rumah Kreatif Hulnani”. Hulnani diambil dari nama desa  asal Safrudin di Alor.

Membantu pengrajin

Pilihannya untuk pindah ke Kupang terbilang tepat. Di kota ini usahanya berkembang. Perlahan tapi pasti, permintaan kopiah, topi dari berbagai jenis, dan tas pinggang terus berdatangan.

Sejak 2016, ia telah menjual puluhan ribu kopiah, topi, dan tas pinggang berbahan kain tenun lama ke   konsumen di NTT dan daerah lain di Indonesia. Kopiah dan topi ia jual dengan harga Rp 100.000-Rp 150.000 per buah. Tas pinggang dijual dengan harga Rp 125.000 per buah.

Seiring dengan itu, rezeki untuk pengrajin kain tenun pun ikut mengalir. Safrudin menceritakan, setiap bulan ia  mendapat kain berusia 5-10 tahun dari sejumlah kelompok tenun ikat di sejumlah desa. Kain-kain itu sebelumnya  menumpuk di  rumah-rumah pengrajin kain karena tidak terjual.

Safrudin memilih kain tenun berukuran lebar 10-50 cm  dengan panjang 50-100 cm. Kain ukuran ini memang jarang diminati konsumen wastra. Ia biasanya memesan 50 sampai  100 lembar kain dengan harga antara puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Hampir semua kain di NTT memiliki motif yang  menarik bagi konsumen. Namun, untuk saat ini Safrudin banyak menyerap kain tenun dari Alor,  Sikka, dan  Sumba. Alasannya motif kain dari tiga daerah ini sangat cocok untuk hiasan kepala.

“Ada  sekitar 5.000 lembar kain yang telah saya  beli, tetapi belum semuanya diproses menjadi kopiah atau tas pinggang. Ini untuk membantu para pengrajin,” ujarnya.

Safrudin berpendapat, usaha ini bisa menggerakkan ekonomi pengrajin sekaligus mempopulerkan kopiah dan topi berbahan kain tenun NTT ke penjuru Nusantara.

Sumber:  Kompas edisi 29 Januari 2021 di halaman 16 dengan judul “Safrudin Tonu, Daur Ulang Ekonomi Tenun NTT”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *