Kusni Sulang, Pengingat Nilai Budaya Dayak

Kusni Sulang (80), penulis dan pemikir budaya Dayak, mendedikasikan hidupnya mengenalkan kembali nilai-nilai budaya dari desa ke desa di Kalimantan Tengah. Ia tinggal bersama masyarakat, mengikuti prinsip “tiga sama” (kerja-makan-tidur bersama), mengajarkan keterampilan tradisional, sejarah, dan hak masyarakat menurut undang-undang. Kusni juga menginisiasi sekolah budaya dan desa adat partisipatif. Ia menekankan bahwa melestarikan budaya adalah tanggung jawab individu dan komunitas, bukan sekadar pemerintah. Pada 2020, ia menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia kategori Maestro Seni Tradisi, meski menolak sebutan “pemelihara adat” karena budaya bersifat dinamis dan berkembang.

*****

Nama Kusni Sulang (80) mungkin tidak asing bagi pembaca buku-buku budaya, khususnya soal Dayak. Ia memang dikenal sebagai penulis, penyair, dan banyak lagi. Namun pemikirannya yang besar menuntunnya untuk jalan dari desa ke desa mengenalkan kembali budaya Dayak.

Langit kembali abu-abu pada Minggu (20/12/2020) siang, Kusni Sulang mengangkati jemurannya dari pagar agar tidak basah. Sandal, sepatu pun dimasukkan ke dalam rumah.

Di dalam rumahnya, di mana-mana ada buku, kucing, dan bunga. Sederhana namun indah. Begitulah Kusni dikenal, sebagai sosok yang sederhana. Ia selalu menenteng tas tangan, mengenakan baju kaos berkerah dan celana kain panjang.

Seumur hidupnya dicurahkan untuk menulis dan berkarya tentang banyak hal, termasuk budaya. Namun, beberapa tahun terakhir, ia habiskan waktunya untuk jalan dari desa ke desa mengenalkan kembali sekolah budaya Dayak.

“Saya tidak mengajarkan mereka (masyarakat adat), karena saya juga belajar dari mereka. Saya hanya mengembalikan ingatan mereka soal nilai-nilai budaya,” ungkap Kusni.

Setidaknya ada lima desa di Kecamatan Manuhing Raya, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, yang ia kunjungi. Ia tinggal di sana selama setahun lebih. Dengan begitu, hubungan emosional dirinya dengan masyarakat di desa terbentuk.

Jalan dan tinggal dari desa ke desa itu bukan blusukan ala pejabat, bukan pula naik kuda sambil melihat bunga. Ia blusukan untuk menyatu dengan kehidupan masyarakat. Tinggal di satu rumah, lalu pindah ke rumah yang lain. Makan dari beras yang sama, bersenda-gurau, berdialog, bahkan bekerja bersama. Ia memegang prinsip “tiga sama” ketika bergaul dengan masyarakat desa, yakni kerja-makan-tidur bersama. Ia menganggap mereka guru sekaligus teman.

Hubungan emosional yang dibangun bertujuan untuk mengingatan kembali nilai-nilai budaya dalam setiap ritual atau tradisi Dayak yang dijalankan di desa-desa. Ia mencontohkan, tradisi manetek pantan (memotong kayu), yakni tradisi yang  dijalankan ketika tamu datang ke sebuah kampung. Belakangan tradisi ini juga dipakai dalam seremoni untuk menyambut tamu-tamu pejabat yang datang ke Kalteng.

“Dalam tradisi itu seharusnya ada dialog di dalamnya usai memotong kayu, harus ada yang bertanya kepada si tamu apa tujuannya datang kemari bukan sekadar menerima tamu. Saat ini, di desa-desa itu sudah dijalankan,” kata Kusni.

Selain bicara soal nilai budaya, Kusni menginisiasi sekolah budaya, mengembangkan keterampilan seperti membuat mandau atau parang khas Dayak, anyaman rotan dengan berbagai pola Dayak, dan membuat patung. “Banyak orang Dayak yang terjebak kegiatan ilegal seperti tambang emas ilegal maupun pembalakan liar. Itu terjadi karena mereka terdesak dan terpaksa, maka perlu dibuka matanya agar inisiatif itu muncul,” tambah Kusni.

Kusni juga mengenalkan sejarah Dayak. Ia sudah menulis begitu banyak buku dan artikel tentang itu. Tak hanya mengenalkan pemikirannya, ia juga mengenalkan pemikiran lain yang menurutnya relevan dengan sejarah Dayak.

Yang paling penting, Kusni tinggal dari satu tumah ke rumah yang lain untuk menjelaskan hak-hak masyarakat di dalam undang-undang atau peraturan pemerintah lainnya. Salah satu yang paling digemarinya adalah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. “Masyarakat di sana bahkan lebih paham dari pada anggota DPR soal undang-undang itu. Itu penting karena selama ini masyarakat ditakut-takuti soal aturan,” ungkapnya.

Kusni percaya, menjaga menjaga budaya bukan hanya pekerjaan pemerintah, tapi juga pekerjaan lembaga lain, organisasi, dan individu-individu. Bersama BIT, Kusni  menginisiasi desa adat, meskipun belum sah secara administrasi kenegaraan. Sudah ada lima desa yang direkomendasikan untuk dijadikan desa adat. Mereka memulainya dengan melakukan pemetaan partisipatif, mengenal batas-batas desa, hingga mengenalkan lagi konsep desa adat Dayak.

Selain itu beragam diskusi dilakukan hingga akhirnya masyarakat sendiri yang mengambil keputusan apakah ingin dijadikan desa adat atau tidak. Hal itu dilakukan dengan menggunakan referendum desa adat, dari lima desa di Kecamatan Manuhing Raya, Kabupaten Gunung Mas, tiga desa menyatakan setuju menjadi desa adat atas kesadarannya sendiri. Sedangkan dua lainnya tidak setuju.

“Kami berharap pemerintah bisa lebih responsif mengesahkan kebijakan masyarakat adat dari pusat hingga ke daerah,” ungkap Kusni.

Penghargaan kebudayaan

Pada tahun 2020, Kusni Sulang menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia kategori Maestro Seni Tradisi bidang Pemelihara Adat Dayak. Baginya, penghargaan dalam kategori manapun dalam anugerah itu tidak mampu mencakup bidang kegiatannya apalagi disebut pemelihara adat. Ia menolak sebutan itu. “Adat itu dinamis, berkembang. Tidak statis, baik dalam bentuk maupun isi,” ujarnya.

Menurut Kusni, orang Dayak wajib menjaga dan mengawal nilai-nilai budaya. Itu merupakan ‘kutukan’. Seperti kutukan Eros (dewa cinta) pada Ahasveroz (sang pengembara) dalam sajak Chairil Anwar yang berjudul Tidak Sepadan. Sebuah tanggung jawab yang dalam kondisi apapun harus dijalankan.

Kusni menggambarkan tanggung jawab melestarikan dan menjaga budaya, dalam setiap etnik apapun di Indonesia, seperti dirumuskan dalam sastra lisan Dayak Katingan rengan tingang nyanak jata yang artinya anak enggang putera-puteri naga.

“Visi-misi hidup manusia Dayak adalah membuat bumi, tanah air, kampung halaman menjadi tempat yang layak bagi kehidupan manusiawi,” ungkapnya.

Ia berharap caranya menjaga dan mengawal kebudayaan Dayak bisa menumbuhkan politik etnis yang mengedepankan konsep minoritas kreatif. Caranya dengan menumbuhkan desentralisasi kebudayaan beserta nilai-nilai budayanya.

“Berdiri di atas tanah Dayak, atau Flores atau etnis manapun itu penting, karena menjadi anak Dayak, anak Indonesia, dan anak manusia tidak bertentangan. Etnis dalam bangsa adalah pembatasan untuk kemanusiaan yang tunggal,” ungkap Kusni.

Sumber: Kompas.id, Kusni Sulang Pengingat Nilai Budaya Dayak, 24 Des 2020 04:38 WIB 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *