
Ipung, Gerakan Sablon Tangerang Selatan
Purwo Sasmito, atau Ipung, mendirikan Republik Sablon di Tangerang Selatan untuk menyebarkan kultur kaus dan keterampilan sablon kepada anak muda. Ia mengajarkan teknik sablon, manajemen bisnis, dan ekspresi kreatif secara gratis, menekankan kaus sebagai medium gerakan dan ekspresi diri. Ia juga membentuk komunitas Koloni Tangsel, menghubungkan pemilik usaha sablon untuk kolaborasi, workshop, dan peningkatan kualitas produk. Ipung menekankan etika, menolak desain berisi ujaran kebencian atau provokatif. Kaos bagi Ipung lebih dari pakaian; simbol kebebasan, medium ekspresi sosial dan politik. Sejak 2013, Republik Sablon menjadi “virus” budaya kaus di kalangan muda.
*****
Lewat Republik Sablon, Purwo Sasmito menularkan kultur kaus ke banyak anak muda. Laki-laki yang akrab disapa Ipung itu membagikan pengetahuan dan keterampilan teknis sablon sekaligus menebar ”ideologi” kaus sebagai medium untuk berbicara.
Bengkel kerja Republik Sablon tersembunyi di belakang deretan toko di Jalan Cireundeu Raya, Tangerang Selatan, Banten. Bengkel berupa rumah sederhana itu hanya memiliki satu akses masuk, yakni sebuah gang sempit sepanjang 10-an meter. Suasana agak gelap dan lembab lantaran cahaya matahari tak leluasa masuk.
Di depan bengkel, ada beranda sempit dengan hiasan spanduk yang mencolok mata. Di spanduk tersebut tertulis Republik Sablon dan Speak Up. Beranda ini lebih menebarkan aroma gerakan daripada usaha kaus. Di belakang beranda, ada tiga ruangan besar. Salah satunya berisi alat-alat sablon dan contoh-contoh kaus hasil sablon yang ditata berjejer di dinding.
Ipung biasa menerima tamu, berdiskusi, atau membagikan pengetahuannya tentang usaha sablon dan kultur kaus di beranda itu. Ia mengatakan, biasanya ada saja anak muda yang datang ke Republik Sablon untuk belajar sablon atau magang kerja. Mereka terdiri dari pelajar, mahasiswa, pengamen, anak jalanan, anak punk, hingga anak pesantren.
”Saya ajari mereka mulai hal-hal teknis sablon, menghitung harga dasar, manajemen bisnis, sampai mengatur keuangan. Harapannya, keluar dari sini, mereka bisa bekerja atau merintis usaha sendiri,” kata Ipung saat ditemui, Senin (28/9/2020).
Ipung tidak ingat berapa banyak anak muda yang pernah belajar kepadanya dalam 5-6 tahun terakhir ini. Yang jelas, di antara mereka ada tiga mahasiswa dan seorang pengamen yang kini sudah memiliki usaha sendiri. Selain itu, ada beberapa pekerja usaha sablon yang kini membangun usaha mandiri.
”Saya senang jika ada yang bisa usaha sendiri. Kami enggak perlu berkompetisi, tetapi berkolaborasi,” tambah Ipung.
Ipung memberikan pengetahuannya secara gratis seperti ketika ia mendapatkannya dulu. ”Saya belajar sablon secara gratis. Jadi, saya merasa mesti membagikan pengetahuan itu secara gratis pula,” ujarnya.
Ia belajar teknis sablon dari Pay yang membuka usaha sablon di sekitar kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta di Ciputat. ”Dia telaten mengajari saya dan anak-anak muda lainnya tanpa khawatir (kami) akan menjadi pesaingnya kelak,” kenang Ipung.
Sosok Pay ternyata menginspirasi Ipung untuk melakukan hal serupa. Bahkan, ia ingin melangkah lebih jauh. Ia tidak hanya mengajarkan teknis sablon, tetapi juga menanamkan pemahaman bahwa aktivitas yang mereka geluti adalah sebuah gerakan. Bisnis sablon menjadi medium gerakan ekonomi kreatif, sementara produknya adalah medium untuk mengekspresikan pendapat.
”Banyak ’anak sablon’ sekarang sudah berpikir sampai situ. Mereka tidak mau sekadar jadi tukang sablon, tetapi bagian dari movement,” ujar Ipung yang mengaku banyak belajar dari gerakan komunitas sablon di Jawa Timur.
Dari sisi bisnis, Ipung mencoba mewujudkan sebagian ide gerakannya dengan membentuk komunitas Koloni Tangsel yang anggotanya terdiri dari pemilik dan pekerja usaha sablon dan konfeksi pada 2017. Saat ini, ada 15 usaha yang bergabung dengan Koloni, masing-masing mempekerjakan 3-4 orang.
Koloni menjadi tempat para pemilik usaha sablon dan pekerjanya untuk mendiskusikan upaya peningkatan standar kualitas produk, kemungkinan kolaborasi, kesejahteraan pekerja sablon, hingga persoalan-persoalan usaha sablon. Untuk kepentingan eksternal, Koloni membentuk laboratorium sablon yang rajin menggelar aneka acara seperti workshop sablon di sejumlah komunitas, kampus, hingga karang taruna di lokasi bencana.
Terkait produk, mereka memandang kaus dan desain sablon bukan sekadar pakaian, melainkan juga sebagai medium untuk mengekspresikan diri, merekam momen kehidupan, berpendapat, meneguhkan identitas, dan lain-lain. Ipung menceritakan ia selalu mengurasi desain kaus milik klien yang akan disablon.
”Kalau isinya mengandung hate speech, mengolok-olok kelompok lain, atau rasis, saya akan tolak. Bahkan, kalau ada Milanisti (pendukung AC Milan), misalnya, bikin kaus yang meledek klub lain atau sebaliknya, saya juga enggak mau mengerjakan meski risikonya kehilangan klien,” tegasnya.
Teater
Ketika kuliah di UIN Jakarta sejak 2001, Ipung aktif dalam organisasi massa kepelajaran dan teater Altar. Lewat ormas dan teater, ia mendapatkan medium untuk mengekspresikan diri. Selanjutnya, ia menemukan medium ekspresi lain, yakni kaus dan sablon.
Buat Ipung, kaus bukan sekadar pakaian, melainkan simbol kebebasan dari penyeragaman. Kaus juga bisa menjadi medium masyarakat untuk mencatat banyak momen, mulai momen personal sampai momen sosial dan politik.
Selama enam tahun terakhir, Ipung sibuk mengedukasi anak muda Tangerang Selatan tentang kultur kaus. Melayani mereka yang ingin mengekspresikan diri dengan desain buatan mereka sendiri. Baru belakangan Ipung membuat desain sendiri untuk mengekspresikan pandangannya tentang karut-marut praktik politik dan hukum di Indonesia.
Salah satu desain yang ia cetak di atas kaus bernada sindiran tajam atas penanganan kasus Novel Baswedan. Desain itu berupa wajah Novel dengan latar depan tulisan ”Terserempet, Tertabrak, Tersiram, Terencana”.
Ipung mulai merintis Republik Sablon pada 2013. Ia mengaku telanjur jatuh cinta pada kaus sehingga sukar berpaling ke bidang lain. Ipung secara sadar memperlakukan Republik Sablon bukan sekadar sebagai usaha, melainkan ”tunggangan” untuk memperluas kultur kaus di kalangan anak muda.
”Meski dengan cara ini saya enggak akan cepat kaya, tetapi setidaknya usaha saya ada gunanya buat orang lain,” katanya.
Sumber: Kompas edisi 16 Oktober 2020 di halaman 16 dengan judul “Purwo ”Ipung” Sasmito, Virus Kaus Tangsel”.
Leave a Reply