Surya Sahetapy, Pemandangan Balkon

Surya Sahetapy, penyandang tuli dan pegiat disabilitas, tetap mengkampanyekan kesetaraan bagi komunitas Tuli meski kuliah di AS. Pada 27 Juni 2020, ia menjadi moderator webinar Komunitas Handai Tuli tentang juru bahasa isyarat. Surya juga bekerja sebagai asisten peneliti mengkaji kesehatan orang tuli dan aktif menyebarkan perspektif setara tuli-dengar. Ia memperoleh beasiswa Sasakawa-DeCaro dan meraih D3 cum laude, kini melanjutkan S1 di Rochester Institute of Technology, New York. Selama pandemi, kuliah dan pekerjaan dilakukan virtual dari kos di pedesaan Rochester, sambil menikmati pemandangan hijau dari balkon.

*****

Menjalani hari-hari kuliah di Amerika Serikat, Pegiat disabilitas yang juga penyandang tuli, Surya Sahetapy tetap terus mengkampanyekan kesetaraan terutama bagi orang-orang tuli. Jarak panjang yang membentang antara Indonesia dan AS tak menyurutkan langkahnya untuk terus terlibat dalam kegiatan komunitas tuli.

Seperti pada Sabtu (27/6/2020) pagi, Surya menjadi moderator webinar yang digelar Komunitas Handai Tuli bertajuk “Bagaimana Cara Menjadi Juru Bahasa Isyarat Tuli dan Dengar?” Surya memandu perbincangan⁣ yang mendatangkan pembicara para juru bahasa isyarat demi mendukung masa depan komunitas Tuli di dunia dengar.

Di AS, Surya pun terlibat aktif dalam kajian tentang orang tuli. Selain kuliah, ia bekerja di kampus sebagai asisten peneliti yang bekerja mengkaji data tentang kesehatan orang tuli di Amerika. “Ingin terus menyebarkan agar perspektif tuli dan dengar setara. Ini nggak boleh ditinggalkan,” kata Surya saat dihubungi Kamis (9 /7).

Mengantongi beasiswa Sasakawa-DeCaro Endowed Scholarship Fund dari Pemerintah Jepang, Surya sudah merampungkan kuliah setara D3 dengan predikat cum laude di Jurusan Associate of Science in Applied Arts pada tahun lalu, namun ia kemudian melanjutkan pendidikan S1 Bachelor of Science in International-Global Studies di Rochester Instituteof Technology New York.

Akibat pandemi, perayaan wisuda D3 yang seharusnya dilaksanakan pada pertengahan Mei lalu pun urung dilaksanakan. Ia hanya sempat berfoto memakai toga dan topinya. “Jauh-jauh kuliah disini tapi tidak bisa wisuda tetapi tidak apa-apa, masih ada kesempatan wisuda tahun depan, semoga,” ujar Surya.

Tinggal di wilayah pedesaan di Rochester, New York, kegiatan hariannya selama masa pandemi pun lebih banyak dilakukan dari kamar kos. Pekerjaan mengkaji data maupun kuliah juga dilakukan secara virtual dari kamar kos. Jika bosan, Surya biasanya akan menghirup udara segar dari balkon kamarnya.

Dari foto-foto yang ditunjukkannya, pemandangan hamparan hijau rumput memang bisa menjadi penyejuk di kala suntuk. Karena tinggal di pedesaan, ia pun terbebas dari dampak gelombang unjuk rasa yang sempat melanda Amerika. “Biasa saya ke balkon menikmati pemandangan dan dua minggu sekali keluar untuk belanja,” tambahnya.

Sumber: Kompas.id, Surya Sahetapy Pemandangan Balkon, 11 Jul 2020 05:00 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *