
Didik Iswandi, Wayang Kulit Gagrak Porong untuk Semua Kalangan
Wayang kulit gagrak Porongtelah lama menguasai hajatan rakyat namun kurang diterima oleh elite birokrat. Oleh karena itulah, Didik Iswandi berupaya mengangkat martabat kesenian yang menjadi bagian dari gaya wayang jawa timuran ini agar bisaditerima oleh semua kalangan tanpa memandang status sosial.
Dalang Ki Didik Iswandi bersantai bersama keluarga di rumahnya, Desa Candipari, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Kamis (7/3/2024) sore. Beberapa hari sebelumnya, aktivitasnya dalang wayang gagrak Porong ini cukup padat karena banyak permintaan pentas dari sejumlah desa di Sidoarjo.
Pementasan wayang kulit gaya Porongan ini terkait erat dengan acara bersih desa atau ruwatan. Sebagian besar pemerintah desa di Kota Delta, julukan Sidoarjo karena berada di delta Sungai Brantas, masih mempertahankan tradisi ruwat untuk membersihkan energi negatif dan memperbarui keselarasan dengan alam. Juga sebagai wujud syukur atas limpahan rezeki yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Menurut Didik,wayang kulit menjadi salah satu pertunjukan untuk ritual acara bersih desa, selain hiburan rakyat. Di Sidoarjo, kesenian wayang kulit sudah ada sejak ratusan tahun silam, karena daerah penyangga Surabaya ini pernah menjadi pusat peradaban pada masa kerajaan.
Hal itu diperkuat dengan fakta, bahwa literatur tulis pertama tentang wayang ditemukan di Sidoarjo yakni pada Prasasti Kuti atau Gandhakuti (840 Masehi). Prasasti yang ditemukan di Dusun Joho, Desa Keboananom, Kecamatan Gedangan, ini dikeluarkan oleh Sri Maharaja Sri Lokapala atau Rakai Kayuwangi, penguasa Kerajaan Medang. Prasasti ini menjadi bukti tertua yang menyebut kata dalang (haringgit-bahasa Kawi).
Wayang gagrak Porong termasuk kiblat wayang khas Jawa Timur. Wujudnya berbeda dengan wayang kulit gaya Jawa Tengah (Mataraman). Mulai dari susunan acara, irama musik, pengucapan, hingga ekspresi dalangnya. Nuansa wayangnya lebih dinamis dengan dominasi permainan kendang. Warna cerah mendominasi dan memiliki aspek mistis yang lebih kuat.
Seiring berjalannya waktu, wayang gagrak Porong justru kalah terkenal dibandingkan wayang gaya Yogyakarta dan Solo. Selain kalah dalam hal promosi, wayang Porongan juga kalah pamor karena identik dengan keseniannya rakyat yang berkembang pada masyarakat pesisir. Sedangkan wayang Jawa Tengah lebih identik dengan kalangan priyayi dan elite birokrasi.
Kurangnya pengetahuan panitia tentang wayang Porongan. Selain itu, dalangnya masih kalah pamor dengan wayang Mataraman.
Di tempat asalnya, Sidoarjo, wayang gagrak Porong jarang dipentaskan di Pendopo Delta Wibawa, pendopo pemerintah daerah. Setidaknya dalam kurun satu dekade belakangan, wayang ini absen pada acara Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo yang rutin dirayakan setiap tahun. Padahal pagelaran wayang kulit menjadi ritual wajib saat ulang tahun Sidoarjo.
“Memang tidak ada alasan resmi.Namun, dari informasi yang beredar, kami menyimpulkan karena kurangnya pengetahuan panitia tentang wayang Porongan. Selain itu, dalangnya masih kalah pamor dengan wayang Mataraman,” ujar Didik.
Kondisi itu memantik keprihatinan Didik dan para dalang wayang Jawa Timur-an lainnya. Diakhawatir keberlangsungan wayang Porongan yang digelutinya sejak 1984, akan terancam apabila tidak bisa diterima oleh semua kalangan. Alih-alih pentas di daerah lain, di rumahnya sendiri tidak dihargai.
Bersama para seniman wayang, Didik yang juga anggota Komite Seni Tradisi Dewan Kesenian Sidoarjo ini memintaPemerintah Kabupaten Sidoarjo agar memberikan kesempatan kepada wayang gagrak Porong. Permintaan itu tidak sepenuhnya dikabulkan. Namun, sudah ada itikad baik dari pemda melaluiSurat Edaran Bupati Sidoarjo Nomor 100.3/1056/448.1.1.3/2024.
Surat tertanggal 21 Januari 2024 itu berisi imbauan kepada camat dan kepaladesa/lurah seluruh Sidoarjo agar dalam kegiatan bersih desa/ruwat menampilkan budaya lokal termasuk wayang Porongan. Kebijakan itu disambut antusias oleh para dalang yang menggeluti wayang gagrak Porong.
Didik mengatakan pementasan pada hajatan pemerintah desa hingga pemerintah kabupaten menjadi momentum mendongkrak martabat atau pamor wayang Porongan. Dia ingin wayang Porongan diapresiasi sebagai bagian dari kekayaan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat di Bumi Jenggala, julukan Sidoarjo.
Dalang wayang kulit juga dituntut mengikuti perkembangan teknologi dan penyebaran informasi.
Saat bersamaan, Didik terus berupaya menyebarluaskan wayang gagrak Porong agar semakin dikenal di seluruh nusantara bahkan mancanegara. Juga menyosialisasikan kepada generasi masa kini agar mereka tergugah untuk menjaga keberlangsungan wayang kulit hingga masa nanti.
“Kalau bukan anak-anak kita, siapa lagi yang akan meneruskan warisan budaya yang sarat nilai-nilai kehidupan ini. Bagaimana membuat anak-anak tertarik, itulah tantangannya,” ucap Didik.
Salah satu strategi merangkul generasi muda ditempuh dengan mempromosikan wayang gagrak Porong melalui media sosial, terutama kanal Youtube. Setiap pentas wayang, Didik akan merekam pementasan tersebut dan menayangkannya agar bisa ditonton banyak orang dari berbagai usia. Dia bahkan memiliki tim khusus untuk menangani konten-konten di media sosial.
”Dalang wayang kulit juga dituntut mengikuti perkembangan teknologi dan penyebaran informasi. Kalau saya, jujur tidak mampu. Karena itulah saya berkolaborasi dengan orang yang menguasai bidang tersebut,” kata Didik yang ingin fokus pada pementasan lakon wayang saat manggung.
Dia menambahkan, tantangan lain yang juga tidak mudah saat ini adalah menyebarluaskan tentang nilai-nilai filosofi dalam wayang kulit Porongan. Sebab, menurut dia, wayang tidak hanya sarana hiburan, tetapi juga wadah menyampaikan pesan moral dan etika. Karakter-karakter wayang mengajarkan nilai kebajikan, keadilan, perjuangan, juga persatuan.
Didik mengaku terus membuka diri terhadap upaya pemajuan wayang kulit, terutama gaya Porongan. Caranya, antara lain, membuka ruang-ruang untuk berdiskusi dengan sesama seniman, serta masyarakat umum terutama generasi masa kini termasuk pada pelajar dan mahasiswa yang menimba ilmu ke rumahnya.
Sebagai dalang masa kini, Didik dituntut terus menggali lakon-lakon yang relevan dengan isu-isu terbaru agar lebih mudah melakukan pendekatan pada generasi muda. Jangan sampai anak-anak muda justru menjauhi wayang karena para senimannya tidak mengenalkan sejak dini.
Gerakan tangan dalang Sujiwo Tejo saat menampilkan pergelaran wayang kulit di Rest Area Nusantara IKN, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur, Sabtu (30/12/2023).
Di sisi lain, dalang juga dituntut membuka ruang untuk berkolaborasi dengan kesenian tradisional lainnya, seperti campursari. Didik menilai, seniman harus bisa membaca selera pasar agar bisa terus diterima oleh penggemarnya. Selain itu, dalang tidak boleh bersikap ”kaku”, tetapi tetap berpegang teguh pada pakem atau rumus aturan main agar tidak melenceng dari gagrak wayangnya.
Di pengujung perjumpaan sore itu, Didik bangga karena wayang telah mendapat pengakuan dunia melalui UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization) sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Menurut dia, kebanggaan itu harus diimplementasikan dengan terus mempromosikan, melestarikan, dan menghormati keberagaman wayang, termasuk gaya Jawa Timuran.
Menurut Didik, seni tidak pernah membatasi diri pada penggemarnya. Siapa pun bisa menikmati seni dan memberikan apresiasi yang tinggi tanpa terhalang oleh status sosial, pangkat, ataupun jabatan. Kuncinya terletak dan kemauan untuk membuka diri dan ruang diskusi demi menemukan jalan menuju kemajuan peradaban.
Profil Didik Iswandi
Lahir: Sidoarjo, 18 April 1964
Pendidikan: Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Sidoarjo
Pekerjaan: Dalang Wayang Gagrak Porong
——-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi di halaman 16 dengan judul “Wayang Porong untuk Semua”.