Retno Wahyuningsih, Mimpi Besar Peneliti Penyakit Jamur

Retno Wahyuningsih (68) mengabdikan 30 tahun sebagai peneliti mikologi dengan mimpi membangun koleksi jamur besar di Indonesia. Di FKUI, ia meneliti penyakit jamur, mengembangkan laboratorium dan koleksi kultur, serta berkolaborasi dengan ahli internasional. Meski sempat tergoda riset malaria, ia tetap fokus pada jamur atas dorongan gurunya, almarhumah Siti Dumilah. Retno meneliti infeksi jamur pada pasien HIV/AIDS dan penyakit kulit, menciptakan metode cepat untuk diagnosis histoplasmosis dan kriptokokosis. Kolaborasinya dengan Profesor David Denning meningkatkan penanganan TBC terkait jamur. Ia optimistis riset mikologi Indonesia bisa menghasilkan diagnostik dan obat sesuai kondisi lokal.

*****

Retno Wahyuningsih (68) punya mimpi besar sebagai peneliti ilmu penyakit jamur. Ia membayangkan suatu ketika Indonesia bisa memiliki koleksi jamur dalam jumlah besar yang jadi sumber devisa negara. Mimpi besar itu yang membuat ia bersiteguh 30 tahun menjadi peneliti mikologi di tengah dana riset yang mepet.

Ruang kerja Retno  dipercantik oleh sejumlah lukisan berukuran besar di Departemen Parasitologi, FKUI, di Jakarta, pertengahan Februari 2020. Di ruangan itulah, Retno mengembangkan ide-ide untuk  riset terkait penyakit jamur. Dia berkolaborasi dengan ahli dari luar negeri dalam penelitian hingga menghasilkan publikasi internasional yang memberi sumbangsih bagi dunia untuk memahami beban penyakit jamur bagi suatu negara.

Di sebelah kantornya ada ruang laboratorium biologi molekuler mikologi untuk melakukan riset bersama para mahasiswa bimbingannya. Ada juga ruangan khusus untuk menyimpan koleksi kultur isolat jamur hasil riset selama ini yang berguna bagi pengembangan riset lebih lanjut. Mimpinya kelak, ruangan koleksi di UI ini bisa bekembang seperti di Amerika dan Belanda yang punya koleksi jamur begitu besar dan jadi sumber devisa negara.

Peneliti yang pernah mengukuti program postdoctoral di Belanda itu juga memimpikan suatu ketika ada pusat penelitian jamur yang bisa melakukan banyak hal mulai hingga membangun industri. “Untuk mengembangkan industri ini perlu fondasi riset ilmu dasar yang kuat,” ujar Retno, Februari lalu.

Tergoda

Sebelum bergabung sebagai dosen dan peneliti di FKUI, Retno adalah dosen pegawai negeri sipil yang ditempatkan di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia FK UKI. Di FK UKI, ia mengajar sejak 1979 hingga meraih gelar guru besar di sana. Seiring waktu, ia lebih banyak berkiprah dalam riset terkait ilmu penyakit jamur di FKUI. Kepakarannya dalam ilmu jamur atau mikologi membuat UI mengukuhkan Retno menjadi adjunct professor atau profesor tidak tetap pada tahun 2014.

Retno mengaku sempat “tergoda” untuk mendalami riset tentang penyakit malaria yang pendanaannya relatif mudah didapat karena didukung oleh pemerintah. Namun, salah seorang dosen di FKUI mengingatkan dia untuk fokus pada riset terkait jamur.

“Ada dosen saya di FKUI yang tahu rencana saya untuk ikut riset malaria. Saya dimarahi dan diingatkan lagi pesan guru saya almarhumah Siti Dumilah. Dia bilang ‘Mbak Retno tahu, yang mengerjakan malaria sudah banyak, tapi jamur enggak ditangani. Kalau ninggalin jamur gimana, almarhumah Siti Dumilah kan sangat mengharapkan Mbak Retno jadi ahli penyakit jamur’,” cerita Retno

Siti Dumilah adalah dosen yang tekun mendampingi Retno semasa ia kuliah tingkat master dan doktoral di FKUI. Almarhumah Siti memahami seluk-beluk ilmu penyakit jamur dan berharap Retno bisa jadi penerusnya.

Teguran itu menyadarkan Retno untuk tak tergoda pada bidang riset lain. Ia melanjutkan risetnya tentang jamur meski kadang harus menggunakan sebagian gajinya sebagai dosen UKI dan UI untuk mendanai riset tersebut dan membeli alat-alat laboratorium. Ia juga berhenti praktik sebagai dokter di kampus dan di poliklinik salah perusahaan milik negara.

Sejak saat itu, ia total menjadi peneliti jamur. Latar belakangnya sebagai dokter sangat menunjang risetnya karena ia paham seluk-beluk penyakit akibat jamur.

Jamur dan HIV

Dalam perjalanan kariernya, ia meriset kaitan infeksi jamur di kalangan orang dengan HIV/AIDS. Mereka antara lain mengalami infeksi otak hingga infeksi sistemik. “Kami mampu mendiganosis dan mengembangkan satu model koleksi spesiemen yang mudah, yang enggak ada efek samping. Orang dengan AIDS kan gampang terinfeksi. Saya mengembangkan satu metode sederhana yang memudahkan mengoleksi bahan klinik, tetapi hasil yang cepat,” ujar Retno.

Retno juga mendalami penyebab infeksi pada kulit akibat jamur. Ternyata yang penyebab terbanyak adalah histoplasmosis dan kriptokokosis. Dia berpikir keras untuk bisa mengambil sampel dengan mudah. Jamur histoplasma hidup di dalam leukosit.

“Dalam pikiran saya, bagaimanapun harus dapat komponen darah untuk membuka dianogsis. Kurang dari satu jam kalau ada jamur sudah bisa menegakkan diagnosis. Kita enggak usah menunggu kultur yang bisa sampai sebulan, sedangkan histoplasma 3-4 minggu, dan kriptokokus seminggu. Jadi bisa segera memberi pengobatan,” jelasnya.

Sejak 2016 hingga sekarang, Retno berkolaborasi dengan Profesor David Denning dari Universitas Manchester Inggris untuk kolaborasi riset bertajuk Meningkatkan Kualitas Diagnosis Tuberkulosis: Pengembangan Diagnosis Serologi Aspergillosis Kronis dan Histoplasmosis Kronis di Indonesia.

Dalam riset yang didanai Newton Fund, kerja sama Pemerintah Inggris-Indonesia itu, peneliti Inggris mengerjakan dianostik apsergillosis karena di sana banyak kasus. Namun, histoplasmosis dikerjakan peneliti Indonesia seluruhnya.

Riset yang dilakukan Retno bersama ahli lainnya akan mengubah manajemen penanganan TBC dalam jangka panjang, terutama untuk penyakit yang tidak sembuh atau resisten pada pengobatan yang dipengaruhi infeksi jamur. Dengan tes antibodi yang sederhana dan sinar X-ray di dada dapat didiganosis chronic fungal infection setelah TBC.

Retno mengatakan dari hasil riset terlihat beban jamur di Indonesia cukup tinggi. Penyakit yang dikategorikan TBC misalnya, ternyata ada yang karena jamur. Namun, akibat minimnya pengetahuan soal infeksi jamur, pasien dengan keluhan seperti TBC tetap diobati seperti pasien TBC umumnya. Akibatnya, pasien tidak sembuh dan kebal terhadap obat TBC.

Retno merasa optimistis totalitasnya mendalami mikologi di Indonesia bakal meninggalkan arti penting. Dia menemukan bahwa klad atau kelompok Indonesia berbeda dengan negara lain. Untuk itu, perlu riset yang serius supaya Indonesia dapat membuat kit atau alat tes dan obat yang sesuai dengan kondisi orang Indonesia.

Sumber: Kompas edisi 17 Maret 2020 di halaman 12 dengan judul “Retno Wahyuningsih, Mimpi Besar Peneliti “.