Ujipuddin, Pendamping Orang yang Sakit dan Miskin di Lombok Timur

Ujipuddin (38), warga Lombok Timur, mendedikasikan hidupnya untuk mendampingi anak-anak miskin yang sakit kronis seperti kanker, hidrosefalus, dan jantung bawaan. Sejak 2004, ia membantu lebih dari 300 penderita, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan di Bali dan Jakarta. Selain mendampingi, ia juga mencarikan donatur dan membiayai transportasi jika perlu. Kini menjadi sukarelawan Endri’s Foundation, Ujip bekerja tanpa pamrih meski harus membawa beras dari Lombok ke Bali demi menghemat biaya hidup. Ia tetap melayani warga sakit walau menjabat kepala dusun. “Sepanjang yang sakit masih membutuhkan saya,” ujarnya penuh semangat.

*****

Ujipuddin alias Ujip (38) selalu gelisah melihat anak-anak miskin yang jatuh sakit. Ia tergerak membantu dengan memberi pendampingan sejak dari puskesmas sampai ke rumah sakit rujukan di Denpasar. Sering kali pula ia harus pontang-panting mencari donatur untuk membayar ongkos pengobatan dan perawatan.

”Bagaimana tidak gelisah dan prihatin, tiap hari saya lihat anak-anak menderita penyakit yang berat-berat dan kronis. Orangtuanya tidak punya uang, sakit anaknya makin parah,” ucap Ujip, warga Dusun Dasan Montong, Desa Lenek, Kecamatan Lenek, Lombok Timur, sekitar 53 kilometer arah timur Mataram, Nusa Tenggara Barat, Rabu (22/1/2020).

Pantauan Ujip di sejumlah dusun menunjukkan, sakit yang dialami anak usia 2-10 tahun antara lain leukemia, neuroblastoma (kanker saraf yang biasa ditemukan pada anak), sakit jantung bawaan, hidrosefalus, dan bibir sumbing. Selain itu, ada pula katarak, yang penderitanya kebanyakan kalangan dewasa. Anak-anak yang sakit kronis umumnya hanya terbaring tidur di rumah sederhana bersama orangtuanya.

Selama sakit, kata Ujip, biasanya tidak pernah ada tindakan medis dari dokter dan petugas kesehatan terhadap anak. Para orangtua umumnya kurang memiliki informasi, minim akses layanan kesehatan, dan terutama ketiadaan biaya. Kondisi sosial ekonomi warga itu terlihat di Dusun Dasan Montong, dari 290 kepala keluarga (1.060 jiwa), sebagian buruh tani dan menjadi buruh migran ke Malaysia.

Setelah mendapat data penderita, Ujip mendampingi penderita dan pendamping (ibu, bapak, atau keluarga) ke puskesmas, RSUD kabupaten di Selong, ibu kota Lombok Timur, dan RSUD provinsi NTB di Mataram. Apabila tidak tertangani, penderita dirujuk ke RS Sanglah di Denpasar, Bali, dan RS Jantung Harapan Kita di Jakarta.

Sebelum berangkat ke puskesmas atau rumah sakit, Ujip memberikan edukasi dan permakluman kepada penderita dan keluarganya tentang alur pelayanan, mendaftar di loket agar tercatat dalam kunjungan pasien dan menyerahkan KTP, menunggu giliran dipanggil di ruang tunggu dan menuju ruang periksa pelayanan rawat jalan, serta mengambil lalu menukar resep obat di apotek.

Setelah itu selesai dan pukesmas memberikan layanan dengan obat gratis, kadang penderita tidak punya ongkos transportasi pulang. Belum lagi soal saling tunjuk di antara keluarga yang akan mendampingi penderita ke puskesmas atau rumah sakit. Orangtuanya juga kesulitan memberi keputusan apabila penderita harus dirujuk ke luar daerah karena memikirkan biaya dan tempat tinggal selama pengobatan.

Dalam situasi seperti itu, keputusan ada pada Ujip, yang kemudian memilih ibu dan keluarga terdekat selaku pendamping. Untuk itu, Ujip acap kali merogoh kocek sendiri membayar sewa mobil pergi-pulang dari puskesmas atau rumah sakit ke rumah penderita.

Ujip mendapatkan biaya pemeriksaan dan pengobatan penderita dari donatur, kepala dusun, dan kepala desa asal penderita, para pejabat, hingga Bupati Lombok Timur. Upayanya itu tidak sia-sia, bahkan Pemkab Lombok Timur tahun 2016 menyediakan rumah singgah bagi keluarga miskin yang dirujuk ke RSUP Sanglah, Denpasar, Bali. Menjadi inisiator peminjaman gedung dan aula milik Pemkab Lombok Timur untuk kegiatan para volunter adalah tugas tambahannya. Ia bahkan dijuluki ”bupati” oleh rekan sesama volunter di NTB.

Ujip mengatakan, membangun jejaring dengan yayasan dan komunitas juga sangat membantu kelancaran tugasnya. Beberapa yayasan di Bali menyediakan penginapan, keperluan makan-minum, dan transportasi selama penderita menjalani pemeriksaan dan perawatan medis, selain memberi bantuan mobil ambulans yang siaga di Pelabuhan Padangbai dan Bandara Ngurah Rai serta Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, untuk membawa penderita dari Lombok yang dirujuk ke rumah sakit di dua kota itu.

Selama 2004-2020, lebih dari 300 penderita yang ditolongnya. Sebanyak 29 puskesmas di Lombok Timur membuka pintu bagi pasien miskin sakit dampingan Ujip. Namun, tidak semua penderita sembuh, seperti leukemia dan neuoroblastoma, karena penyakitnya sudah parah dan terlambat mendapat perawatan medis.

”Soal hidup dan mati, itu kuasa Allah. Yang jelas kami sudah berusaha membantu agar mereka sembuh. Kami tidak ingin warga miskin meninggal dalam keadaan kesakitan,” kata Ujip yang bekerja sebagai sukerelawan Endri’s Foundation di Mataram sejak 2014 setelah berjuang sendiri selama 10 tahun.

Beras tercecer

Untuk mendapatkan bantuan dan mendata penderita di sejumlah desa, Ujip menyewa ojek atau minta batuan tetangga dan kenalan yang secara sukarela mengantarnya ke tempat tujuan. Terkadang ia menyewa sepeda motor (yang sewanya diambil dari sumbangan donatur) ke Denpasar untuk melengkapi persyaratan administrasi jauh-jauh hari sebelum penderita dirawat di rumah sakit rujukan. Ia baru pulang ke Lombok tatkala penderita selesai menjalani pemeriksaan medis.

Dalam proses pendampingan itu, Ujip terkadang membawa beras dan sayur dari Lombok untuk keperluan makan-minum di Denpasar. Beras dan sayur kangkung dimasukkan dalam karung kapasitas 50 kilogram. Hal itu acap kali mengundang perhatian petugas Pelabuhan Padangbai yang kemudian mempertanyakan barang bawaannya. ”Bapak pelihara sapi, ya,” kata Ujip menirukan pertanyaan petugas.

Pernah pula beras yang dibawanya dengan sepeda motor berceceran di jalan bypass Ida Bagus Mantra, Sanur, Bali, karena karungnya bocor. ”Terpaksa saya berhenti perbaiki karung, mengumpulkan ceceran beras, lalu saya masukkan lagi ke karung,” ungkapnya.

Ujip tidak pernah lelah karena mengurus keluarga miskin yang sakit memberikan energi tersendiri. Setelah menjabat Kepala Dusun Dasan Montong sejak 2016, ia tetap menyisihkan waktu mengurus kaum papa yang sakit. Saat ditemui, Ujip mengunjungi anak kelas V sekolah dasar penderita leukemia. Ia minta rekomendasi dari dokter rumah sakit agar segera diberi rujukan mengingat kondisinya yang parah.

Sampai kapan Ujip mengurus keluarga miskin yang sakit? ”Sepanjang yang sakit masih membutuhkan saya,” katanya.

Sumber: Kompas edisi 30 Januari 2020 di halaman 12 dengan judul “Ujipuddin, Dampingi yang Sakit dan Miskin”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *