
Hermana, “Beribadah” Lewat Seni Longser
Hermana HMT, seniman asal Cimahi kelahiran 11 Oktober 1963, merupakan pendiri kelompok teater rakyat Bandoengmooi yang berdiri sejak 1996. Lulusan Institut Seni Budaya Indonesia ini mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan seni pertunjukan Sunda, khususnya longser. Ia rutin menggelar pelatihan seni gratis dan Kirab Budaya Ngarak Cai sebagai bentuk edukasi lingkungan. Baginya, seni adalah ibadah dan sarana menanamkan nilai kehidupan. Kini, ia tengah membangun pesantren berbasis budaya lokal yang menggabungkan pembelajaran seni dan agama tanpa biaya, sebagai wujud pengabdiannya kepada masyarakat. Hermana dikenal sebagai sosok yang tulus, visioner, dan konsisten berkarya.
*****
Bagi Hermana HMT, seni pertunjukan bukan hanya harus sukses di panggung. Nilai-nilainya penting jadi bekal menjalani kehidupan bersama orang-orang di sekitarnya. Baginya, seni adalah bagian dari ibadah.
Jari jemari Hermana cekatan membuka gagang pintu berbahan kuningan yang rusak. Sesuai dugaannya, fungsi kuncian gagang pintu kantor RW 007 Kecamatan Cimahi Utara, Cimahi, itu macet. Akibatnya ruangan berukuran 3 meter x 7 meter tidak bisa dikunci. Sebenarnya tidak ada barang berharga di ruangan itu. Selain beberapa piring dan sendok garpu, hanya ada televisi yang sudah tidak menyala lagi.
Akan tetapi, bagi Hermana, fungsi ruangan itu jauh lebih besar. Bersama sanggar seni Mayang Arum dan Bandoengmooi, tak jauh dari kantor RW 007, tempat itu menjadi tempat memupuk bakat muda mengapresiasi seni tradisi.
Antara 1 Agustus – 30 Oktober 2019, tempat itu jadi menjadi tempat tinggal 20 siswa SMKN 10 yang melakukan praktik kerja lapangan. Selama tiga bulan, siswa tinggal di sana menyerap ilmu tampil di atas panggung pada Hermana dan personel kelompok seni Bandoengmooi.
Bandoengmooi berdiri di Bandung tahun 1996. Hermana ikut mendirikannya. Kelompok ini getol mempromosikan teater rakyat, termasuk di dalamnya longser. Selain pentas pangggung, ada juga pelatihan seni untuk masyarakat.
Hermana mengatakan, pelatihan itu setidaknya digelar sekali setiap tahunnya sejak Bandoengmooi berdiri. Peserta tidak diminta membayar. Selain beberapa donatur, Hermana dan kawan-kawan membiayainya semuanya sendiri.
“Selain siswa sekolah, kami ajak juga pegawai pabrik hingga pengangguran untuk mengenal tetaer dan sandiwara Sunda dan longser,” katanya.
Saat pelatihan usai, Hermana tak pernah memaksa siswa yang pernah didampinginya jadi pekerja seni. Sekadar jadi penonton yang paham dan suka seni pertunjukan Sunda, sudah jadi berkah tersendiri. Dari sekitar 200 orang yang pernah dilatih, hanya 30 persen yang kini jadi pekerja seni.
“Paling penting adalah nilai-nilai dalam seni pertunjukan. Mereka diharap percaya diri sekaligus peka terhadap orang-orang sekitarnya,” katanya.
Jajang Muhammad (23) adalah salah satu lulusan pelatihan Bandoengmooi tahun tahun 2013. Kini, selain lantas bergabung dengan Bandoengmooi, ia bekerja sebagai office boy di salah satu perusahaan bahan-bahan kimia di Bandung. Dikenal supel, dia kini dipercaya merangkap kerja jadi petugas penagihan. Jajang mengatakan, banyak bekal pentas di panggung berguna diterapkan dalam pekerjaannya.
“Saya lebih percaya diri sekaligus peka ketika bekerja. Seperti observasi dalam teater, pendekatan saat bekerja tak pernah sama untuk setiap orang. Saat menagih, misalnya, saya harus melihat keadaan kalau ingin proses penagihannya lancar. Salah bicara, bisa-bisa tidak cair,” katanya.
Longser
Lahir di keluarga seniman, bakat seni Hermana sejak lama terasah tajam. Saat kecil, setiap ada panggung seni di sekitar rumahnya, dia pasti tampil.
Perlahan, ia menceburkan diri di dunia teater hingga akhirnya jatuh hati pada longser. Longser adalah produk budaya Jabar dari kawasan Bandung Raya. Teater tradisional ini memuat unsur akting, lawakan, musik, nyayian, tari, dan rupa.
Akan tetapi, usaha membesarkan longser tak mudah. Menarik perhatian penonton bukan hal gampang. Ia mencontohkan saat tampil bersama Bandoengmooi di salah satu kawasan wisata di Bandung utara beberapa tahun lalu. Saat itu, mereka tampil di hadapan penonton dari luar kota.
Minim riset, ia dan kawan-kawannya tampil berbahasa Sunda seperti biasanya. Akibatnya, cerita yang disampaikan tidak terserap pengujung. “Nyaris tidak ada yang menonton karena keterbatasan bahasa,” katanya.
Beruntung hal itu cepat disadari. Tak mau hilang muka, Hermana berkreasi. Tampil dekat penjual kelapa, ia membuat pertunjukan membuka kelapa dengan giginya. Tidak hanya itu, bohlam pun dia kunyah. Penonton yang pergi akhirnya datang kembali.
“Dari sana, saya belajar dari pengalaman. Tak hanya matang di cerita dan penampilan di panggung tapi juga harus memahami siapa penontonnya,” katanya.
Perlahan dengan konsep yang semakin matang, Hermana semakin sering pentas. Ia menamakan konsepnya, “sabrehna”. Dalam penggarapan kisah, dia mengambil dari yang ia lihat, pikirkan, dan rasakan tanpa melupakan etika dan estetika sebagai tanggung jawab kepada publik. Beberapa karyanya yang mendapat apresiasi seperti “Kursi-Kursi” adaptasi karya Eugene Ionesco dramawan Perancis kelahiran Rumania dan “End Game” dari Samuel Beckett asal Irlandia.
Akan tetapi, dia juga tidak ingin jauh dari tempatnya berpijak. Tinggal di Cimahi di antara himpitan tembok perumahan mewah, ia rutin menggelar Kirab Budaya Ngarak Cai setiap tahun sejak 2010. Hermana mengatakan, acara ini bagian dari upacara adat prosesi menyatukan air atau sering disebut kawin cai. Tujuannya, membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya air bersih bagi kehidupan.
Salah satu kisah yang dihidupkan adalah legenda munding dongkol, siluman air bertampang kerbau. Kemunculan sosok pemarah itu dulu dijadikan masyarakat sebagai tanda bakal terjadi bencana alam.
“Munding dongkol juga sering saya bawa ke panggung, khususnya untuk tema lingkungan dan bencana alam,” kata dia.
Terakhir, munding dongkol hadir dalam pertunjukan teater rakyat berjudul “Juragan Kumed” di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung, Jumat (8/11/2019). Pemerannya tak lain anak-anak peserta PKL SMKN 10 yang magang di Bandoengmooi selama Agustus-Oktober 2019. Dibuat Hermana, karya ini bercerita tentang kematian tuan tanah serakah ditimbun sampah.
“Mungkin penampilan kami masih jauh dari sempurna. Namun, ini adalah karya tulus setelah berlatih selama tiga bulan terakhir. Kalau tidak percaya, mari kita sangsikan,” kata Hermana berkelakar membuka pertunjukan.
Hermana benar. Penjiwaan para penampil harus terus diasah. Banyolan pun mesti dimatangkan agar bisa makin membuat penonton menebar tawa. Namun, kepercayaan diri mereka patut diapresiasi. Dialog-dialog disampaikan mulus dalam bahasa Sunda dan Indonesia. Musiknya pun hasil karya sendiri.
Tak terasa 1,5 jam kemudian, penampilan itu usai. Tepuk tangan bangga terdengar, ucapan selamat pun disampaikan penonton pada para penampil. Hangat dan bahagia.
Senyum-senyum itu, kata Hermana, membuatnya semakin yakin pada cita-cita yang tengah ia susun. Bersama keluarga besarnya, dia bakal merombak Aula Mayang Arum jadi bangunan bertingkat dua untuk dibangun pesantren berbasis budaya lokal. Akan mulai dibangun tahun 2020, dananya diambil dari iuran keluarga selama belum ada sponsor.
“Sudah ada arsiteknya. Ukuran bakal pesantren juga sudah diukur. Harapannya lantai dua jadi tempat tinggal. Lantai dasar tetap jadi aula tempat berkesenian,” katanya.
Nantinya, Hermana mengatakan, santri tidak akan dipungut biaya. Siapa saja bisa belajar agama dan seni. Ia selalu ingat pesan orang tua bahwa berkesenian itu adalah ibadah, sama-sama harus bermanfaat untuk orang di sekitarnya.
“Harta tidak akan dibawa mati tapi niat dan perbuatan baik akan terus dikenang selamanya,” kata dia.
Hermana HMT
Lahir : Cimahi, 11 Oktober 1963
Pendidikan Terakhir: Sekolah Tinggi Seni Indonesia-sekarang Institut Seni Budaya Indonesia (lulus 2003)
Sumber: Kompas edisi 04 Januari 2020 di halaman 12 dengan judul “Hermana, Beribadah Lewat Seni”.